Faith 2 The Return Of The Prince

Faith 2 The Return Of The Prince
I'm sorry



Jangan lupa Vote dan Ratting bintang lima untuk mendukung Thor


Dengan mengendarai mobil kesayangannya Arthur pergi ke apartemen Cindy, gadis blasteran Mexico-Turki yang menjadi kekasihnya selama hampir satu tahun terakhir ini. Cindy tinggal sendirian di Kanada karena kedua orang tuanya tinggal di Turki, kedua orang tua Cindy adalah pengusaha pakaian kelas dunia yang dipakai oleh para model papan atas tak heran jika hidupnya dipenuhi dengan harta berlimpah dengan segala fasilitas mewah.


Cindy sudah menyukai Arthur sejak ia melihat Arthur di kampus pertama kali, akan tetapi butuh waktu lama baginya untuk mendapatkan hati Arthur. Sampai akhirnya ia bisa menjalin hubungan dengan Arthur setelah melakukan pendekatan selama hampir delapan bulan, walau kini hubungan mereka sudah berakhir karena ketidaksabarannya menghadapi Arthur yang masih sedih setelah meninggalnya sang pengasuh yang dianggap sebagai ibu sendiri itu.


"Have you eaten?" tanya Arthur lembut saat ia sudah sampai di apartemen mewah Cindy.


"Not yet." jawab Cindy pelan dengan mata berkaca-kaca.


"Why?" tanya Arthur dengan nada meninggi.


"My mouth is bitter .... I can't swallow it feels my throat hurts." jawab Cindy kembali.


*mulutku pahit, aku tak dapat menelan karena tenggorokanku sakit.


Nendengar perkataan Cindy membuat Arthur terdiam, ia lalu memperhatikan wajah Cindy yang memang terlihat lebih pucat daripada sebelumnya. Bahkan bibir Cindy pun terlihat pecah-pecah dengan cepat Arthur berjalan menuju pantry untuk mengambil air minum, ia lalu memberikan air yang sudah ia tuang ke dalam gelas kepada Cindy.


"Habiskan.!!" Arthur dengan lembut.


"Sudah... tenggorokanku sakit Arthur." jawab Cindy terbata, ia menolak gelas yang diberikan Arthur kembali padanya.


"Sesakit itu kah? sudah berapa lama kau seperti ini ?" tanya Arthur pelan sambil meletakkan gelas yang diberikan Cindy.


"It's been three days, I think it's just a flu. But the longer my throat gets more uncomfortable." jawab Cindy lirih.


*Sudah tiga hari, aku pikir ini hanya flu. Tapi semakin lama tenggorokanku semakin tak nyaman.


Tanpa meminta persetujuan Cindy sang mantan, Arthur kemudian berjalan membuka lemari Cindy untuk mencari jaket yang akan ia pakaikan kepada Cindy yang masih terbaring di tempat tidur. Setelah membantu Cindy memakai jaket Arthur kemudian memapahnya keluar dari apartemen menuju ke lift pribadi milik Cindy yang langsung menghubungkan ke basement.


"Kita akan kemana Arthur?" tanya Cindy pelan saat atur membantunya memakai sabuk pengaman.


"Hospital, you need a doctor not me." jawab Arthur singkat


"Tapi Arthur aku...


"Diam Cindy, kau perlu perawatan medis saat ini jangan keras kepala!!" ucap Arthur dingin memotong perkataan Cindy.


Mendengar perkataan Arthur langsung membuat Cindy terdiam, ia tak berani melawan perkataan mantan kekasihnya yang ada disampingnya itu. Selama satu tahun menjalin hubungan dengan Arthur ia sedikit paham beberapa sifat Arthur yang salah satunya tak suka dibantah, oleh karena itu Cindy memilih diam walaupun sebenarnya ia tak suka pergi ke rumah sakit.


Setelah dua puluh menit mengendarai mobil Arthur akhirnya tiba di rumah sakit yang jaraknya tidak jauh dari apartemen Cindy, saat ia berhenti di lobby rumah sakit beberapa orang suster langsung datang menghampirinya. Mereka langsung membantu Arthur membawa Cindy ke kursi roda yang sudah tersedia.


"Tolong bawa dia ke ruang IGD secepatnya." pinta Arthur pada seorang suster yang mendorong kursi roda Cindy.


"Kau mau ke mana Arthur?" tanya Cindy dengan cepat ketika menyadari Arthur tak ikut bersamanya.


Cindy menganggukkan kepalanya pelan merasakan perkataan Arthur, tenaganya kini benar-benar sudah habis untuk sekedar berdebat sekalipun. Setelah memastikan Cindy dibawa oleh suster ke ruang IGD Arthur kemudian berjalan menuju mobilnya yang masih berhenti di depan lobby, ia kemudian membawa mobilnya menuju ke sebuah tempat parkir VIP yang ada di depan rumah sakit.


