
Jangan lupa vote dan ratting bintang 5 untuk mendukung Thor
Terima kasih
Zarina terdiam ketika mendengar penjelasan Arthur mengenai alasannya tak memberitahukan identitas sang ibu yang sebenarnya kepada dirinya, pada awalnya Zarina tak percaya dengan perkataan Arthur namun setelah Maxwell mengiyakan penjelasan Arthur barulah ia percaya. Apalagi ditambah dengan foto yang ditunjukkan oleh Arthur, sebuah foto masa kecilnya bersama sang ibu ayah dan kedua adik kembarnya.
"Ibuku menikah muda Zarina, saat ia menikah dengan ayahku usianya baru 16 tahun dan memilikiku di saat usianya akan menginjak 19 tahun. Jadi tak heran kalau sekarang ia dan diriku terlihat seperti kakak adik," ucap Arthur pelan mengakhiri ceritanya.
"Maaf bukan bermaksud untuk menipumu, hanya saja ibuku tak mau membuka identitasnya terlebih dahulu. Ia ingin mengenal dirimu lebih jauh sebelum mengatakan bahwa ia adalah Ibuku," imbuh Arthur lirih mencoba memberikan penjelasan pada Zarina.
Zarina tersenyum mendengar perkataan Arthur ia kemudian menyeka keringat dingin yang keluar dari kening Arthur menggunakan sapu tangan yang sejak tadi ia bawa.
"Bukan salahmu Arthur, sebenarnya aku juga bersalah karena aku langsung memanggil ibumu dengan sebutan kakak," jawab Zarina pelan sambil tersenyum mengingat pertemuan pertamanya dengan Sasa di depan sebuah tenda makan beberapa hari lalu.
Arthur tersenyum mendengar perkataan Zarina, ia merasa tenang setidaknya Zarina tidak marah kepada dirinya atas identitas sang ibu yang sudah terbongkar. Hatinya sedikit lega walaupun saat ini ada ketakutan yang sangat besar di dalam dirinya, ia tau kalau sang ayah pasti sudah mengetahui kondisi ibunya. Hanya tinggal menunggu hitungan jam saja bagi dirinya untuk menerima amarah sang ayah.
Melihat ekspresi wajah Arthur yang tak berubah membuat Zarina dan Maxwell saling pandang beberapa saat, mereka terlihat bingung kenapa Arthur masih sedih. Padahal semuanya sudah clear dan tak ada yang ditutup-tutupi lagi, tak lama kemudian Maxwell minta izin pergi ke kantin karena ingin membeli minuman untuk dirinya serta Arthur dan Zarina.
"Apa yang masih mengganggu pikiranmu?" tanya Zarina pelan sambil mendekati Arthur yang duduk sambil menunduk ke lantai.
"Kau pasti tak akan percaya dengan cerita yang aku akan katakan ini Zarina, namun semua ini adalah sebuah fakta dan aku tidak mengada-ada," jawab Arthur lirih.
"Memangnya kau ingin bercerita apa? kenapa aku harus tidak percaya dan bagaimana aku bisa percaya atau tidak percaya pada ceritamu di saat kau belum mulai bercerita," ucap Zarina bingung.
Sebuah senyum tersungging di wajah Arthur mendengar perkataan Zarina, ia kemudian mengangkat wajahnya dan menatap kedua mata Zarina dengan tatapan dalam seolah ia ingin masuk ke dalam bola mata Zarina dan bersembunyi di dalamnya.
"ayahku adalah orang pengusaha yang cukup terkenal di Kanada, Australia dan beberapa negara Asia lainnya. Namanya adalah Archie Duran August, sedangkan Ibuku bernama Farasya Zalia. Mereka bertemu saat ayahku pergi ke Indonesia dimana waktu itu Ibuku masih sekolah SMA dan baru saja kehilangan orang tuanya karena kecelakaan pesawat, kakekku adalah seorang pilot dan nenekku seorang ibu rumah tangga yang memiliki bisnis jual beli dan sewa apartemen di Jakarta. Keluarga mereka bahagia sampai akhirnya peristiwa kecelakaan pesawat itu terjadi dan membuat Ibuku tinggal sebatang kara di Jakarta, sampai akhirnya ia bertemu dengan ayahku dan tak lama kemudian mereka menikah beberapa saat setelah Ibuku lulus SMA," ucap Arthur pelan menceritakan tentang pertemuan awal sang ayah dan ibu di Jakarta.
"Walaupun waktu itu ibuku menikah dengan ayahku di saat ia sudah lulus SMA, namun sebenarnya usianya masih sangat muda. Karena dulu kakekku menambahkan satu tahun umur ibuku lebih tua supaya ia bisa bersekolah, alhasil seperti yang aku katakan tadi Ibuku hamil di usianya yang masih sangat muda," imbuh Arthur menambahkan perkataannya yang sebelumnya.
