Faith 2 The Return Of The Prince

Faith 2 The Return Of The Prince
First meet



Jangan lupa vote dan ratting bintang 5 untuk mendukung Thor


Terima kasih


Arthur menghabiskan malamnya bersama sang ibu mengitari mall berdua dengan penuh canda tawa, sampai tak tak menyadari bahwa hari sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Mereka berdua akhirnya meninggalkan mall saat melihat beberapa toko yang sudah mulai tutup.


"Menghabiskan waktu bersama Mommy kenapa rasanya waktu berlalu dengan sangat cepat," ucap Arthur menggerutu saat keluar dari mall menuju ke area parkir.


"Bukan waktu yang berlalu dengan cepat tapi kau yang tak sadar sayang, padahal kaki mommy sudah lelah dan lapar saat ini," jawab Sasa dengan cepat sambil tersenyum.


"Ya Tuhan aku baru sadar kalau kita dari tadi belum makan Mom, maafkan aku Mom. Aku terlalu sibuk mengajak Mommy berputar-putar di mall sampai melupakan kalau kita belum makan," pekik Arthur dengan cepat saat menyadari bahwa ia dan sang ibu belum makan apapun selama 6 jam ada di mall.


"Ya sudah tak usah dipikirkan, sekarang lebih baik kita cari makanan saja. Mommy rasanya ingin sekali mencoba makanan di pinggir jalan seperti yang sering Mommy lihat di TV, tapi ingat jangan bilang Daddy-mu kalau kita makan makanan seperti itu. Karena jika Daddy tau Mommy bisa dipaksa pulang saat itu juga," jawab Sasa dengan cepat smabil tertawa.


Arthur hanya tertawa mendengar perkataan sang ibu, ia tau betul kalau ayahnya adalah orang yang sangat mencintai kebersihan. Jangankan bisa makan makanan yang dijual di tenda-tenda pinggir jalan, makanan yang sudah tak tertutup di meja makan saja ia larang untuk makan. Kadang Arthur dan kedua adik kembarnya kalau ingin makan makanan seperti itu harus menunggu hari libur atau pada saat sang ayah pulang malam saja, karena kalau tidak mereka tak akan punya kesempatan untuk makan makanan seperti itu.


Setelah mengendarai mobil selama hampir dua puluh menit Arthur akhirnya sampai disebuah jalanan yang penuh dengan tenda-tenda makanan yang ada dipinggir jalan, ia lalu memarkirkan mobilnya di sebuah area parkir dan berjalan pelan bersama sang ibu menelusuri jalanan untuk mencari tenda makanan yang tak terlalu ramai. Pilihan Sasa akhirnya jatuh di tenda yang ada didekat sebuah kantor pos, ia langsung masuk kedalam tenda tanpa sungkan bersama Arthur.


"Udon, Yakisoba, Yakitori, Ramen dan Danggo," ucap Sasa dengan cepat memesan semua makanan itu ada seorang pelayan yang sedang mendatangi meja mereka.


"わかりました、ちょっと待って," jawab sang pelayan pria itu dengan ramah.


*wakarisutaka, chotto matte / saya mengerti, tunggu sebentar.


Sasa menganggukkan kepalanya perlahan merespon perkataan sang pelayan, ia lalu menikmati ocha hangat yang ada dihadapannya sambil terus melihat ke arah jalanan dimana banyak sekali orang berlalu lalang.


"Dulu Mommy punya mimpi ingin kuliah di luar negeri namun sayangnya mimpi itu terpaksa Mommy kubur dalam-dalam saat kakek nenekmu meninggal karena kecelakaan pesawat, setelah peristiwa itu Mommy merasa tak punya semangat lagi untuk melanjutkan hidup sampai akhirnya Daddy-mu datang seperti pahlawan yang melindungi dan menjaga Mommy. Seorang pria asing yang tak pernah Mommy bayangkan sebelumnya akan datang dalam kehidupan Mommy," ucap Sasa pelan sambil menatap jalanan melihat sepasang muda-mudi sedang bergurau menikmati jajanan di pinggir jalan.


"Karena waktu itu Mommy sangat cantik makanya Daddy tergila-gila pada Mommy," jawab Arthur dengan cepat.


"Jadi maksudnya sekarang Mommy sudah tidak cantik lagi?" tanya Sasa pelan sambil menatap tajam ke arah Arthur.


"Bukan begitu Mom, Mommy tetap cantik sampai kapanpun. Bahkan sekarang pun Mommy tambah cantik he he he," jawab Arthur sambil tertawa lebar.


