
Jangan lupa Vote dan Ratting bintang lima untuk mendukung Thor
Setelah menempuh perjalanan selama 19 jam jam 40 menit pesawat yang ditumpangi Arthur akhirnya mendarat dengan selamat di bandar udara internasional Narita, karena Arthur akan kuliah di Tokyo institute of technology ia akhirnya harus pergi ke Tokyo dengan menggunakan Narita Express ( N'EX) dari bandara Narita ke stasiun Tokyo.
Sebenarnya Arthur bisa saja turun di Tokyo akan tetapi ia memilih turun di Narita karena ingin merasakan sensasi naik N'EX yang merupakan kereta termahal dari Narita, perjalanan menggunakan N'EX ke Tokyo station membutuhkan waktu 53 menit dengan interval 30 menit. Karena semua kursi di kereta Narita Express adalah reserved seat jadi Arthur sudah membookingnya terlebih dahulu di JR office dua hari sebelum keberangkatannya menuju ke Jepang dan karena Arthur sudah membeli JR pass maka ia naik kereta next secara gratis.
"成田エクスプレスへようこそ," sapa seorang petugas pada Arthur ketika Arthur akan masuk ke dalam kereta Narita Express.
( Narita ekusupurensu e yokoso / Selamat datang di Narita ekspres )
"ありがとう," jawab Arthur dengan cepat sambil menganggukkan kepalanya.
( arigatou / terima kasih )
Arthur kemudian masuk ke dalam kereta Narita Express, karena ia sudah membooking bangkunya sebelumnya Arthur akhirnya bisa duduk dengan nyaman di samping jendela. Ia sengaja memilih kursi di samping jendela karena ingin menikmati pemandangan sepanjang perjalanan dari Narita ke Tokyo tempat tujuannya selanjutnya.
Arthur sebenarnya tidak begitu lancar berbicara dengan bahasa Jepang, ia masih memegang sebuah kamus kecil di saku bajunya untuk percakapan sehari-hari selain alat penerjemah otomatis yang diberikan oleh Archie sang daddy. Untuk anak muda yang tinggal di kota sudah banyak yang bisa menggunakan bahasa Inggris, akan tetapi untuk para orangtua dan beberapa pegawai yang bekerja di toko-toko kecil tidak semuanya bisa menggunakan bahasa Inggris. Oleh karena itu Arthur bertekad ingin mempelajari bahasa Jepang walaupun ia kesulitan, agar bisa berkomunikasi dengan warga lokal.
Tokyo institute of technology atau yang biasa disingkat dengan Tokyo Tech adalah universitas negeri yang telah berusia lebih dari 130 tahun, universitas ini memiliki 1200 mahasiswa internasional. universitas yang memiliki 3 kampus ini menawarkan 1 program S1 dan beberapa program S2 serta S3 dalam bahasa Inggris Oleh karena itu Arthur memilih tempat ini untuk melanjutkan kuliahnya.
Arthur masuk di jurusan life science and technology di Tokyo Tech, walaupun sebenarnya ia sudah kuliah di Kanada akan tetapi ia mulai kuliah kembali di Tokyo Tech sebagai mahasiswa baru dan hal ini tidak masalah bagi Arthur karena baginya semakin banyak ilmu semakin baik.
"Rasanya sangat tidak sabar untuk ke kampus besok untuk registrasi terakhir sebelum mulai kuliah," ucap Arthur pelan penuh semangat.
Sebenarnya Arthur sudah mengikuti seleksi ujian masuk mahasiswa asing di Tokyo Tech tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya, ia melakukan seleksi itu diam-diam dan akhirnya diterima setelah melewati beberapa tes secara cara langsung melalui video call beberapa apa minggu sebelumnya ketika ia masih di Kanada. Dari awal Arthur memang sudah berniat ingin kuliah di Jepang dengan atau tanpa restu kedua orang tuanya, oleh karena itu ia memberanikan diri untuk melakukan tes di Tokyo Tech walaupun pada akhirnya ia berbicara jujur kepada orang tuanya dan meminta izin secara langsung.
Kereta Narita Express akhirnya sampai di stasiun Tokyo setelah menempuh perjalanan selama 53 menit, Arthur segera keluar dari stasiun untuk mencari taksi yang akan mengantarnya ke apartemen. Sebenarnya di Tokyo Tech menyiadakan asrama akan tetapi karena Arthur belum kuliah ia tak bisa masuk ke asrama, maka dari itu ia mencari apartemen untuk ia tinggali selama beberapa waktu sebelum kuliah dimulai. Arthur sudah menyewa sebuah apartemen didekat kampus dengan harga yang lumayan mahal karena apartemen itu adalah salah satu apartemen mewah, di apartemen itu biasa ditinggali oleh para ekspatriat dan para pengusaha kaya lainnya bahkan para atlet terkenal dan artis serta model juga tinggal di apartemen yang disewa Arthur selama satu tahun itu.
