Faith 2 The Return Of The Prince

Faith 2 The Return Of The Prince
Cahaya keluarga



Jangan lupa Vote dan Ratting bintang lima ya kakak-kakak.


Sasa membiarkan anak pertamanya yang sudah beranjak dewasa memeluknya dengan erat, ia masih merasa Arthur adalah bayi kecilnya yang ia lahirkan dua puluh tahun yang lalu. Ia masih belum menerima kalau anaknya kini sudah tumbuh dan berubah menjadi seorang pria dewasa yang tampan persis seperti Archie, kadang-kadang Sasa tak terima kenapa anak yang ia kandung selama tujuh bulan dan lahirkan dengan susah payah tak mirip sedikitpun dengan dirinya.


"Bagaimana hubunganmu dengan  kekasihmu yang cantik itu sayang?" Tanya Sasa pelan sambil merapikan rambut Arthur yang berantakan.


"Kekasih yang mana mom...


"Panggil ibu nak." Ucap Sasa ketus memotong perkataan Arthur sambil mencubit pipi putranya itu dengan gemas.


Arthur hanya meringis pelan di cubit pipinya oleh sang ibu, ia kemudian mengeratkan pelukannya pada sang ibu. Sasa hanya tersenyum diperlakukan seperti itu oleh Arthur, ia tau kalau putranya ingin berbicara hal penting padanya.


"Bicaralah ibu mendengarnya sayang." Ucap Sasa pelan.


Arthur kemudian melepaskan pelukannya pada tubuh sang ibu sehingga membuat ibunya heran, perlahan Arthur duduk di atas ranjang sambil mengambil ponselnya yang ada diatas nakas. Sasa pun akhirnya duduk disamping Arthur dan menatap ke arah ponsel yang sedang dipegang oleh Arthur.


"Ibu tanya kok malah main ponsel si, dasar anak nakal...


"Mulai saat ini Arthur panggil ibu dengan sebutan mommy saja." Ucap Arthur lirih.


"Kenapa? kau malu pada teman-teman kampusmu memanggil ibu dengan sebutan itu?" Tanya Sasa sambil tersenyum, garis-garis halus terlihat di sekitar matanya yang menunjukkan kalau usianya sudah semakin matang.


"Bukan mom, aku ingin memberikan panggilan itu pada bik Rani. Bik Rani sangat bahagia waktu pertama kali aku panggil dengan sebutan ibu, ia mengatakan seperti dipanggil oleh anaknya yang sudah meninggal puluhan tahun yang lalu. Mendengar itu ada rasa sakit di dalam dadaku mom, aku ingin mengucapkan terima kasih padanya atas semua kasih sayangnya selama ini padaku mom....tolong biarkan sekali saja Arthur menjadi anak bik Rani....


Arthur tak dapat menyelesaikan perkataannya karena sudah dipeluk oleh sang ibu dengan erat, ia tersenyum tipis ketika mendengar perkatan ibunya yang memberikannya ijin untuk memanggil ibu ke bik Rani. Beban berat yanh ada dipundaknya selama beberapa hari ini seperti hilang dalam sekejap ketika mendapatkan ijin dari sang ibu.


"Ibu memberimu ijin sayang, ibu tak marah padamu cintaku. Ibu justru bangga Arthur punya pemikiran seperti itu, sejak kau lahir kedunia bik Rani adalah orang yang paling berjasa untuk kita berdua sayang. Dengan penuh kasih sayang ia membantu ibu merawat anak nakal yang bernama Arthur ini." Ucap Sasa pelan sambil mencubit gemas hidung mancung Arthur.


"Awww sakitt mom...


"Tapi kenapa harus memanggil ibu dengan sebutan mom, bukankah kau juga tetap bisa memanggil ibu kepada ibumu ini?" Tanya sasa heran.


Alih-alih menjawab pertanyaan sang ibu Arthur justru bangun dari ranjang dan berdiri sambil tersenyum lebar ke arah sang ibu sehingga deretan gigi putihnya terlihat dengan jelas.


"Hallo mom...this is Canada, bagaimana mungkin aku memanggilmu dengan sebutan ibu he he he ." Jawab Arthur sambil berlari meninggalkan sang ibu di dalam kamar sendirian, suara tawa Arthur masih dapat Sasa dengar dengan jelas walau pintu kamar putranya itu tertutup rapat.


Senyum Sasa tersungging diwajah cantiknya ketika mendengar kembali suara tawa Arthur, kedua matanya berkaca-kaca karena merasa sangat bahagia. Sasa tak mempermasalahkan jika anaknya itu ingin memanggilnya dengan sebutan 'mommy' , ia justru bangga Arthur bisa berbakti pada ibu asuhnya yang sudah meninggal.


"Im so proud of you my lovely son...thank god for giving me such a great son like Arthur."Isak Sasa penuh haru, ia kemudian menyeka air mata yang jatuh di wajahnya. Setelah menarik nafas panjang Sasa kemudian keluar dari kamar Arthur dan berjalan dengan anggun menuju ke lantai satu menyusul semua anaknya yang sedang berkumpul.


