
Jangan lupa vote dan ratting bintang 5 untuk mendukung Thor
Terima kasih
Sepanjang perjalanan Arthur tak membuka suara sehingga membaut Maxwell bingung, pasalnya tak biasanya Arthur pendiam seperti itu. Sebenarnya ia ingin bertanya namun pertanyaan itu ia simpan sendiri dan membiarkan Arthur konsentrasi menyetir mobilnya menuju ke sebuah komplek apartemen tipe studio yang nampak sederhana yang letaknya 10 blok dari apartemen Arthur yang sekarang.
"Kau mau pindah apartemen?" tanya Maxwell akhirnya tak sabar menutup mulutnya.
"Aku mencari apartemen untuk Zarina, dia harus punya tempat tinggal sendiri," jawab Arthur singkat.
"Lho bukankah dia tinggal di asrama ya," sahut Maxwell singkat.
"Sebentar lagi dia lulus Max, tak mungkin dia tinggal dia asrama terus. Lagipula ia harus punya tempat tinggal sendiri," ucap Arthur datar.
Maxwell menganggukan kepalanya perlahan merespon perkataan Arthur, apa yang dikatakan Arthur ada benarnya juga. Rasanya menjadi Zarina pasti sulit, tinggal seorang diri di negara asing tanpa orangtua atau saudara dan tak memiliki tempat tinggal sendiri. Saat sedang memuji tindakan Arthur tiba-tiba Maxwell dikagetkan Arthur yang secara mendadak menginjak rem mobilnya sehingga membuat Maxwell hampir terjatuh kedepan menunduk dashboard karena tak memakai sabuk pengaman.
"Arthur kau...
"Feelingku tak enak Max, aku merasa akan ada masalah besar yang datang," ucap Arthur dengan suara bergetar memotong perkataan Maxwell.
"Apa maksudmu?" tanya Maxwell dengan cepat, kemarahannya tiba-tiba hilang begitu saja saat mendengar nada suara khawatir dari Arthur.
"Entahlah, aku hanya mengikuti hatiku saja. Perasaanku tak enak beberapa hari terakhir ini, biasanya aku akan bahagia saat menghabiskan waktu bersama Zarina namun empat hari terakhir aku terus uring-uringan dan marah kepadanya. Aku merasa seperti ada hal besar yang akan terjadi," jawab Arthur lirih.
"Dan feelingku tak pernah meleset Max," imbuh Arthur dengan cepat.
Maxwell yang sudah membuka mulutnya langsung menutupnya kembali dengan rapat, ia terdiam dan tak berani menggoda Arthur karena merasa Arthur sedang serius kali ini. Perlahan Maxwell menepuk pundak Arthur untuk memberikan dukungan pada bosnya itu.
"Semuanya akan baik-baik saja, percayalah," ucap Maxwell pelan mencoba untuk menguatkan Arthur.
"Thanks Max," jawab Arthur singkat, sambil berusaha tersenyum.
Tak lama kemudian Arthur kembali menginjak gas mobilnya dan melanjutkan perjalanan menuju ke tempat tujuannya, setelah menempuh dua puluh lima menit perjalanan Arthur akhirnya sampai di sebuah komplek apartemen sederhana. Ia lalu turun dari mobil saat melihat seorang marketing apartemen itu berdiri dan melambaikan tangan ke arah mereka, Maxwell pun ikut turun dari mobil mengekor dibelakang Arthur.
Setelah berkenalan singkat dengan sang marketing apartemen sederhana untuk Zarina, Arthur lalu mengajak Maxwell untuk ikut masuk kedalam apartemen untuk melihat calon apartemen untuk Zarina. Ia ingin meminta pendapat dari Maxwell, pasalnya Arthur tau kalau Maxwell sangat teliti untuk urusan apartemen seperti ini.
"Everything is good, environmental safety is also guaranteed," bisik Maxwell pelan.
*Semuanya baik, keamanan lingkungan juga terjamin.
"Are you sure?" tanya Arthur lirih.
*100%, lihatlah 50 meter dari apartemen ini ada kantor polisi yang cukup besar. Aku yakin penjahat yang akan berbuat jahat di tempat pasti akan berpikir dua kali jika ingin melakukan kejahatannya di sini.