Sasa hanya tersenyum mendengar perkataan anaknya, tak lama kemudian datanglah pelayan yang sudah selesai menyiapkan makanan. Setelah semua makanan ada di atas meja Sasa dan Arthur pun langsung menikmatinya selagi masih hangat, Sasa yang belum pernah makan makanan di pinggir jalan seperti itu nampak sangat kaget ketika mulai menyentuhkan makanan ke dalam mulutnya. Ia tak percaya kalau makanan yang ada di pinggir jalan seperti itu rasanya sangat enak, bahkan setara dengan masakan para koki hotel bintang lima yang sering ia kunjungi saat bersama sang suami.


Melihat ekspresi sang ibu membuat Arthur tertawa, ia tak percaya kalau ibunya sangat lahap menikmati Yakitori yang merupakan pesanannya. Ia pun mengalah dan memakan udon saja sambil menatap ibunya yang terlihat sangat kalap.


"Ya sudah kalau Mommy sudah kenyang kita bisa..."


Arthur dapat menyelesaikan perkataannya ketika melihat seorang gadis yang sangat ia kenal melintas di depan tendanya bersama beberapa temannya, ia terlihat membawa 1 kantong berisi Taiyaki. Taiyaki merupakan jajanan manis yang hampir sama dengan pancake yang memiliki banyak rasa.


Sasa merasa heran saat melihat Arthur terdiam, ia lalu melihat ke arah yang sedang dilihat putranya. Ia tersenyum ketika melihat beberapa gadis remaja baru saja melewati depan tenda mereka, saat akan bertanya kepada Arthur ia dikagetkan ketika melihat putranya langsung bangun dan keluar dari tenda menyusul keempat garis tersebut.


"Zarina," panggil Arthur dengan keras.


Zarina yang sedang berjalan-jalan mencari cemilan malam bersama teman-temannya langsung menghentikan langkah kakinya saat mendengar seseorang memanggil namanya, dia spontan langsung menoleh kebelakang dan terkejut ketika melihat si empunya suara yang tadi memanggil namanya.


"Arthur..." ucap Zarina lirih.


"Siapa dia Zarina, ap kau mengenalnya?" tanya salah seorang teman Zarina heran saat melihat Zarina terpaku melihat seorang pemuda yang ada di hadapan mereka.


"Teman," jawab Zarina lirih, ia memundurkan langkahnya saat melihat Arthur berlari kearahnya.


"Apa yang kau lakukan disini ?" tanya Arthur dengan cepat ketika ia berhasil mendekati Zarina sambil menatap bergantian ketiga gadis yang ada di samping kanan dan kiri Zarina.


"Kami sedang jalan-jalan malam mencari makanan bersama teman-teman yang lainnya sebagai bentuk perayaan berakhirnya ujian akhir semester kami," jawab seorang gadis yang ada di sebelah kanan Zarina dengan cepat.


"Oh jadi kalian sedang merayakan berakhirnya ujian akhir semester ya, bagus sekali sampai pergi ketempat seperti ini. Apa guru kalian tau, apa kepala asrama kalian tau!!" hardik Arthur keras.


Gadis yang sebelumnya menjawab pertanyaan Arthur langsung terdiam membisu, saat mendengar Arthur berkata seperti itu ia terlihat sangat ketakutan. Begitu pula dengan dua gadis lainnya yang langsung menundukkan kepalanya ke tanah, hanya Zarina saja yang masih menatap Arthur tanpa berkedip.


"Lebih baik kalian segera kembali ke asrama sekarang, sebelum aku menghubungi kepala asrama kalian dan menghukum kalian," imbuh Arthur kembali sambil melipat kedua tangannya di dada.


Ketiga teman Zarina langsung berlari saat mendengar perkataan Arthur, mereka pergi meninggalkan Zarina yang masih diam membisu. Mereka terlihat sangat ketakutan ketika Arthur mengancam akan memberitahu kepala asrama.


"Sebenarnya apa maumu Arthur, aku hanya keluar sebentar dengan teman-temanku lagipula ini adalah hari terakhir kami ujian. Kami hanya ingin merayakan saja dengan membeli makanan kecil seperti ini dan..."


"Sayang kau bicara dengan siapa?"


Zarina tak dapat menyelesaikan perkataannya saat mendengar suara seorang wanita memanggil Arthur dengan sebutan sayang.


🌺to be continued🌺