
Jangan lupa Vote dan Ratting bintang lima untuk mendukung Thor.
Cinta pandangan pertama akankah itu nyata atau hanya kiasan semata.
Tokyo, Japan ( Arthur Sebastian )
🍃
🍃
Mendengar gadis remaja yang ada didepannya mengucapkan namanya membuat rasa aneh bergemuruh di dalam dada Arthur, sebuah rasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya selama dua puluh tahun ia hidup di dunia.
"Arthur, jadi namamu Arthur," ucap Zarina pelan sambil melepaskan tangannya dari Arthur.
"Iya memangnya kenapa? apakah namaku aneh?" tanya Arthur pelan.
"Apa kau orang Inggris? " tanya balik Zarina sambil menatap wajah Arthur dengan tajam.
"Half Canadian and Indonesian," jawab Arthur singkat.
*( setengah Kanada dan Indonesia).
Zarina yang sedang mengunyah daging sapi kualitas super itu langsung terdiam ketika mendengar perkataan Arthur, ia terlihat sangat kaget saat Arthur mengatakan bahwa ia setengah Kanada dan Indonesia.
"Ada apa? kau baik-baik saja Zari...
Kreettt...
"Terima kasih atas makan malamnya saya permisi kalau begitu," ucap Zarina dengan cepat sambil berdiri.
"Ada apa Zarina?" tanya Arthur bingung saat melihat Zarina tiba-tiba bangun.
Alih-alih menjawab pertanyaan Zarina justru menunduk dan berbalik badan, ia lalu pergi meninggalkan Arthur yang masih bingung tanpa menghabiskan makanannya. Melihat Zarina pergi Arthur berusaha mengejar gadis itu, akan tetapi saat ia keluar dari dalam restoran sosok gadis cantik tak berhasil ia temukan. Karena ia baru makan sedikit dan makanannya pun belum ia bayar Arthur akhirnya masuk kembali kedalam restoran untuk meneruskan acara makan malamnya sendirian.
"Aku tak pernah ditinggalkan oleh gadis manapun selama ini, lalu kenapa gadis itu meninggalkanku. Apakah tadi aku ada salah bicara," ucap Arthur bertanya-tanya dalam hati berbicara sendiri sambil mengambil potongan daging barbeque yang ada di atas alat pembakaran dan ia masukkan kedalam mulutnya.
Karena masih lapar Arthur akhirnya menikmati daging yang ada di hadapannya dengan lahap sendirian, ia berusaha menghilangkan pertanyaan besar di dalam kepalanya yang masih memikirkan penyebab Zarina pergi begitu saja. Padahal ia tidak mengatakan sesuatu yang buruk atau menyinggung perasaan gadis itu, tiga puluh menit kemudian Arthur pun selesai makan. Dua porsi daging barbeque premium set A berhasil Arthur makan seorang diri, padahal makanan itu biasanya dimakan oleh dua orang. Akan tetapi semua daging itu dimakan oleh Arthur sendirian, ia memang merasa lapar karena belum makan apapun sejak tiba di Tokyo tadi siang.
Setelah membayar apa yang ia makan Arthur kemudian keluar dari restoran, ia pun memilih berjalan kaki pulang ke apartemennya yang jaraknya ternyata tidak terlalu jauh dari restoran tempatnya berada saat ini. Arthur memilih berjalan kaki karena ingin menghafal jalanan di sekitar tempat tinggalnya, sekaligus berolahraga malam untuk membakar daging yang ia baru saja habis kan tanpa sisa.
"Sebenarnya apa yang membuat Zarina langsung pergi begitu saja meninggalkan aku tadi," ucap Arthur pelan sambil berjalan menyusuri jalan setapak khusus pejalan kaki di depan deretan toko menuju ke apartemennya.
Deg
"Gadis itu langsung pergi ketika aku menyebutkan nama Indonesia, aku yakin gadis itu ada hubungannya dengan Indonesia. Apa lagi tadi dia sempat berbicara sedikit menggunakan bahasa Indonesia sewaktu di apartemen," ucap Arthur pelan sambil melipat kedua tangannya di dada karena udara malam semakin dingin.
Tak lama kemudian sebuah senyuman tersungging di bibir Arthur.
"Sepertinya aku mempunyai teman yang sedarah denganku disini, darah Indonesia." gumam Arthur pelan sambil menggosok-gosokkan kedua tangannya didepan dada untuk menghilangkan dingin.
