Faith 2 The Return Of The Prince

Faith 2 The Return Of The Prince
Bakti seorang anak



Jangan lupa Vote dan ratting bintang lima untuk mendukung Thor


Melihat benda yang ada ditangan Arthur membuat Ichiro menciut, wajahnya pun langsung memucat seketika. Walaupun ia bukanlah seorang Yakuza namun sebagai masyarakat Jepang dia sangat paham dengan benda yang ada ditangan Arthur.


"Jadi anda seorang...


"Sstttt, ada beberapa hal penting yang tak bisa dibicarakan ditempat seramai ini,"ucap Arthur pelan memotong perkataan Ichiro.


Ichiro menelan salivanya dengan susah payah setelah mendengar perkataan Arthur, pada awalnya ia hanya mengira apa yang dipegang Arthur itu adalah sebuah benda yang tak Arthur tau artinya mengingat dia adalah orang asing. Namun setelah mendengar perkataan Arthur ia yakin bahwa pria tampan yang ada dihadapannya itu tau arti benda yang sedang ada digenggaman tangannya, saat Ichiro masih terdiam membatu ia dikagetkan oleh anak buahnya yang memberitahukan bahwa Arthur sudah berjalan pergi menuju ke arah hutan. Sontak Ichiro berlari mengikuti Arthur dengan cepat, ia menahan anak buahnya agar tak mengikutinya.


Michiko tak berkata apa-apa saat melihat Ichiro pergi mengekor di belakang Arthur meninggalkan anak buah Hiro yang tadi datang bersamanya untuk memberikan pelajaran pada Arthur, Minami yang berdiri tak jauh dari tempat Michiko berdiri pun tak kalah kagetnya saat melihat Arthur dengan mudah menaklukkan Ichiro. Biasanya saat Taniguchi Hiro mengalami masalah ia pasti akan meminta Ichiro untuk menyelesaikannya, jadi tak heran jika Ichiro datang ke kampus mengingat kemarin Arthur mengalahkan Hiro dengan telak. Namun saat melihat Ichiro sangat tunduk kepada Arthur semua orang yang ada di tempat menjadi kaget termasuk dengan anak buah Hiro yang tadi datang bersama Ichiro.


"Jadi anda adalah salah satu anggota elite dari yamaguchi-gumi tuan?" tanya Ichiro pelan pada Arthur sambil menunduk.


"Aku bukanlah bagian dari mereka, hanya saja kebetulan aku sangat akrab dengan pimpinan dari Yamaguchi-gumi. Jadi aku memiliki kartu ini," jawab Arthur pelan sambil menunjukkan kartu yang pernah diberikan oleh Kaoru kepadanya namun ia tolak, namun rupanya Kaoru menitipkan kartu itu kepada Maxwell untuk diberikan kepada Arthur dan baru Arthur terima tadi pagi saat bertemu dengan Maxwell sebelum ia berangkat ke kampus.


Brukkk


Ichiro langsung berlutut di hadapan Arthur untuk meminta maaf, ia benar-benar tak tau kalau sasarannya kali ini adalah orang penting dari klan Yakuza terbaik dan paling disegani di Jepang. Sebagai seorang preman ia tentu tahu dengan nama besar Yamaguchi-gumi jadi tak heran jika ia langsung tunduk pada Arthur saat melihat kartu yang dipegang Arthur.


Pada awalnya Arthur merasa kartu yang ia miliki ini tidaklah berguna apa-apa pasalnya ia yakin tidak akan berurusan lagi dengan para Yakuza, namun ternyata baru sebentar ia menunjukkan kartu itu pada Ichiro ia sudah langsung melihat hasilnya. Betapa takutnya Ichiro dengan dirinya saat ini, paska ia tahu kalau ia memiliki kartu VIP dari anggota klan Yamaguchi pimpinan Taoka Kazuo yang tak lain adalah kakek Taoka Kaoru.


"Angkat aku jadi orang mu tuan," pinta Ichiro sungguh-sungguh.


"Aku ingin menjadi anak buahmu tuan Arthur," imbuh Ichiro dengan penuh harap.


"Aku bukan anggota Yakuza Ichiro, kebetulan saja aku kenal dengan pimpinannya. Jadi aku bisa memiliki kartu yang aku anggap tak penting itu," jawab Arthur jujur.


"Kartu itu lebih sakti dari kartu kredit manapun tuan, dengan anda memiliki itu anda bisa menguasai preman jalanan sebanyak apapun," sahut Ichiro dengan suara meninggi.


"Aku tak menginginkan itu semua Ichiro, aku hanya ingin hidup tenang di Jepang. Kuliahku tak terganggu dan bisa menjalani semua aktivitasku dengan nyaman," ucap Arthur sambil tersenyum.


"Kenapa tuan?" tanya Ichiro bingung, padahal bisa menguasai dunia jalanan pasti impian setiap orang.


Glekk


Ichiro terdiam mendengar perkataan pria yang baru ia lihat ini, ia tak pernah menyangka masih bisa bertemu dengan seorang anak yang sangat mengagungkan ibunya seperti Arthur pria yang baru ia temui itu. Rasa kagum Ichiro pada Arthur akhirnya semakin besar, keinginannya untuk menjadi orang Arthur pun semakin kuat.


