
Jangan lupa untuk vote dan Ratting bintang lima untuk mendukung Thor, Terima kasih.
Zarina yang seumur hidupnya belum pernah sedekat ini dengan lawan jenisnya merasa sangat gugup, dipangku oleh Arthur diatas perutnya membuat Zarina tak bisa bergerak dengan bebas. Ia bahkan tak berani menatap mata Arthur yang saat ini sedang menatapnya dengan tajam, Zarina mencoba untuk memalingkan wajahnya ke arah lain karena posisi Arthur yang ada dibawah membuatnya mau tak mau harus menatap wajah Arthur.
"Kapan aku bisa turun dari tubuhmu tuan...rasanya sangat tidak nyaman," ucap Zarina pelan.
"Emmmm kau tak bisa turun dari atas tubuhku sebelum kau mengingat peraturan yang sudah kita sepakati kemarin Zarina," sahut Arthur dengan cepat meolak permintaan Zarina.
"Tapi aku...
"Kalau kau tak bisa mengingatnya juga maka kita akan seperti ini terus sepanjang hari dan jangan salahkan aku jika tak bisa mengusai diriku," ucap Arthur pelan menggoda Zarina.
"No...tunggu tunggu aku akan mengingatnya!!!" jerit Zarina panik sambil memukul dada Arthur tanpa sadar, wajahnya langsung memerah saat berkata seperti itu.
Arthur yang dari awal memang tak punya niat untuk menyentuh Zarina merasa kasian pada gadis yang sedang ia pangku itu, tapi karena melihat ekspresi ketakutan dari Zarina membuat Arthur justru merencankan untuk mengerjai gadis cantik itu lebih lama. Berada sedekat ini dengan Zarina membuat Arthur damai, entah kenapa padahal ia tak melakukan apapun pada Zarina. Hanya kulit perutnya saja yang menyentuh paha Zarina akan tetapi Arthur merasa nyaman.
Setelah berfikir selama hampir lima menit akhirnya wajah Zarina berubah dengan drastis, sepertinya ia sudah berhasil mengingat isi kontrak yang sudah ia tanda tangani kemarin dengan Arthur di atas materai.
"Sebutkan satu persatu-satu," ucap Arthur pelan sambil menggelengkan kepalanya, ia menolak menurunkan Zarina padahal Zarina sudah mengingat satu persatuaran yang ia mau.
"T--tapi tadi kan anda bilang kalau aku hanya perlu mengingat satu peraturan yang aku langgar, bukan untuk mengingat semua peraturannya tuan," sahut Zarina ketus menahan emosi, ia merasa seperti sedang dipermainkan oleh Arthur.
"Heiii...aku adalah bosmu, ada yang harus kau tau disini bahwa bos tidak pernah salah Zarina," jawab Arthur singkat.
Zarina akhirnya sadar bahwa ia sedang dikerjai oleh Arthur, karena kesal ia memukul dada Arthur berkali-kali dengan wajah merah menahan kesal dan malu.
"Kau menyebalkan, turunkan aku," ucap Zarina ketus.
"Kalau aku tak mau kau mau apa?" tanya Arthur singkat sambil mencengkram pinggag Zarina lebih kuat.
"Aku tak mau lagi bertemu denganmu dan tak mau..aawww
Zarina menjerit kaget saat tubuhnya ditidurkan oleh Arthur di sofa dengan posisi Arthur sedang ada diatasnya dalam jarak yang sangat dekat, saat Zarina berusaha melepaskan diri dari Arthur tiba-tiba saja Arthur sudah menurunkan tubuhnya dan mendaratkan ciumannya di bibir Zarina dengan cepat tanpa bisa dihindari oleh Zarina. Arthur yang sudah terbiasa berciuman baru menyadari bahwa Zarina tak bisa berciuman itu terbukti dengan betapa kerasnya usaha Zarina untuk melepaskan mulutnya dari mulut Arthur yang sedang menciumnya tanpa ampun, lidah Arthur bahkan mulai menyusuri bagian dalam mulut Zarina dengan mudah karena tak ada perlawanan apapun dari Zariana.
