Faith 2 The Return Of The Prince

Faith 2 The Return Of The Prince
Merintis bisnis sendiri



Jangan lupa vote dan ratting bintang 5 untuk mendukung Thor


Terima kasih


Di gang samping SMA Tokyo Gei Ongaku sebuah mobil Honda Civic butut milik Arthur berhenti, didalam mobil Arthur masih berusaha menahan Zarina agar tak kembali ke asrama. Namun Zarina gak bisa mengabulkan permintaan Arthur karena ia harus kembali ke asrama, jam penutupan pintu gerbang pun hampir tiba namun Arthur masih belum mengijinkan Zarina untuk turun dari mobilnya.


"Aku sakit dan kau mau pergi, jahat itu namanya," ucap Arthur berkali-kali mencoba menahan Zarina


"Bukankah tadi dokter Yamamura mengatakan tanganmu baik-baik saja, lagipula ada Maxwell yang akan menjagamu jadi kau tak usah khawatir," sahut Zarina pelan.


"Aku begini karena siapa?!" tanya Arthur ketus.


"Iya maaf, tapi aku tak bisa menjagamu. aku harus kembali ke asrama, mulai minggu depan aku sudah masuk ujian akhir. Jadi aku tak bisa membolos," jawab Zarina lirih, ia merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Arthur.


Arthur terdiam mendengar perkataan Zarina, ia tau kalau bagai seorang siswa yang tinggal di asrama sekolah tak bisa keluar sembarangan dari asrama karena hal itu akan berpengaruh pada nilai kedisiplinan yang akan mempengaruhi nilai akhir, setelah berdebat hampir 15 menit Arthur akhirnya mengalah ia mengijinkan Zarina untuk kembali ke asrama karena Zarina hampir menangis ketika Arthur memaksanya untuk tetap tinggal dan meminta Marcel untuk kembali ke apartemen.


"Sampai jumpa dua minggu lagi," ucap Sherina pelan ketika sudah keluar dari dalam mobil milik Arthur.


Setelah berkata seperti itu Zarina kemudian berlari menuju pintu gerbang sekolahnya karena jam malam hampir tiba dan mengharuskan pintu sekolah di tutup, Arthur hanya diam dan melihat kearah Zarina berlari menuju sekolah danbakhirnya tak terlihat Lagi di pandangan matanya.


"Kenapa tadi Zarina bilang baru bisa bertemu dua minggu lagi?" tanya Maxwell pelan beberapa saat setelah pergi meninggalkan area SMA Tokyo Gei Ongaku.


"Karena sudah masuk masa ujian dan dia tidak diperbolehkan untuk keluar dari sekolah," jawab Arthur dengan cepat.


"Oh jadi dia akan ujian pantas saja tak diperbolehkan keluar dari sekolah," ucap Maxwell sambil tersenyum dan terus berkonsentrasi membawa mobil menuju apartemen Arthur.


"Serumit inikah anak SMA di Jepang, dulu aku waktu sekolah di Kanada tidak seperti ini," celetuk Arthur lirih, ia menyayangkan peraturan sekolah yang mengharuskan Zarina untuk tetap stay di asrama selama dua minggu kedepan.


"Kondisimu dan kondisi Zarina sangat bertolak jauh, ia tinggal seorang diri di negara ini dan berjuang untuk hidupnya. Untung saja pihak sekolah masih berbaik hati mengijinkannya tinggal di asrama, aku yakin kalau misalkan pun ia tinggal sendirian di luar sana aku bisa menjamin entah ia masih bisa melanjutkan sekolahnya atau tidak. engingat betapa mahalnya biaya hidup di kota ini," sahut Maxwell pelan mencoba untuk menyadarkan Arthur atas posisi Zarina yang serba salah.


"Ok, aku pulang. Lebih baik kau segera istirahat dan obati lukamu setelah mandi, ingat yang dipesan oleh dokter Yamamura tadi," ucap Maxwell pelan ketika Arthur turun dari mobil saat mereka sudah sampai di apartemen milik Arthur.


"Jangan cerewet, aku tau," coba Arthur dengan cepat sambil melihat obat yang diberikan oleh dokter Yamamura sebelumnya.


"Ya sudah kalau begitu aku pulang dulu selamat malam dan selamat beristirahat bos," pamit Maxwell pelan sambil melambaikan tangannya kearah Arthur, ia lalu memacu mobil milik Arthur menuju ke apartemen lamanya untuk merapikan barang-barang karena besok pagi ia ingin segera pindah ke apartemen barunya.


