Faith 2 The Return Of The Prince

Faith 2 The Return Of The Prince
New family



Jangan lupa vote dan ratting bintang 5 untuk mendukung Thor


Terima kasih


Di meja makan Arthur nampak sangat lahap menikmati nasi hangat dan telur balado buatan sang Mommy, ia bahkan sampai mengambil nasi untuk yang kedua kalinya untuk memenuhi piringnya yang sudah kosong padahal Maxwell sejak tadi bahkan belum menghabiskan makanan yang ada di hadapannya.


"Pelan-pelan sayang mommy tak akan memintanya," ucap Sasa pelan mengingatkan Arthur untuk memperlambat tempo makannya.


"Masakan Mommy memang yang terbaik di seluruh dunia ini, bahkan masakan koki hotel bintang lima sekalipun tak ada apa-apanya dibanding dengan masakan Mommy," jawab Arthur dengan mulut penuh makanan sambil tersenyum merespon perkataan sang Mommy.


"Dasar anak nakal pintar sekali berbicara," sahut Sasa pelan sambil menyeka bibir Arthur menggunakan sapu tangan.


Arthur hanya meringis mendengar perkataan sang Mommy, ia lalu kembali memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Hampir enam bulan tak menikmati masakan sang Mommy benar-benar membuatnya kalap, Maxwell yang belum terbiasa makan masakan Indonesia yang sangat khas itu terlihat pelan sekali menikmati makanan yang tersaji di piringnya.


Tak lama kemudian mereka pun selesai makan malam Arthur terlihat sangat kekenyangan sehingga membuatnya tak nyaman untuk beraktivitas, ia saat ini sedang duduk di sofa sambil bersandar dan menyentuh perutnya yang membuncit pasca menghabiskan tiga piring nasi dengan delapan butir telur balado.


"Segala sesuatu yang berlebihan itu pasti tidak enak sayang, makanya tadi kan Mommy bilang makannya pelan-pelan dan jangan dimakan semua," ucap Sasa pelan sambil memberikan air hangat kepada Arthur yang terlihat sangat kekenyangan.


"Habisnya makanan Mommy terlalu enak jadi sayang kalau tidak dihabiskan," jawab Arthur pelan mencari alasan.


"Dasar anak nakal, oh iya bagaimana kuliahmu disini? apa kau punya kekasih?" tanya Sasa pelan sambil menikmati teh hijau tanpa gula.


"Uhukkk uhukkk,"


Arthur yang sedang minum air tersedak ketika mendengar perkataan sang Mommy, ia tak menyangka kalau Mommynya akan bertanya seperti itu kepada dirinya. Melihat Arthur terbatuk-batuk membuat Maxwell membantunya, ia menepuk-nepuk pundak Arthur untuk meredakan batuk tuannya itu.


"Kau ini sudah besar sayang, kenapa tak bisa hati-hati. Minum saja bisa sampai batuk seperti itu, memangnya Mommy atau Maxwell akan memintanya!!" ucap Sasa dengan nada meninggi.


"Habisnya Mommy mengagetkanku saja," jawab Arthur mencoba membela diri.


"Mengagetkan bagaimana?" tanya Sasa tak mengerti dengan arah pembicaraan sang putra kesayangan.


Drrtttt


Drrtttt


Ponsel Sasa yang ada diatas meja tv berdering dengan keras sehingga membuat Arthur tak dapat menyelesaikan perkataannya, Sasa kemudian bangun dari kursinya dan meraih ponsel pintarnya. Senyumnya mengembang ketika melihat nama yang muncul di layar ponselnya, ia kemudian menerima panggilan video itu yang ternyata adalah panggilan dari sang suami.


"Hallo mas...


"Sayang, kenapa sampai di Tokyo tak menghubungi mas? bukankah mas sudah bilang sesampainya disana kabari mas,"


"Lalu mana itu anak nakal itu, beraninya ia membuat ibunya datang ke Jepang. Bukannya pulang ini malah membuat ibunya yang datang,"


"Tadi sampai jam berapa?"


"Lancar kan tak ada masalah?"


"Bagaimana tempat tinggal si anak nakal itu? nyaman kan? lingkungannya juga aman kan?"