Arthur baru melepaskan lumatannya dari bibir Zarina saat merasakan air mata Zarina tertelan olehnya, ia yang sedang memejamkan kedua matanya langsung membuka kedua matanya lebar-lebar saat menyadari kalau Zarina sedang menangis tanpa suara. Tanpa diperintah Arthur langsung melepaskan kunkungannya dari tubuh Zarina sehingga Zarina akhirnya bebas dari dirinya yang tadi menindihnyaa.
"Heii...jangan menangis aku tak melakukan apapun Zarina aku hanya...
"Kau memaksaku hisss," sahut Zarina terbata memotong perkataan Arthur sambil menyeka bibirnya dengan punggung tangannya seolah sedang membersihkan jejak bibir Arthur disana.
"Kau terlalu cantik dan aku tak bisa menguasai diriku Zarina mafkan aku," ucap Arthur jujur .
Zarina terdiam mendengar perkataan Arthur yang tak ia sangka akan mendengar hal seperti itu dari mulut Arthur yang menjadi majikannya dan baru ia kenal beberapa hari itu.
"A--aku mau pulang," sahut Zarina terbata dengan cepat mencoba mengalihkan pembicaraan, ia lalu bangun dari sofa dan berjalan menuju ke kamar Arthur untuk mengambil tasnya yang ada diatas nakas.
Saat sudah menggendong tas sekolahnya yang sudah tak layak pakai dan siap untuk meninggalkan apartement Arthur tiba-tiba ia tak bisa bergerak karena Arthur yang sedang berdiri didepan pintu keluar langsung berjalan ke arahnya dan menggendongnya dipundak seperti sedang menggendong karung beras.
"Tuan apa yang kau lakukan!!!" pekik Zarina keget sambil memukul punggung Arthur supaya diturunkan.
"Tuannn...please...
Suara Zarina hilang dan berganti dengan sebuah teriakan kaget karena Zarina sudah dilemparkan Arthur diatas tempat tidurnya, rupanya Arthur membawa Zarina kedalam kamar. Zarina langsung membuat pertahanan saat menyadari kalau saat ini posisinya sedang tak menguntungkan, ia langsung mundur ke sisi terjauh dari ranjang sehingga ia menempel dengan dinding mencoba untuk menjauhi Arthur.
"Apa yang mau anda lakukan tuan?" tanya Zarina pelan dengan suara bergetar menahan tangis, kedua matanya berkilat menunjukkan kewaspadaan.
"Aku ingin memberitahumu sesuatu Zarina,"jawab Arthur singkat sambil naik ke atas ranjang menuju ke arah Zarina yang sudah beringsut ke sudut ranjang.
"A--aku tak mau tau apapun, jadi kau tak perlu memberitahuku tuan," sahut Zarina semakin ketakutan karena Arthur sudah ada dihadapannya lagi.
"Ingat ini baik-baik aku tak akan mengulanginya lagi, kau adalah milikku Zarina. Kau milik Arthur Sebastian mulai detik ini jadi kau tak bisa pergi atau menjauh dariku, jika aku tak mengijinkanmu pergi maka kau tak bisa pergi. Apa kau mengerti Zarina!!!" ucap Arthur dingin sambil meraih dagu Zarina yang tertunduk ke arahnya.
"Apa kau mengerti Zarina?" tanya Arthur kembali dengan tak sabar karena Zarina hanya diam tak merespon perkataanya.
Zarina yang masih bingung dengan perkataan Arthur bingung akan menjawab apa, ia masih tak mengerti dengan arah perkataan Arthur.
Cup
Arthur memberikan sebuah kecupan lembut dibibir Zarina dengan cepat yang membuat Zarina kaget.
"Ingat perkataanku tadi, mulai hari ini kau millikku milik Arthur Sebastian seorang," bisik Arthur lirih sambil menatap tajam ke mata Zarina penuh arti.
🌺To be continued🌺
Jangan lupa Vote dan Ratting bintang lima untuk mendukung Thor, terima kasih kakak-kakak.
Love u kakak-kakak