Namun niat Sasa untuk turun ke lantai satu terpaksa ia tunda karena Archie sudah menahannya dan memeluknya erat dari belakang, walau Archie sudah semakin berumur tapi sifat romantisnya belum hilang. Dengan penuh cinta Archie mencium tengkuk Sasa sehingga membuat Sasa menggelinjang.


"Mass malu akh kalau diliat anak-anakmu itu lho." Ucap Sasa pelan mencoba menghentikan tindakan Archie.


"Kenapa harus malu pada anak sendiri, kalau mereka tanya bagaimana mereka di proses mas akan dengan senang hati memperlihatkan secara live kepada.....


"Awwwww...." Archie tak dapat menyelesaikan perkataanya karena kakinya sudah diinjak dengan keras oleh Sasa.


Melihat Sasa pergi membuat Archie tersenyum, ia mendengar semua percakapan Sasa dan anaknya Arthur saat sedang berbincang tadi dikamar. Ia takjup dengan cara Sasa mendekati dan membuat keceriaan Arthur kembali lagi.


"Aku benar-benar beruntung mendapatkanmu sayang, kau bukan hanya istri yang hebat untukku tapi kau adalah ibu yang luar biasa untuk anak-anak kita. Temani aku sampai nafas terakhirku berhembus ya sayang, aku akan menuntunmu menuju firdaus tempat yang selalu kau sebutkan itu." Ucap Archie pelan sambil tersenyum, ia kemudian menyusul sang istri turun ke lantai satu untuk bergabung bersama ketiga anak-anak kebanggannya yang sudah beranjak dewasa.


Ruang keluarga Archie Durran kembali penuh tawa dan terasa hangat karena ketiga anaknya sudah kembali ceria seperti sedia kala, Arthur seperti biasa menjahili kedua adik kembarnya sehingga membuatnya menjadi bulan-bulanan Allard dan Ashley yang kesal kepadanya. Si kembar bersatu membully Arthur dengan menguncinya dilantai yang beralaskan permadani, dengan berbekal sabuk hitam yang mereka peroleh dari karate mereka berdua behasil menaklukkan Arthur yang sejak tadi menganggu mereka berdua.


"Inget jangan terlalu keras AJ dia kakakmu." Ucap Sasa memperingatkan pada Ashley agar tak terlalu keras mengunci tangan Arthur.


"Akh mommy selalu membela kakak, sekali-kali kakak harus diberi pelajaran seperti ini mom." Sahut Allard dengan cepat, ia sedang mengunci kaki Arthur dengan tubuhnya.


"Iya mommy tau tapi lihatlah kakakmu sudah merah sekali wajahnya...


"Apa mom??? coba ulangi lagi mom." Teriak Ashley Jarvish dan Allard bersamaan, mereka berdua kaget ketika mendengar sang ibu menyebutnya dengan sebuatan 'mommy'.


Melihat kesempatan emas langsung dimanfaatkan oleh Arthur, ia berhasil melepaskan diri dari kuncian yang dilakukan dua adik kembarnya dan langsung membalikkan keadaan dengan berhasil mengunci tangan dua adik kembarnya secara bersamaan.


"Mommmm tolong...aduhh.."


"Momm kakak curang"


Teriak Ashley dan Allard bersahutan meminta bantuan dari Sasa, mereka tau kalau Sasa sudah berbicara maka Arthur akan menurut.


"Kalian bertiga mau sampai kapan seperti itu memangnya tidak lapar ya." Ucap Archie pelan sambil menutup laptopnya dan meletakkannya diatas meja.


"Kakak dadd...help me." Sahut Ashley memelas meminta bantuan dari sang ayah.


"Kakak apa, kalian berdua tadi yang curang bermain keroyokan padaku." Ucap Arthur sambil tertawa lebar, ia senang sekali melihat kedua adiknya takluk ditangannya.


Archie hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat ketiga anaknya masih senang bermain, ia lalu tersenyum tipis karena mempunyai ide kecil untuk mengerjai ketiga anaknya. Perlahan Archie berpindah tempat duduk kesamping Sasa dan memeluknya dengan erat dari samping.


"Apa kalian tidak kasian pada adik perempuan kalian ini kalau terus seperti itu." Ucap Archie pelan sambil meraba perut rata Sasa dengan perlahan.


Deg


Arthur kaget dan langsung melepaskan kedua tangannya dari Ashley dan Allard ketika mendengar perkataan sang ayah, ekspresi yang sama pun terlihat dari Allard dan Ashley.


"Kami akan punya adik lagi??!!!" Teriak Arthur, Ashley dan Allard hampir bersamaan.


🌺To be continued🌺


Jangan lupa Vote dan Ratting bintang lima untuk mendukung Thor, terima kasih kakak-kakak.


Love u kakak-kakak.