Arthur tersenyum mendengar perkataan Maxwell, ia lalu melihat sekeliling lagi untuk memastikan keamanan apartemen yang akan ia belikan untuk Zarina. Setelah melihat sekeliling selama hampir 30 menit Arthur akhirnya mendekati sang marketing apartemen yang sedang berbicara berdua bersama Maxwell.
"Ok nona saya jadi ambil apartemen di sini, tolong siapkan berkas-berkasnya untuk 2 apartemen tipe studio yang akan saya bayar cash," ucap Arthur pelan sambil mengulurkan tangan ke arah marketing yang ada di hadapannya.
"Cash...dua unit apartemen," sahut sang marketing apartemen mengulangi perkataan Arthur.
"Yes, satu untuk wanitaku dan satu untuk tangan kananku ini nona," jawab Arthur santai sambil mengeluarkan kartu atm-nya yang berisi uang dari sang mommy, Arthur memang membedakan uang pemberian sang daddy dan sang mommy berserta uang jajannya.
"Apa maksudmu Arthur?" tanya Maxwell kaget.
"Kau pindah di sini juga, aku memutuskan untuk membeli apartemen ini untukmu dan Zarina. Jika nanti aku tidak berkunjung kesini ada kau yang akan menggantikan aku mengawasinya," jawab Arthur pelan sambil menyerahkan kartu atm-nya kepada marketing apartemen yang terlihat sangat senang karena berhasil menjual dua unit apartemen sekaligus dalam satu waktu.
"Tapi apartemen lamaku...
"Bukankah apartemen lamamu itu hanya sewa, ya sudah tinggalkan saja lagi pula aku tak terlalu suka dengan tempatnya yang kumuh seperti itu. Kau seharusnya mempunyai tempat tinggal yang lebih nyaman untuk beristirahat, supaya otakmu bisa bekerja dengan baik lagi di masa depan Max," sahut Arthur pelan sambil menepuk pundak Maxwell yang masih terkejut karena diberikan sebuah hunian yang cukup mewah untuknya yang berpenghasilan pas-pasan selama ini.
Maxwell hanya terdiam tanpa berbicara mendengar perkataan Arthur ia masih tak percaya ada orang yang sebaik Arthur, padahal mereka baru kenal beberapa minggu saja.
"Aku tau kau tak akan pernah menghianatiku Max, karena itu aku ingin memberikan yang terbaik untukmu," ucap Arthur lirih sambil berjalan mengikuti sang marketing apartemen untuk mengisi berkas-berkas yang harus ia tandatangani sebagai syarat untuk pembelian 2 unit apartemen tersebut menuju ke lantai satu diruang marketing meninggal Maxwell yang masih berdiri membatu ditempatnya.
Setelah Arthur keluar Maxwell kemudian duduk di ranjang single yang ada di apartemen tempatnya berada saat ini, ia kemudian tersenyum tipis ketika mengingat kembali perkataan terakhir Arthur.
"Kau memang benar-benar orang yang berbeda Arthur, walaupun engkau kadang-kadang terlihat arogan dan menyebalkan namun kau sangat baik. Tenang saja Arthur, sejak aku memutuskan untuk bekerja denganmu aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tetap setia padamu. Dengan atau tanpa kau membelikan aku apartemen seperti ini aku sudah lama menyimpan respect yang besar kepadamu," ucap Maxwell pelan.
Tak lama kemudian Arthur terlihat naik kembali ke lantai 19 di mana Maxwell berada dengan membawa 2 buah amplop yang berisi berkas-berkas tanda kepemilikan 2 unit apartemen untuk Zarina dan untuk Maxwell, ia membayar lunas dua unit apartemen tipe studio itu seharga 3 milyar.
"Kau ada dilantai 20, kamar ini yang akan menjadi kamar Zarina," ucap Arthur pelan sambil memberikan amplop yang berisi surat-surat penting untuk Maxwell.
"Kenapa aku yang simpan?" tanya Maxwell bodoh.
Arthur tersenyum mendengar perkataan Maxwell, ia lalu duduk di kursi yang ada di hadapan Maxwell setelah meletakkan amplop berisi surat-surat penting apartemen milik Zarina.
"Apartemen ini milikmu Maxwell, jadi kau yang menyimpan nya bukan aku," jawab Arthur pelan sambil tersenyum.
🌺 to be continued 🌺