Faith 2 The Return Of The Prince

Faith 2 The Return Of The Prince
Aku bukan Yakuza



Jangan lupa Vote dan ratting bintang lima untuk mendukung Thor


Matahari kembali terbit di ufuk timur memberikan kehangatan lagi pada bumi yang baru saja di peluk kegelapan malam, semua penduduk bumi satu persatu mulai menampakan aktivitasnya kembali seperti hari kemarin.


Begitu pula dengan penghuni apartemen mewah di tempat Arthur tinggal, beberapa pekerjaannya sudah mulai sibuk dari pagi. Namun hal yang sangat kontras terlihat di kamar Arthur yang ada di lantai 25, dikamar itu tak terlihat aktivitas apapun seperti sedang tak ada penghuni. Pasalnya Arthur dan Zarina belum ada yang membuka mata walaupun matahari sudah mulai meninggi, hari ini Arthur tak ada kuliah pagi oleh karena itu ia sengaja bangun siang. Ia masih ingin menikmati waktu tidur lebih lama bersama Zarina yang ada di pelukannya, sudah tiga hari ini Arthur tidur bersama Zarina. Walaupun mereka tidak melakukan apapun namun rasanya sangat nyaman ketika tidur bersama wanita yang sudah mencuri hatinya, sehingga setiap waktu yang ia habiskan bersama Zarina begitu berharga.


Zarina terbangun karena merasakan perutnya berasa berat, ia lalu membuka matanya dan menyandari bahwa tangan besar Arthur tengah melingkar di perut ratanya.


"Ya Tuhan sudah jam sembilan pagi, tuan bangun sudah jam sembilan apa kau tak pergi kuliah?" tanya Zarina pelan sambil menggoncang-goncang tubuh Arthur perlahan.


"Tuann...


"Jangan berisik, kau menggangu tidurku Zarina," jawab Arthur ketus sambil mengencangkan pelukannya pada Zarina.


"Sudah jam sembilan pagi, apa kau tak kuliah?" tanya Zarina kembali.


"Tidak, makanya itu aku aku tidur," jawab Arthur singkat.


"Kau juga harus tidur bersamaku, aku tak bisa tidur tanpa memelukmu," imbuh Arthur dengan cepat sehingga membuat Zarina yang sudah membuka mulutnya tak jadi berbicara.


"Tapi aku ingin ketoilet, aku sudah tak tahan," ucap Zarina memelas, buku kuduknya sudah bangun karena menahan buang air kecil.


Arthur langsung melepaskan tangannya dari tubuh Zarina saat mendengar perkataan terakhir gadis yang hampir menangis itu, Zarina pun langsung berlari menuju kamar mandi karena sudah tak tahan. Dari jam tiga pagi saat Arthur naik ke tempat tidur ia tak dilepaskan sama sekali dari pelukannya, alhasil Zarina harus menahan keinginannya untuk kekamar mandi karena tak mau mengganggu Arthur yang tertidur pulas.


Tak lama kemudian Zarina terlihat keluar dari kamar mandi, ia sudah lega ketika bisa buang air kecil.


"Apakah perlu waktu lima menit delapan belas detik ada dikamar mandi untuk buang air kecil ?" tanya Arthur pelan mengagetkan Zarina.


"Kenapa berdiri disitu tanpa suara?" protes Zarina sambil menyentuh dadanya.


"Kau belum menjawab pertanyaanku Zarina, jadi kau tak berhak bertanya balik padaku," jawab Arthur ketus sambil mendekati Zarina.


Zarina berjalan mundur saat Arthur mendekatinya Sampai akhirnya dia membentur dinding kamar mandi dan berada sangat dekat sekali dengan atur yang berdiri di hadapannya.


"Aku tadi sikat gigi dan cuci muka juga, makanya membutuhkan waktu agak lama tuan," ucap Zarina lirih.


Arthur perlahan mengangkat wajah Zarina yang tertunduk menggunakan jari telunjuknya sehingga membuat Zarina menengadah ke atas.


"Kau takut padaku?" tanya Arthur tiba-tiba.


"Sedikit," jawab Zarina jujur.


"Apa yang membuatmu takut padaku?" tanya Arthur kembali.


"Aku kan bukan Yakuza," imbuh Arthur lirih menambahkan perkataannya yang sebelumnya.


Deg


Kedua mata Zarina yang sebelumnya sayu langsung membulat sempurna saat mendengar perkataan Arthur yang membahas Yakuza, raut ketakutan terpancar di wajah Zarina dengan cepat.


"Hei hei hei, kau kenapa?aku kan bilang bahwa aku bukan Yakuza, lalu kenapa kau menangis?" tanya Arthur panik saat melihat wajah Zarina sudah dibasahi dengan air mata.


