
Jangan lupa untuk vote dan Ratting bintang lima untuk mendukung Thor, Terima kasih.
Hari ini Zarina tidak ada jadwal untuk datang ke apartemen Arthur, oleh karena itu Arthur tak pergi menjemputnya. Padahal hari ini ia sangat ingin sekali bertemu dengan Zarina dan memeluknya erat, pasca mendengar cerita tentang ibunya yang meninggal secara tragis karena mempertahankan kehormatan dan harga diri nya.
"Kau sebenarnya mau mengajakku kemana?" tanya Maxwell berkali-kali pada Arthur yang sibuk mengendarai mobilnya.
"Entah lah, aku hanya ingin menangkan diri," jawab Arthur singkat.
"Aku tau tempat untuk menenangkan diri yang bagus, apa kau mau tau?" tanya Maxwell kembali.
"Aku tau apa yang ada dalam otakmu Maxwell, jangan coba-coba. Aku tak ada nafsu dengan wanita lain kecuali Zarina, jadi hilangkan ide kotormu itu," jawab Arthur dingin, ia sudah bisa menebak kemana maksud akan mengajaknya pergi.
Maxwell hanya tertawa tanpa suara mendengar perkataan Arthur, ia lalu menutup mulutnya dan membiarkan Arthur membawa mobil ke tempat yang ia inginkan. saat Maxwell akan memasang headset di telinganya tiba-tiba Arthur menginjak rem mobil Honda Civic bututnya dengan tiba-tiba, sehingga membuat ponsel yang ada di pangkuan Maxwell jatuh.
"Apa yang terjadi?" tanya Maxwell ketus.
"Lihatlah," jawab Arthur singkat sambil menunjuk ke arah depan dimana sedang terjadi kemacetan akibat mobil bus sebuah sekolah ditabrak oleh sebuah mobil.
"What the...
"Zarina!!!!" pekik Arthur keras saat melihat Zarina berdiri diantara para siswi lainnya yang turun dari bus dengan ketakutan.
Mendengar Arthur menyebut nama Zarina membuat Maxwell tak bisa menyelesaikan perkataannya, ia lalu melihat ke arah yang sama di mana Arthur sedang lihat saat ini. Kedua matanya pun langsung membelalak ketika melihat ada 30 orang siswi dari SMA Tokyo Gei Ongaku sedang ketakutan di bawah ancaman beberapa orang preman yang mengelilingi mereka.
Dengan cepat Arthur keluar dari mobilnya menuju ke tempat pada siswi itu ditawan begitu pun dengan Maxwell, saat sampai ke tempat itu Arthur tak dapat mendekat ke arah Zarina karena sang penawan sedang menahan satu teman Zarina untuk dijadikan tameng dengan mengarahkan pisau lipatnya ke leher gadis malang yang sedang ketakutan itu. Alhasil orang-orang hanya melihat dari kejauhan dan tak bisa mendekat karena ancaman preman itu yang akan menusuk leher sang gadis yang wajahnya kini sudah sepucat mayat karena ada pisau di lehernya.
"Cepat minggir, biarkan kami lewat," ucap salah satu beranting besar dengan keras sambil mengacungkan pisaunya ke arah depan supaya masa yang mengelilinginya pergi.
"Cepat pergi, biarkan kami pergi dengan para daging segar ini ha ha ha..." imbuh preman lainnya sambil mencubit pipi salah satu siswi SMA Tokyo Gei Ongaku.
"Tolongg...tolong kami..."
"Lepaskan kami tolong,"
"Ampun tuan...ampun,"
Suara tangis dari para siswi itu langsung terdengar saling bersautan satu sama lain saat mendengar perkataan sang preman, mereka takut dijual oleh para preman itu.
Zarina yang berdiri di paling belakang di dekat dinding nampak menutup mulutnya supaya tak menangis walaupun kedua matanya sudah penuh dengan air mata, ia berusaha tegar dan tak panik supaya tak memancing kemarahan para preman yang sedang menahan mereka saat ini.
Dari posisinya berdiri saat ini Arthur bisa melihat Zarina dengan jelas, ia lalu melambaikan tangannya kearah Zarina untuk memberikan tanda bahwa ia sedang melihatnya. Lambaian tangan Arthur rupanya dilihat oleh Zarina, ia lalu tersenyum ketika melihat Arthur ada di hadapannya walau saat ini ada 5 orang preman yang sedang menahan dirinya dan teman-temannya. Zarina sudah terlihat lebih tenang ketika melihat Arthur ada di hadapannya, rasa takutnya pun berangsur-angsur menghilang saat menyadari bahwa wa iya tak sendiri saat ini.
Sebuah anggukan kecil dari Zarina menandakan ia paham dengan apa yang dikatakan oleh Arthur untuk tidak panik, ia lalu bersikap biasa dan berusaha tenang sambil menenangkan teman-temannya yang masih panik. Arthur tersenyum ketika melihat Zarina mengerti dengan perintahnya, entah mengapa ia merasa bangga saat ini ketika melihat Zarina berusaha tegar dan membantu teman-temannya supaya tidak panik. Arthur sebelumnya memberikan perintah pada Zarina untuk tenang dan jangan panik supaya tak membuat keadaan makin kacau.
Tak lama kemudian terdengar suara sirine dari mobil polisi yang mengepung tempat itu, kelima preman yang sedang menawan siswi SMA itu langsung panik. Ke empat orang preman yang sedang memegang sandera langsung menarik beberapa siswa lainnya untuk dijadikan sandera, mereka berniat menjadikan para siswa itu sebagai tameng untuk para polisi supaya mereka tak mendekat.
"Lepaskan mereka," pekik seorang polisi yang baru datang dengan keras sambil mengacungkan pistolnya ke arah para preman yang sedang menyandra kelima siswi.
"Memangnya kami bodoh mau mengikuti permintaan kalian, cepat pergi atau para daging segar ini akan mati dihadapan kalian," sahut sang pemimpin preman dengan keras sambil menggoreskan pisaunya ke leher siswi yang sedang ia tahan.
"Aawwwww...sakit...." jerit siswi yang ada dalam dekapan sang preman menjerit dengan keras saat pisau lipat menyentuh kulit lehernya.
Sontak suasana semakin mencekam ketika melihat leher gadis itu sudah mulai mengeluarkan sedikit darah, wajah para polisi yang mengepung tempat itu pun terlihat tegang begitu pula dengan semua siswi yang ada di belakang para preman yang sedang berpelukan. Hanya Zarina yang terlihat mencoba tegar untuk tak panik ia terlihat sangat percaya pada ucapan Arthur yang sebelumnya.
Saat suasana sedang sangat tegang tiba-tiba terdengar beberapa suara letusan pistol hampir bersamaan dari gedung yang ada di belakang tempat mereka berkerumun saat itu, saat Arthur akan mencari tau dari arah sumber suara tiba-tiba terdengar suara teriakan yang melengking dari para siswi yang tadi ditahan oleh para preman.
"Kyaaaa....
🌺 to be continued 🌺