Dengan menggunakan taksi Arthur akhirnya sampai di apartemen tempat tinggal barunya, ia lalu mengeluarkan barang-barangnya dari dalam taksi dibantu oleh sang driver yang baik hati mau membawakan barang barang atur sampai ke dalam lift. Driver taksi itu bahkan menolak tip yang diberikan oleh Arthur karena menurutnya uang ongkos taksi yang diberikan Arthur sudah sangat tinggi. Kamar Arthur ada di lantai 25 yang mana dari kamar tidurnya ia bisa melihat sepertiga wilayah Tokyo, jadi tidak heran kalau harganya lebih mahal daripada lantai-lantai di bawahnya.
"Sepertinya aku harus membeli beberapa makanan untuk isi kulkas, tak mungkin aku makan di luar terus," ucap Arthur dalam hati setelah merapikan barang-barangnya di dalam lemari.
Arthur kemudian turun ke lobi dengan menggunakan jaket tebalnya karena di Jepang sedang musim dingin, dengan berjalan kaki Arthur berjalan menuju supermarket. Sebenarnya sang ayah ingin langsung membelikannya sebuah mobil kepadanya, akan tetapi ia menolak dengan alasan belum memiliki SIM internasional.
Sesampainya di supermarket Arthur langsung mengambil keranjang untuk mulai berbelanja, para gadis yang ada didalam supermarket terpesona ketika melihat Arthur. Mereka nampak tersihir saat melihat ketampanan Arthur yang diatas rata-rata, tubuh tegap dan rahangnya yang kokoh menambah kejantanan Arthur. Hasil berlatih selama bertahun-tahun di gym benar-benar membuat Arthur nampak seperti seorang artis yang sering muncul di film laga.
Bruk
"Awww....its hurt, " ucap seorang gadis yang jatuh di hadapan Arthur.
"Saya baik-baik saja, saya yang ceroboh tuan....
"Arthur," ucap Arthur memperkenalkan namanya, karena gadis yang ada dihadapannya mengulurkan tangan ke arahnya.
"Victoria," sahut sang gadis itu menyebutkan namanya.
"Ok nona Victoria ayo bangun, sangat tidak nyaman terus duduk dilantai seperti ini," ucap Arthur pelan sambil mengulurkan tangannya pada Victoria untuk membantunya bangun.
Tanpa berpikir panjang Victoria langsung meraih tangan Arthur, ia lalu berdiri di hadapan Arthur dengan mata berbinar-binar karena tujuannya untuk berkenalan dengan Arthur akhirnya tercapai walaupun ia harus terjatuh seperti tadi di hadapan banyak orang.
Arthur kemudian mengajak Victoria untuk duduk di sebuah cafe yang ada di pusat perbelanjaan itu untuk beristirahat sementara karena kasihan melihat Victoria yang baru saja jatuh.
"Kau belanja sendiri Arthur?" tanya Victoria pada Arthur sambil melihat keranjang belanjaan Arthur yang hampir penuh.
"Iya, kau sendiri bagaimana?" tanya balik Arthur singkat.
"Aku juga, aku tak mudah percaya dengan orang asing. Jadi aku lebih suka bepergian sendirian seperti saat ini," jawab Victoria dengan nada memelas.
"Lalu kenapa kau mau berkenalan denganku, bukankah aku juga orang asing?" tanya Arthur kembali sambil meneguk kopi yang ada di hadapannya.
"Kau berbeda Arthur, aku bisa merasakan auramu yang baik. Oleh karena itu aku percaya padamu," jawab Victoria perlahan sambil menyentuh tangan Arthur yang ada di hadapannya.
Arthur langsung menarik tangannya dari genggaman tangan Victoria, ia lalu berdiri dan menatap Victoria dengan tajam.
"Maaf Victoria aku harus segera pulang karena hari sudah malam senang bertemu denganmu nona Victoria," ucap Arthur dengan cepat berpamitan pada Victoria.
Victoria hanya tersenyum tipis melihat mendengar atau berpamitan kepadanya Ia pun hanya bisa menatap punggung Arthur yang semakin lama menjauh dari dirinya.
"Arthur.... nama yang sangat indah seindah pemiliknya, aku akan pastikan kau akan menjadi milikku Arthur," batin Victoria sambil tersenyum tipis ke arah Arthur yang sudah menghilang dari pandangan matanya.
🌺To be continued🌺
Jangan lupa Vote dan Ratting bintang lima untuk mendukung Thor, terima kasih kakak-kakak.
Love u kakak-kakak.