Faith 2 The Return Of The Prince

Faith 2 The Return Of The Prince
Penolakan Arthur



Jangan lupa vote dan ratting bintang 5 untuk mendukung Thor


Terima kasih


Akhirnya jam pelajaran pun selesai, Arthur dengan cepat merapikan buku-bukunya ke dalam tas. Ia sudah tidak sabar ingin pulang bertemu dengan sang ibu, pasalnya hari ini ia berjanji akan mengajak ibunya untuk mengunjungi beberapa tempat wisata yang ada di Tokyo.


"Arthur tunggu,"panggil Michiko pada Arthur yang sedang berjalan menuju area parkir.


"Iya Michiko ada apa?" tanya Arthur pelan sambil tersenyum.


"Are you ok?" tanya balik Michiko pada Arthur.


"Tentu saja memangnya kelihatannya bagaimana," jawab Arthur mencoba melucu.


"Maksudku setelah tadi pagi Victoria berkata seperti itu padamu, kau baik-baik saja bukan?" tanya Michiko pelan berusaha mendekati Arthur.


"It's okay, it's no big deal," jawab Arthur sambil tersenyum.


*Tidak apa-apa, ini bukan masalah besar.


"Then give me your cellphone number," pinta Michiko tanpa basa basi.


*Lalu beri aku nomor ponselmu


Arthur terdiam beberapa saat mendengar perkataan Michiko, ia menatap Michiko tanpa berkedip beberapa saat. Tak lama kemudian sebuah senyuman tersungging diwajahnya.


"We're not that close to exchange cellphone numbers, after all, can't you use your detective to find out my cellphone number," ucap Arthur pelan sambil tersenyum.


*Lagi pula, kita tidak begitu dekat untuk bisa bertukar nomor ponsel, bukankah kau bisa meminta detektif-mu untuk mencari nomor teleponku.


Deg


Deg


Deg


Jantung Michiko berdetak sangat cepat mendengarkan perkataan Arthur, ia tak percaya Arthur mengetahui perihal detektif yang ia perintahkan untuk mencari tau tentang Arthur. Arthur tersenyum melihat Michiko terdiam, akhirnya ia mempunyai kesempatan untuk mengatakan hal itu kepada Michiko. Sebenarnya ia ingin sekali mengatakan hal itu pada Michiko sejak lama namun masih ia tahan sampai menunggu waktu yang pas dan akhirnya hari-hari yang ia tunggu tiba.


"Kalau kau ingin mencari tau tentangku lebih baik kau bertanya langsung padaku, jangan menggunakan jasa detektif seperti itu nona Michiko,"ucap Arthur pelan setengah berbisik kepada Michiko yang masih berdiri tanpa suara.


Setelah berkata seperti itu Arthur kemudian berbalik badan dan meneruskan perjalanannya menuju tempat parkir di mana mobilnya berada, namun baru lima langkah ia meninggalkan Michiko tiba-tiba Michiko berlari dan menarik tangannya dengan kuat.


"Aku ingin lebih dekat denganmu Arthur tapi kau berusaha menjauh dariku, kau juga bahkan mengaku sebagai gay di kampus. Maka dari itu aku menggunakan jasa detektif untuk mencari tahu tentangmu," ucap Michiko terbata mengaku pada Arthur kedua matanya berkaca-kaca melihat ke arah Arthur.


"Bukankah kita sudah dekat lalu apa lagi yang ingin..."


Arthur terdiam mendengar perkataan Michiko, walau ini bukan pertama kalinya ia mendapat pengakuan cinta dari seorang gadis namun tetap saja terasa aneh baginya ketika ada seorang gadis yang mengungkapkan perasaannya terlebih dahulu kepadanya. Perlahan Arthur melepaskan tangan Michiko yang sedang mencengkram tangannya.


"Maafkan aku Michiko, didalam hatiku sudah terisi orang lain. Aku tak bisa menggantikan orang lain itu dengan siapapun," ucap Arthur pelan menolak pernyataan cinta Michiko.


"S--siapa dia??apa wanita tua itu?walaupun dia cantik tapi dia lebih tua darimu Arthur, masih banyak gadis yang seusiamu yang pantas untukmu," sahut Michiko dengan nada meninggi.


"Siapapun wanita itu yang jelas dia jauh lebih baik daripada kau dan Victoria yang selalu menyombongkan diri, satu hal lagi yang harus kau ingat Michiko jangan pernah menjelek-jelekkan wanita itu lagi karena dia adalah segala-galanya bagiku. Aku bahkan siap berkorban nyawa untuknya kau camkan itu," jawab Arthur dengan ketus sambil melepaskan cengkraman tangan Michiko yang masih memegang tangannya.


