Faith 2 The Return Of The Prince

Faith 2 The Return Of The Prince
Temani aku



Jangan lupa untuk Vote dan Ratting bintang lima untuk medukung Thor, Terima kasih.


Mendengar perkataan Arthur membuat Zarina semakin menangis, ia benar-benar tak bisa menahan air matanya untuk tak keluar dari kedua mata indahnya. Mendapat perlakuan istimewa dari Arthur membuatnya takut akan kehilangan perlakuan seperti itu di masa yang akan datang, pernah kehilangan sang ibu membuatnya terpuruk selama hampir dua tahun dan ia tak mau mengalami keadaan yang sama dengan Arthur saat ini. Oleh karena itu selama ini Zarina selalu menjaga hatinya agar tidak gampang tersentuh oleh kebaikan orang lain.


"Kalau kau terus menangis maka aku akan membuatmu menangis sampai pagi di ranjang Zarina," ancam Arthur pada Zarina.


"Tuannn....


"Ha ha ha...ya sudah makanya jangan menangis, selera makanku hilang saat melihat seorang wanita menangis," jawab Arthur tanpa rasa bersalah.


"Jahat," desis Zarina kesal sambil menyeka air mata yang membasahi pipinya.


Tanpa bicara Arthur kemudian meraih mangkuk yang berisi suki, ia lalu menyuapi Zarina dengan perlahan. Pada awalnya Zarina menolak akan tetapi Arthur memukul tangannya yang berusaha meraih sendoknya sendiri, alhasil Zarina hanya bisa pasrah di suapi oleh Arthur.


"Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Zarina pelan dengan mulut penuh bakso ikan.


"Hemm..." jawab Arthur singkat.


"Kenapa kau baik sekali padaku, apa kau biasa sebaik ini dengan orang lain tuan?" tanya Zarina polos, ia sama sekali belum menyadari sikap Arthur yang sangat berbeda padanya.


"Tentu saja, aku selalu baik dengan orang miskin sepertimu," jawab Arthur asal bicara.


"Tuan...


"Sudah jangan banyak bicara kau bisa tersedak, aku sangat benci melihat orang makan tersedak karena kebodohannya, jadi lebih baik kau makan dengan baik dan cepat habiskan karena aku juga mau makan aku...


"Nyammm...


Arthur tak bisa menyelesaikan perkataannya karena Zarina menyuapinya dengan bakso ikan yang ada dimangkuknya, rupanya Zarina sudah meraih dan berhasil memangku mangkuk milik Arthur. Alhasil mereka saat ini saling menyuapi satu sama lain, Arthur berdiri sambil menyuapi Zarina sedangkan Zarina duduk dimeja dengan telaten menyuapi Arthur makan.


Sepuluh menit kemudian mangkuk yang ada ditangan Arthur dan Zarina sudah kosong, mereka berdua pun terlihat sudah kenyang. Sudah menjadi sifat alami seorang manusia, jika perut kenyang pasti rasa kantuk akan datang. Begitu pula dengan yang dirasakan oleh Arthur dan Zarina mereka berdua terlihat menguap secara bersamaan, menyadari kekonyolan itu Arthur dan Zarina tertawa bersama.


"Sudah hampir pagi, ayo tidur," ucap Arthur pelan sambil meletakkan mangkuk kosong ke atas meja.


Zarina memekik dengan keras saat ia digendong oleh Arthur, tubuhnya diletakkan Arthur dipundaknya. Alhasil Zarina tak bisa bergerak sama sekali, kaki jenjangnya bisa Arthur liat dengan jelas.


"Tuan...


"Diam, sebentar lagi sampai kamar. Kalau kau bergerak maka kau akan jatuh," ucap Arthur memotong perkataan Zarina dengan cepat, ia berjalan menuju saklar untuk mematikan lampu yang ada diruang tengah apartemennya lalu berjalan menuju kamarnya.


Sesampainya dikamar Arthur menurunkan tubuh Zarina secara perlahan diatas ranjang, jarak keduanya saat ini sangat dekat. Bahkan sampai hidung kedua saling bersentuhan, Zarina yang tak pernah sedekat ini dengan seorang pria langsung panik. Wajahnya memerah dengan cepat, tangannya terlihat menggenggam kaosnya dengan sangat kuat. Melihat hal itu membuat Arthur tertawa, ia lalu berguling ke samping Zarina dan tidur terlentang menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih bersih.


"Aku tak sebejat itu Zarina, aku bukanlah pemerkosa. Kau tak perlu takut," ucap Arthur pelan sambil memejamkan kedua matanya.


"A--aku tak berkata apa-apa tuan," sahut Zarina terbata, ia heran bagaimana Arthur bisa tau apa yang sedang ia pikirkan tadi.


"Melihat sikapmu saja aku tau Zarina, ya sudah ayo tidur hari hampir pagi. Kepalaku juga sudah sangat sakit, besok adalah hari sabtu aku ingin bangun siang. Dan kau harus menemaniku tidur," ucap Arthur kembali sambil menguap.


Zarina hanya diam mendengar perkataan Arthur, ia belum pernah tidur satu ranjang dengan seorang pria manapun. Lima menit kemudian Zarina bergerak berusaha untuk turun dari ranjang, ia berniat tidur di sofa.


"Kalau kau berani menurunkan kakimu maka jangan salahkan aku kalau aku akan mengikatmu diranjang dan melakukan apa saja yang ingin aku lakukan padamu Zarina," ucap Arthur dengan suara keras.


Deg


Zarina langsung membatu, kakinya yang menggantung tak bergerak. Ia langsung menaikkan kakinya kembali dan berbaring di sebelah Arthur dengan cepat, saat akan memejamkan mata Zarina terhenyak saat menyadari ada tangan besar yang melingkar di perutnya.


"Tidurlah...aku perlu teman tidur," bisik Arthur pelan ketelinga Zarina.


🌺To be continued🌺


Jangan lupa Vote dan Ratting bintang lima untuk mendukung Thor, terima kasih kakak-kakak.


Love u kakak-kakak