Karena hari sudah semakin malam Arthur akhirnya memilih mempercepat langkahnya menuju apartemen, karena jam tangan mahal di tangan kirinya sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Yang artinya ia benar-benar belum tidur selama dua belas jam penuh, saat ada di pesawat Arthur tak akan tidur lagi jika ia sudah tidur selama enam jam. Alhasil ketika hampir mendarat di Narita Arthur tak tidur sama sekali sampai sekarang, oleh karena itu Arthur memilih untuk segera pulang untuk tidur. Pasalnya besok pagi adalah hari untuk melakukan registrasi terakhir, ia tak mau bangun telat.
Setelah berjalan selama hampir tiga puluh menit Arthur akhirnya sampai di apartemen mahalnya, ia langsung berjalan menuju lift dan memencet angka 25 dimana kamarnya berada. Saat ia masuk ke dalam lift banyak orang yang memperhatikannya dari ujung kepala sampai ujung kaki, Arthur pun memahami itu karena ia adalah orang baru di apartemen. Jadi hal semacam itu adalah hal yang sangat wajar, oleh karena itu ia tidak marah dan berusaha untuk tersenyum dan menganggukkan kepalanya perlahan kepada orang-orang yang sedang menatapnya.
"Permisi," ucap Arthur pelan pada orang-orang yang ada didalam lift karena lift sudah berhenti dilantai 25.
Enam orang yang ada di dalam lift langsung bergeser ketika Arthur mengucapkan kata permisi, mereka terdiam saat melihat Arthur berhenti di lantai 25. Pasalnya semua orang juga tahu bahwa lantai 25, 26 dan 27 adalah umit termahal di apartemen itu.
"Sepertinya dia pengusaha baru,"
"Jadi orang kaya itu bebas, bisa memilih lantai manapun sesuka hatinya,"
"Aku rasanya hanya bermimpi bisa ada di apartemen ini, harga sewanya saja sangat mahal tiap bulan. Gajiku satu tahun hanya akan mampu menyewa satu bulan ditempat ini ha ha ha,"
"Ha ha ha ...."
Arthur hanya tersenyum tipis mendengar perkataan orang-orang itu, mereka rupanya adalah orang-orang yang bekerja sebagai marketing di apartemen. Karena sudah terlalu lelah Arthur pun meneruskan langkahnya menuju kamarnya, saat membuka pintu ia dikagetkan saat melihat dua kantung tas belanjaan yang tergeletak begitu saja di depan pintu kamarnya.
"Anzelma Zarina...nama yang sangat unik, aku harap kita akan bertemu lagi Zarina. Banyak hal yang ingin aku bicarakan denganmu," ucap Arthur pelan sambil tersenyum saat mengingat Zarina yang menolongnya di lobby ketika ditahan oleh security.
Dengan cekatan Arthur merapikan hasil belanjaannya ke dalam kulkas, hanya membutuhkan waktu lima menit baginya untuk merapikan barang-barang itu di dalam kulkas besarnya. Tak lama kemudian Arthur berjalan pelan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum tidur, sebuah kebiasaan yang diajarkan oleh sang ibu tercinta sejak ia kecil. Dimana ia tak diperbolehkan tidur sebelum mandi dan berganti pakaian, dulu saat ia masih kecil rutinitas mandi sebelum tidur akan menjadi ajang pertempuran hebatnya dengan sang ibu dimana ia pasti akan berteriak-teriak menolak untuk mandi. Namun kini ia sangat berterima kasih pada ibunya itu yang sudah mengajarkannya untuk mencintai kebersihan diri.
"Sudah jam satu malam, aku sudah tak bisa membuka mataku. Lebih baik aku telpon mommy besok saja," ucap Arthur pelan sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil, tubuhnya yang masih basah pun hanya terbalut handuk dipinggang.
Setalah merasa rambutnya sudah kering Arthur kemudian membuka lemari bajunya untuk meraih celana boxer, satu hal yang sangat ia inginkan tinggal mandiri adalah bisa bebas tidur hanya menggunakan boxer tanpa menggunakan piyama.
Arthur akhirnya terlelap di ranjang barunya dalam hitungan menit, ia benar-benar tertidur pulas karena terlalu lelah. Akan tetapi wajah lelah nampak tak tergambar diwajah Arthur yang sudah terlelap, pertemuannya dengan Zarina membuat suasana hatinya menjadi berwarna.
🌺To be continued🌺
Jangan lupa Vote dan Ratting bintang lima untuk mendukung Thor, terima kasih kakak-kakak.
Love u kakak-kakak.