Michiko membantu mendengar ancaman dari Arthur, ia tak percaya kalau Arthur yang ia puja bisa berkata seperti itu pada dirinya hanya karena membela seorang wanita yang usianya jauh di atas mereka. Tak begitu lama kemudian Arthur pun meninggalkan Michiko tanpa bicara apa-apa, ia terlihat menahan emosinya agar tidak tambah meledak lagi. Arthur tak mau membuat ibunya tau kalau ia sedang marah, oleh karena itu Arthur memilih untuk cepat-cepat meninggalkan Michiko untuk menenangkan diri.


Melihat Arthur pergi Michiko hanya diam saja ia benar-benar tak terima ditolak seperti itu oleh Arthur, apalagi Arthur lebih memilih wanita yang lebih pantas menjadi kakaknya itu ketimbang menjadi kekasihnya. Menjadi seorang anak tunggal dari pengusaha sukses di Kansai membuat kepribadian Michiko tidak seperti gadis kebanyakan, mendapatkan penolakan seperti itu membuatnya semakin meradang dan tak terima. Ia lalu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Taro sang detektif sewaannya.


"Lakukan seperti apa yang aku perintahkan Taro, aku akan mengirimkan uang dua kali lipat dari upahmu kemarin saat mencari informasi mengenai Arthur," ucap Michiko pelan.


"Siapa wanita ini? melihat fotonya dia sepertinya bukan seorang mahasiswa ya?" tanya Taro di ujung telepon.


"Dia memang bukan mahasiswa Taro, dia adalah seorang wanita kesepian yang rela memacari seorang mahasiswa yang tinggal sendiri jauh dari keluarga. Aku yakin perempuan ini adalah simpanan dari pengusaha kaya yang sedang kesepian, sehingga dia mencari mahasiswa-mahasiswa tampan seperti Arthur," jawab Michiko asal bicara, Michiko yang tak tau kalau wanita itu adalah ibu kandung Arthur membuat spekulasi sendiri seperti itu karena dibutakan cemburu.


"Ok aku akan melancarkan aksiku mulai alam ini, aku akan mencari di sekitar tempat arthur terlihat. Aku yakin pasti bisa menemukan wanita itu malam ini, "sahut Taro penuh keyakinan.


"Bagus, beri dia pelajaran agar dia sadar siapa dirinya supaya tidak mendekati Arthur lagi," ucap Michiko sambil tersenyum saat akan menutup panggilan teleponnya.


Michiko merasa sangat cemburu pada wanita yang kemarin datang dan memeluk Arthur, ia yakin kalau wanita yang kemarin datang itu bukanlah wanita sembarangan melihat dari tas dan pakaian bermerk yang ia pakai. Atas dasar itulah ia yakin kalau wanita cantik kemarin adalah wanita simpanan yang sedang mencari mangsa untuk pelampiasan.


"Arthur adalah milikku, kau salah mencari mangsa kali ini," ucap Michiko lirih sambil menatap foto Sasa yang ia baru saja kirimkan ke ponsel Taro.


Di apartemen Sasa terlihat baru saja selesai mandi dan berganti pakaian, ia seharian tidur karena jam tidurnya masih berantakan dan masih mengikuti jam Kanada. Ia terbangun ketika mendapatkan telepon dari dua anak kembarnya yang melaporkan bahwa sang ayah tidak memberikan mereka uang saku dengan alasan, nilai ujian mereka anjlok. Ia hanya tersenyum mendengar laporan kedua anak kembarnya itu dan berjanji akan segera pulang kalau rasa rindunya pada Arthur sudah terlampiaskan.


"Momm...." panggil Arthur keras saat ia baru sampai rumah.


"Iya sayang jangan teriak, ada apa?" tanya Sasa pelan berjalan dari kamar.


"Ayo kita pergi, Arthur ingin mengajak Mommy kencan," jawab Arthur sambil tertawa.


"Dasar anak nakal, ya sudah Mommy ambil tas dulu," ucap Sasa pelan sambil berjalan menuju kamar untuk meraih tasnya yang ada diatas nakas.


Arthur menggandeng sang ibu keluar dari lift saat sudah sampai di basement dan berjalan pelan menuju mobil Audi A8 yang terparkir apik di tempat parkir VIP, Sasa hanya tersenyum ketika melihat mobil putra kesayangannya itu. Mereka akhirnya pergi meninggalkan apartemen menuju ke pusat perbelanjaan yang ingin Arthur kunjungi, ia tau ibunya sangat menyukai tas oleh karena itu Arthur ingin mengajak ibunya untuk pergi melihat-lihat tas di sebuah mall yang sering dikunjungi bersama Zarina.


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang melihat Sasa tak berkedip saat ia masuk ke dalam mobil mewah Arthur.


🌺 to be continued 🌺