"Bangunlah Ichiro, kita semua sama. Aku tak suka melihat orang berlutut seperti itu, karena bagiku kita hanya bisa berlutut pada tiga hal saja di dunia ini. Pada Tuhan yang memberikanmu hidup, pada ibu yang melahirkan mu serta ayah yang mendidik mu lalu yang ketiga adalah dia wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anakmu. Selain pada tiga hal itu pantang bagi seorang laki-laki berlutut Ichiro, jadi bangunlah," pinta Arthur pada Ichiro lembut meminta Ichiro bangun.


"Terima aku jadi orangmu tuan," jawab Ichiro dengan suara meninggi.


"Aku tak akan bangun sampai anda mau menerimaku menjadi anak buah anda,"imbuh Ichiro sungguh-sungguh sambil bersujud, keningnya bahkan sampai mencium tanah.


Arthur kaget saat melihat apa yang Ichiro lakukan, pasalnya ia sama sekali tak menginginkan punya anak buah preman. Apalagi saat ini Zarina sudah aman, jadi ia tak mau berhubungan lagi dengan dunia seperti itu. Arthur tau Zarina sangat takut dengan pria yang bertato, maka dari itu Arthur tak bisa menerima Ichiro pasalnya tubuh Ichiro dipenuhi tato hampir tiga puluh persen.


"Wanita yang aku sayangi tak menyukai pria bertato Ichiro, kalau aku menerimamu dia pasti akan ketakutan. Jadi sekali maaf aku menolak permintaanmu, aku harap setelah ini kau akan hidup menjadi pria yang berguna dimasyarakat. Jangan mau dimanfaatkan lagi jadi tukang pukul, nyawamu sangat berharga dari uang yang kau terima Ichiro. Diluar sana masih banyak pekerjaan yang bisa kau lakukan secara halal, jadi kau tak perlu bersusah payah hidup dalam kekerasan seperti ini," ucap Arthur pelan sambil memberikan sepuluh lembar uang pecahan 100 dolar kepada Ichiro.


"Uang ini memang tidak banyak tapi setidaknya dengan ini kau bisa memulai hidupmu dengan baik, aku harap di pertemuan kita yang selanjutnya suatu saat nanti kau bisa menjadi manusia yang seperti aku harapkan Ichiro," imbuh Arthur lirih sambil menepuk pundak Ichiro.


Setelah berkata seperti itu Arthur kemudian berjalan pergi meninggalkan Ichiro sendirian di dalam hutan kecil yang ada di samping kampus, Arthur setengah berlari menuju kampusnya kembali karena jam perkuliahan akan kembali dimulai ia tak mau terlambat sampai di kelas. Ichiro kemudian bangun dari tanah dan menatap kearah Arthur yang sudah hampir sampai di kampus sebuah senyum penuh arti tersungging di wajah Ichiro.


Sesampainya di ruang kelas Arthur menjadi mahasiswa terakhir yang sampai beruntung belum ada dosen yang masuk sehingga ia belum telat mengikuti pembelajaran selanjutnya, semua siswa yang ada di kelas melihat kearah Arthur dengan tatapan tak percaya. Mereka tak percaya saat melihat Arthur baik-baik saja setelah bertemu dengan Ichiro, pasalnya setiap orang yang bertemu dan diajak pergi oleh Ichiro pasti akan kembali dengan tubuh yang sudah babak belur namun kali ini Arthur justru terlihat baik-baik saja tak ada yang berubah sama sekali dari Arthur.


seorang dosen akhirnya datang dan membuat para siswa yang ada di kelas itu mengalihkan pandangannya ke depan mereka mulai berkonsentrasi belajar begitu pula dengan Arthur ia sudah melupakan kejadian yang baru saja ia alami di hutan bersama Ichiro.


"Dimanapun kau berada Kaoru, aku harap kau selalu dilindungi oleh Tuhan. Terima kasih atas pemberianmu ini, aku akan menjaganya baik-baik dan tidak akan pernah menyalahgunakan menggunakan kartu ini. Aku tunggu kepulanganmu kembali ke Jepang Kaoru," ucap Arthur dalam hati sambil memasukkan kartu pembelian Kaoru ke dalam saku bajunya.


Quebec, Kanada.


Shelomita terlihat duduk di ranjang mahalnya sambil menatap laptop, sudah berhari-hari ia berusaha mencari keberadaan Arthur melalui semua sosial media miliknya. Shelomita melacak aktivitas terakhir yang dilakukan oleh Arthur namun usahanya sia-sia, pasalnya Arthur sudah menonaktifkan semua sosial medianya.


"Aku tak akan menyerah kak, aku pasti akan menemukanmu dan membawamu pulang kak Arthur. Tak ada wanita manapun yang pantas bersanding denganmu kecuali aku Shelomita Hector," ucap Shelomita pelan sambil meraba foto Arthur yang terpasang di wallpaper ponselnya.


🌺 To be continued🌺