Saat akan membuka pintu ruang IGD tiba-tiba pintu itu sudah terbuka dari dalam dan keluarlah dua orang suster yang mendorong sebuah ranjang di mana Cindy terbaring tak sadarkan diri, melihat kondisi Cindy yang langsung berubah membuat Arthur sedikit panik Ia lalu mengikuti dua orang suster itu menuju ke ruang ICU tempat dimana Cindy akan dirawat.


"Apa yang terjadi suster? tadi dia kan baik-baik saja saat saya bawa kesini?" tanya Arthur pelan pada suster yang baru keluar dai ruang ICU.


"Pasien terkena penyakit asam lambung yang cukup kronis, oleh karena itu Ia membutuhkan penanganan yang cukup serius saat ini tuan." jawab sang suster dengan lembut sambil tersenyum mencoba untuk menenangkan Arthur.


"Penyakit asam lambung bisa serius?" tanya Arthur bingung.


"Tentu saja tuan, penyakit asam lambung bukanlah penyakit yang bisa dianggap enteng. Penyakit ini bisa menimbulkan gangguan pernafasan dan banyak penyakit lainnya, oleh karena itu pasien membutuhkan penanganan yang cukup serius." jawab seorang dokter yang baru datang setelah dipanggil oleh suster untuk menolong Cindy.


Mendengarkan penjelasan sang dokter membuat Arthur terdiam, ia lalu duduk di kursi yang ada di depan ruang ICU menunggu dokter untuk menyelamatkan Cindy. Saat sedang menunggu Cindy tiba-tiba ponsel yang ada di jaket Cindy bergetar, ia lalu meraih ponsel itu dan melihat siapa yang menghubungi ternyata ayah Cindy yang menelfon.


"Cindy...


"Hallo uncle" sapa Arthur sopan menjawab perkataan tuan Oguz ayah Cindy.


"Arthur is that you? " tanya tuan Oguz dengan cepat, ia berhasil mengenali suara Arthur.


"Yes uncle its me." jawab Arthur singkat.


"Where is Cindy, she hasn't called us in two days. Her mother worried about her." ucap tuan Oguz mencari Cindy.


Mendengar perkataan ayah Cindy membuat Arthur terdiam, ia lalu menceritakan keadaan sebenarnya yang sudah terjadi pada Cindy. Kedua orang tua Cindy nampak sangat kaget terlihat dari suara mereka yang panik di ujung telepon.


"Tolong jaga Cindy sampai kami datang nak Arthur, kami akan segera terbang menuju Kanada dalam satu jam lagi. Jadi tolong nak Arthur tetap ada di sisinya selama kami belum sampai di Kanada." ucap tuan Oguz dengan suara bergetar menutup teleponnya.


Arthur menghela nafas panjang ketika menutup sambungan telepon dengan tuan Oguz, Cindy adalah anak gadis satu-satunya tuan Oguz oleh karena itu ia sangat menyayangi dan memanjakan Cindy. Tak heran ketika mendengar kabar Cindy sakit mereka menjadi sangat khawatir, Arthur sebenarnya malas bertemu dengan orang tua Cindy karena sewaktu ia dan Cindy baru pacaran selama dua bulan tuan Oguz sudah memintanya untuk melamar Cindy. Hal itu langsung membuat Arthur bingung dan kaget pasalnya ia tak begitu serius menjalin hubungan dengan Cindy.


"Kalau aku bertemu dengan ayahnya di sini sendirian, mungkin aku akan diminta untuk menikahi Cindy lagi." ucap Arthur dalam hati sambil mengingat pertemuannya dengan tuan Oguz beberapa bulan yang lalu.


Saat sedang dilema tiba-tiba ponsel Cindy kembali berdering, ia sempat kaget ketika melihat nama Harold muncul di layar ponsel Cindy. Harold adalah salah satu teman sekampus mereka yang mengejar-ngejar Cindy sejak lama, bahkan saat ia dan Cindy berpacaranpun Harold masih tak mau menyerah. Tiba-tiba senyum tersungging di wajah Arthur, ia lalu mengangkat telepon Harold dan terlibat pembicaraan cukup serius selama beberapa menit sampai akhirnya Arthur tersenyum penuh kemenangan.


"Maafkan aku Cindy, aku belum mau menikah secepat ini. Lagipula banyak hal yang masih ingin aku lakukan...maafkan aku Cindy." ucap Arthur pelan sambil menginjak gas mobilnya dengan cepat meninggalkan rumah sakit.


🌺To be continued🌺


Jangan lupa Vote dan Ratting bintang lima untuk mendukung Thor, terima kasih kakak-kakak.


Love u kakak-kakak.