Arthur kemudian masuk ke dalam apartemen ketika mobil miliknya yang dibawa oleh Maxwell sudah tak terlihat lagi di depan matanya, dengan langkah gontai Arthur masuk ke dalam apartemennya seorang diri. Sesampainya di kamarnya yang ada di lantai 25, Arthur lalu berjalan menuju kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya sebelum tidur. Ia juga harus mengoleskan salep yang diberikan oleh dokter Yamamura untuk mengobati luka luka di tangannya setelah tubuhnya bersih.


Di bawah guyuran shower yang mengalirkan air hangat Arthur berdiri sambil memejamkan matanya, ia memikirkan perkataan Maxwell sebelumnya tentang Zarina. Sebenarnya dalam hal ini Zarina tidak bersalah, karena ia adalah seorang siswi yang masih terikat dengan peraturan mutlak SMA Tokyo Gei Ongaku. Arthur lah yang bersalah disini karena ia tak mau berpisah dengan Zarina, ia merasa bahwa dirinya lah yang paling benar di sini. Padahal sebenarnya posisi Zarina pun tak memungkinkan untuk ia tetap ada di luar sekolah karena ia mempunyai kewajiban untuk tetap tinggal di dalam asrama selama ia masih menjadi siswa SMA Tokyo Gei Ongaku.


"Satu bulan lagi Zarina, ya satu bulan lagi kau tinggal di asrama itu. Setelah acara kelulusan mu tiba kau bisa tinggal di apartemen barumu," ucap Arthur pelan sambil membuka kedua matanya.


Tak terasa Arthur sudah tinggal di Jepang selama hampir 6 bulan, selama itu pula ia menghabiskan hari-harinya bersama Zarina dan Maxwell kemanapun ia pergi setelah pulang kuliah. Ia akhirnya memutuskan untuk membelikan Zarina dan Maxwell apartemen yang berdekatan karena ingin memastikan Zarina tetap aman dalam pengawasannya walaupun mereka sedang berjauhan.


Sebenarnya apartemen milik Zarina dan Maxwell bukan apartemen pertama yang ia beli di Jepang, ia sebelumnya sudah membeli 5 unit apartemen type studio yang sama di gedung yang lain. Arthur menginvestasikan uang pribadi miliknya hasil ia menyimpan uang jajannya sisa pemberian kedua orangtuanya selama hampir enam bulan tinggal di Jepang, ia menyisihkan uang itu dan menginvestasikannya kedalam bentuk apartemen. Arthur berharap bisa mempunyai penghasilan sendiri dari hasil sewa apartemen yang sudah ia beli itu, ia mengingat dengan cerita awal mula ibunya bisa memiliki bisnis apartemen. Oleh karena itu ia ingin menjajal peruntungan yang sama di negara orang, walaupun tipe apartemen yang ia beli adalah tipe terendah dari apartemen-apartemen mewah milik sang ibu yang ada di Indonesia. Namun ia sudah cukup bangga bisa memiliki 5 unit apartemen yang sudah menghasilkan banyak uang untuk nya selama ia tinggal di Jepang 5 bulan terakhir ini.


Saat Arthur sudah selesai mandi tiba-tiba ponsel pintarnya yang ada di atas nakas berdering dengan keras, ia lalu berjalan menuju kamarnya dan meraih ponselnya untuk melihat pesan yang masuk itu. Senyumnya mengembang saat melihat sebuah notification masuk yang memberitahukan bahwa ia mendapat tambahan saldo dari perusahaan sang ibu yang ada di Indonesia, ibunya memang mengatakan bahwa keuntungan dari sewa apartemen yang ada di Indonesia akan dialihkan ke rekening Arthur sebanyak 50%. Oleh karena itu dia tiap bulan mendapatkan pendapatan yang tidak sedikit dari perusahaan sang ibu yang ada di Indonesia.


"Aku harus mengelola uang ini dengan baik, tak selamanya aku selalu bergantung kepada mommy," ucap Arthur dalam hati, ia tersenyum tipis saat melihat jumlah angka yang masuk dalam rekeningnya.


Sebuah senyum lebar tersungging di wajah Arthur, ia tiba-tiba memikirkan satu bisnis baru yang ingin ia buka sejak lama di Jepang.


"Ya bisnis itu, selain jual beli apartemen aku bisa menjalankan bisnis itu," ucap Arthur penuh semangat.


🌺 to be continued 🌺