"Di dunia ini tak ada penjahat yang mau mengaku, a--apa maumu sebenarnya sampai kau menahan ku seperti ini tempatmu?apa kau mau menjualku seperti para Yakuza lainnya?" tanya Zarina terbata-bata dengan lirih.


Arthur terdiam saat melihat Zarina menangis, sebenarnya Arthur hanya menggoda Zarina dengan membahas Yakuza. Namun rupanya mendengar kata Yakuza benar-benar membuat Zarina tidak bisa menguasai dirinya, ia benar-benar takut dengan mafia Jepang itu. Kenangan buruk tentang ibunya yang meninggal karena Yakuza benar-benar membuatnya sangat takut saat mendengar kata itu, Arthur lalu memeluk Zarina dengan erat berusaha menenangkan Zarina.


"Aku bukan Yakuza Zarina, aku bukan bagian dari mereka jadi kau tak perlu takut padaku," bisik Arthur berulang-ulang.


"Jangan menangis lagi, aku tak bisa melihatmu menangis Zarina," ucap Arthur pelan sambil menepuk-nepuk punggung Zarina dengan perlahan.


"Kalau kau bukan bagian dari mereka lalu kenapa kau harus membahas itu tadi?" tanya Zarina terbata.


"Aku hanya menggodamu saja tanpa ada maksud apa-apa, lagipula kau bisa mengecek aku Yakuza atau bukan sekarang kalau kau tak percaya padaku," jawab Arthur dengan cepat sambil melepaskan pelukannya dari Zarina.


"Bagaimana caranya aku gak tau," ucap Zarina pelan.


"Ciri khas seorang Yakuza adalah memiliki tato yang banyak di tubuhnya, selama kau tinggal bersamaku apakah kau melihat ada tato di tubuhku. Kalau memang ada sebutkan di mana dan bergambar apa?" tanya Arthur pelan sambil bersiap membuka kancing piyama tidurnya.


Zarina terdiam mendengar perkataan Arthur, selama ini ia memang tak melihat ada tato di tubuh Arthur, tubuhnya terlihat sangat bersih dari tinta tato. Bahkan Arthur pun tak memiliki tindik di telinga atau di bagian tubuh lainnya, senyum Arthur mengembang saat melihat Zarina terdiam. Tiba-tiba terbesit sebuah ide jahil di otak cerdas Arthur untuk mengenai Zarina yang berani menuduhnya sebagai Yakuza.


"Kau kan belum melihat tubuh bagian bawahku, kalau begitu aku buka semua pakaianku supaya kau bisa mengeceknya sendiri ya," ucap Arthur pelan dengan nada menggoda mencoba memprovokasi Zarina sambil bersiap melepaskan tali yang mengikat celana tidurnya.


"Jangannn!!! aku percaya jangan buka celanamu dihadapanku!!!" jerit Zarina panik sambil menutup kedua matanya menggunakan telapak tangannya dengan cepat, wajahnya pun sudah terlihat sangat memerah.


"Tadi kau menuduhku, saat aku akan membuktikan kenapa kau takut?" tanya Arthur lirih ditelinga Zarina.


"A--aku percaya, aku percaya kau bukan bagian dari mereka. Jangan lakukan itu tuan," jawab Zarina setengah berteriak sambil memeluk Arthur dengan cepat, berusaha menahan Arthur agar tak melepaskan celana dihadapannya.


Arthur menahan tawa saat Zarina memeluknya dengan erat, ini adalah pertama kalinya Zarina berinisial memeluknya. Arthur terlihat sangat menikmati sekali pelukan Zarina, ia lalu melepaskan tangannya yang sedang dipeluk Zarina. Perlahan ia mendorong Zarina menjauh dari tubuhnya lalu ia menatapnya tajam.


"Aku tak mungkin menjadi Yakuza Zarina, gak ada niat sedikitpun dalam diriku menjadi bagian dari mereka. Kau bisa pegang perkataan ku," ucap Arthur pelan sambil tersenyum.


"Benarkah?" tanya Zarina dengan cepat.


"Sure, aku punya alasan tersendiri untuk tak bergabung di dunia itu. Apalagi ditambah kau sangat ketakutan dengan mereka, jadi aku makin tak tertarik bergabung Zarina," jawab Arthur melembut.


"Aku tak mau wanitaku takut kepadaku karena aku menjadi Yakuza," imbuh Arthur lirih menambahkan perkataannya yang sebelumnya.


"Tuan anda mmpphh...


Zarina tak bisa menyelesaikan perkataannya karena Arthur sudah menciumnya, ia pikir Arthur belum menyikat gigi namun ternyata aroma mint segar justru terasa sangat menyengat dari mulut Arthur.


"Kau milikku Zarina, aku tak mau membuatmu takut padaku," ucap Arthur lirih tanpa melepaskan ciumannya dari bibir Zarina.


🌺 to be continued🌺