"Kenapa kau diam saja sayang ?" tanya Archie kembali dengan suara meninggi sambil melambaikan tangannya didepan ponselnya karena sejak tadi Sasa hanya diam dan menatapnya sambil tersenyum tanpa berbicara.


"Kalau mas bertanya bertubi-tubi seperti itu aku harus menjawab yang mana terlebih dulu?" tanya balik Sasa sambil tersenyum.


"Ya sudah jawab semuanya dari awal tadi, mas mau mendengarnya secara detail," jawab Archie pelan sambil melepas kacamatanya.


"Saat sampai tadi Sasa terburu-buru mencari taksi untuk pergi ke kampus Arthur sampai lupa untuk menghubungi mas karena ponsel Sasa ada di dalam tas, untuk penerbangannya lancar dan tak ada masalah. Untuk tempat tinggal Arthur semuanya sesuai dengan harapan kita mas, apartemennya bagus, lingkungannya bersih, aman dan terjangkau dari jalan raya. Sehingga aku rasa Arthur nyaman tinggal di apartemen ini," ucap Sasa pelan mencoba menjawab semua pertanyaan sang suami.


"Benarkah? coba tunjukkan pada mas, mas mau melihat keadaan sekitar apartemen Arthur," pinta Archie pelan.


"Tunggu sebentar," jawab Sasa lembut, iyla kemudian mengubah kamera menghadap belakang.


Tak lama kemudian Sasa berjalan mengitari apartemen Arthur untuk menunjukkan interior dalam apartemen putranya, ia lalu berjalan ke jendela untuk menunjukkan keadaan sekitar apartemen. Archie nampak menganggukkan kepalanya perlahan ketika melihat keadaan apartemen Arthur yang ditunjukkan oleh sang istri.


"Lalu mana anak nakal itu, mas perlu bicara dengannya," tanya Archie dengan suara meninggi.


"I'm here dad," jawab Arthur dengan cepat sambil memeluk ibunya dari belakang.


"Dasar anak nakal, beraninya kau membuat ibumu datang ke Jepang. Bagaimana kuliahmu, tak ada masalah bukan?" tanya Archie penasaran.


"Semuanya baik-baik saja Dad, aku satu minggu lagi akan ujian akhir semester jadi akhir-akhir ini lumayan sibuk dengan tugas dari kampus," jawab Arthur sambil tersenyum.


"Baguslah kalau begitu yang penting kau kuliah yang baik di sana, kau tak membuat masalah bukan selama tinggal di Jepang? ingat nak Jepang adalah negara orang dan kau tak punya siapa-siapa aja sana, jadi jangan cari masalah dengan siapapun. Kuliah saja yang baik," ucap Archie dengan nada meninggi.


"Iya Dad, aku mengerti. Aku tak mungkin macam-macam lagipula di sini ada Mommy, mana mungkin aku bisa macam-macam he he he," sahut Arthur mencoba melucu.


"Dasar nakal..."


"Mommy kapan pulang?!"


"Mommy aku lapar, Daddy jahat Mom...pulang Mom aku rindu,"


Tiba-tiba terdengar teriakan dari si kembar yang ikut bicara, mereka berdua sebenarnya ingin ikut Sasa pergi ke Jepang namun sang ayah mengijinkannya dengan alasan mereka masih harus kuliah dan tak boleh membolos. Si kembar merasa sedih, mereka sudah sangat rindu pada sang kakak yang sudah hampir enam bulan tak bertemu secara langsung.


Arthur kemudian terlibat pembicaraan seru dengan kedua adik kembarnya yang terlihat makin dewasa itu, tak bertemu enam bulan membuatnya sedikit kaget dengan perubahan tubuh kedua adiknya.


Dari sofa Maxwell hanya tersenyum melihat Arthur berbicara dengan kedua adiknya, kedua matanya berkaca-kaca melihat kehangatan keluarga sang tuan.


"Kau tak sendiri nak, kau punya kami jadi jangan sedih," ucap Sasa pelan sambil menyentuh pundak Maxwell, ia secara tak sengaja melihat Maxwell menyeka air matanya.


"Tante..."


"Karena kau sudah menjaga anakku maka kau juga menjadi anakku mulai sekarang nak, jadi jangan sungkan padaku," bisik Sasa lembut sambil menyeka air mata Maxwell yang baru keluar dari sudut matanya.


🌺 to be continued🌺