"Lalu?" tanya Zarina penasaran.
"Usia ayah dan ibuku terpaut sangat jauh walaupun saat ini ibuku masih berumur 40 tahun tapi ayahku sudah melewati umur setengah abad dan hampir menyentuh ke angka 60 tahun, seperti yang kau lihat sendiri ibuku masih sangat cantik seperti gadis-gadis remaja pada umumnya. Bahkan kau sendiri tak menduga bukan kalau dia adalah ibuku, karena memang kau bukan orang pertama yang tak menyangka kalau dia adalah ibuku. Sejak aku bersekolah di Kanada pun banyak teman-teman sekolahku yang kaget saat aku beritahu mereka bahwa ia adalah ibuku, mereka semua mengira ibuku adalah kakakku atau tanteku," jawab Arthur sambil tersenyum tipis, ia selalu tertawa saat mengingat lagi teman-temannya yang mengagumi ibunya.
"Karena itulah ayahku sangat posesif padanya, jangankan ibuku terluka dan sakit seperti ini. Ia mempunyai luka gores di tangan karena terkena pisau saja, ayahku sudah marah dan membuat seisi rumah seperti neraka dan...
"Dan sekarang kau bisa membayangkan sendiri apa yang akan ia lakukan ketika mengetahui istri yang sangat ia cintai terbaring di rumah sakit dan memiliki luka di tangan kirinya seperti itu, aku yakin ia pasti akan marah sekali dan sudah bisa ditebak bagaimana nasibku selanjutnya," jawab Arthur dengan suara serak.
Zarina tak bersuara mendengar perkataan Arthur, ia memang sering mendengar ada orang yang sangat posesif kepada pasangannya namun baru kali ini ia tau secara langsung hal seperti itu dari orang yang sangat ia kenal.
"Lalu apa rencanamu selanjutnya ?"tanya Zarina lirih.
"Jangan pergi dari sisiku Zarina, apapun yang terjadi nanti saat ayahku marah-marah kepadaku aku mau kau tetap ada disampingku. Menemaniku, aku tak bisa menghadapi kemarahannya sendiri, aku butuh seseorang untuk menguatkanku dan orang itu adalah kau Zarina," jawab Arthur dengan suara parau memohon kepada Zarina untuk tidak pergi.
Tanpa Arthur duga tiba-tiba Zarina memeluk Arthur dengan erat, ini adalah kali pertama Zarina mengambil inisiatif terlebih dahulu. Dengan cepat Arthur membalas pelukannya pada Zarina, ia merengkuh Zarina dengan erat. Seolah sedang meminta tambahan energi dari Zarina untuk mengahadapi kemarahan sang ayah.
Tak begitu lama kemudian pintu ruang perawatan Sasa terbuka dan keluarlah seorang dokter bersama beberapa orang suster yang mendampinginya dengan cepat Arthur melepaskan pelukannya pada Zarina dan mendatangi sang dokter.
"Bagaimana dengan kondisi ibuku dok?" tanya Arthur dengan cepat.
"Untung saja anda cepat datang ke sini, rupanya nyonya Farasya memiliki alergi yang cukup besar sehingga ia membutuhkan perawatan yang lebih intensif untuk merawat lukanya. Seperti dugaan nona ini sebelumnya bahwa nyonya Farasya mengalami infeksi dari luka di tangan kirinya sehingga menyebabkan ia demam seperti itu," jawab sang dokter ramah sambil tersenyum kearah Zarina yang sebelumnya sempat mengatakan dugaannya pada dirinya.
"Lalu sekarang kondisi nyonya Sasa?"tanya Zarina pelan.
"Kondisinya sudah lebih baik, demamnya sudah turun. Luka ditangan kirinya pun sudah kami bersihkan lagi, biarkan dia istirahat supaya kondisinya cepat pulih," jawab sang dokter.
Zarina dan Arthur menganggukan kepalanya perlahan mendengar perkataan sang dokter, mereka pun diperbolehkan masuk kedalam ruang perawatan Sasa. Zarina tersenyum melihat Sasa tidur, baru kali ini ia melihat ada wanita seanggun itu ada dihadapannya.
"Rencanamu selanjutnya apa Arthur?" tanya Zarina pelan.
"Aku sedang melacak otak dari peristiwa ini, aku sudah menemukan satu nama dan ingin memastikan sekali lagi supaya tak membuat masalah," jawab Arthur singkat, matanya berkilat saat teringat dengan orang yang menjadi otak dari peristiwa yang membuat ibunya terluka.
"Jangan pakai kekerasan," bisik Zarina lembut.
"I know honey, you don't need to worry."
🌺 to be continued 🌺