
Jangan lupa Vote dan ratting bintang lima untuk mendukung Thor
Maxwell menghentikan mobil di sebuah restoran Korea hanya ada didekat apartemen Arthur atas permintaan Arthur, mereka terlihat memesan bibimbap, jjajangmyeon dan Gogigui. Gogigui adalah daging yang dipanggang dengan gaya barbeque di atas panggangan. Arthur tau Zarina sangat menyukai daging oleh karena itu ia sengaja memesan Gogigui khusus untuk Zarina.
"Ayo makan, kau akan lebih baik Zarina," ucap Arthur pelan sambil meletakkan potongan daging yang sudah ia panggang ke atas mangkuk Zarina.
"Kau sudah baik-baik saja Zarina, kau aman bersamaku," imbuh Arthur pelan sembari memegang tangan Zarina yang masih gemetaran.
"Iya Zarina, kau makan saja kalau kau tak mau makan biar aku yang....
"Awww..."
Maxwell menjerit kesakitan saat tangannya di cubit menggunakan sumpit oleh Arthur saat ia akan menyentuh daging yang baru saja diletakkan Arthur dipanggangan.
"Makan makananmu sendiri, itu milik Zarina!!" hardik Arthur ketus.
"Sayang kalau tak dimakan," jawab Maxwell membela diri.
"Siapa yang tak mau makan, Zarina hanya belum mau makan bukan tak mau makan Max," sahut Arthur dingin.
Maxwell tertawa lebar merespon perkataan Arthur, ia lalu mengalah dan memilih menikmati bibimbap hanya dan dihadapannya dengan lahap berbarengan dengan jjajangmyeon secara bergantian. Melihat cara makam Maxwell membuat Arthur menggelengkan kepalanya perlahan, ia benar-benar kagum dengan selera makan anak buahnya itu. Padahal tadi sebelum bertemu Zarina mereka sudah makan ramen.
"Jangan pikirkan lagi, kau sudah aman sekarang Zarina," ucap Arthur pelan kembali fokus pada Zarina.
"Aku melihatnya...dia ada disana," jawab Zarina terbata.
"Melihat siapa?" tanya Arthur bingung.
"Melihat pria yang sama dengan pria yang aku lihat lima tahun lalu saat dirumah sakit ketika ibu meninggal," jawab Zarina mulai terisak.
"Apa maksudmu Zarina aku tak mengerti," tanya Arthur kembali pura-pura tak mengerti dengan arah pembicaraan Zarina, ia sedang mencoba membuat Zarina mengaku sendiri padanya mengenai para Yakuza yang membuat ibunya meninggal.
"Paman itu...paman itu ada disamping ibu sewaktu ibu meninggal, dia dia yang membuat ibuku meninggal tuan," jawab Zarina terbata.
Arthur mengangkat satu alisnya ke atas karena mendengar ucapan Zarina yang tak pernah ia duga akan keluar secepat ini dari bibir Zarina, padahal Arthur ingin mengikuti alur saja menunggu Zarina bercerita padanya. Namun sekarang Zarina justru langsung mulai bercerita sendiri.
Zarina kemudian menceritakan apa yang terjadi pada saat ibunya meninggal beberapa tahun yang lalu ketika ia masih sangat kecil, di rumah sakit ia menangis bersama guru yang menemaninya datang ke rumah sakit. Saat sampai dikamar sang ibu ia melihat dengan jelas beberapa orang pria berpakaian serba hitam sedang mengelilingi ranjang pesakitan sang ibu, di mana waktu itu ibunya sedang sekarat. Mereka ada disana sampai akhirnya sang ibu menghembuskan nafas terakhir dan ketika Zarina pergi ke kamar mandi secara tak sengaja ia mendengar percakapan beberapa orang perawat yang mengatakan bahwa ibunya meninggal karena perbuatan Yakuza, para pria yang disebut Yakuza itu lah yang mengantarkan sang ibu ke rumah sakit dan salah satu pria yang ada di samping ranjang sang ibu waktu itu kembali ia lihat saat tadi ia mengalami penyekapan oleh para preman.
"Kau yakin pria itu adalah pria yang sama?" tanya Arthur pelan setelah Zarina selesai bicara.
"Yakin, ingatanku tak pernah salah. Aku masih mengingat wajah sepuluh orang pria berbaju hitam itu, walau kejadian itu sudah lama berlalu namun rasanya masih seperti terjadi tadi malam," jawab Zarina lirih.
"Tapi kan belum tentu mereka adalah Yakuza Zarina, siapa tau mereka...
"Badan mereka penuh tato bergambar naga, ikan koi dan ular. Ketiga gambar hewan itu pasti ada ditubuh seorang Yakuza tuan, belum lagi dengan jari yang sudah tak utuh lagi. Para Yakuza yang melanggar aturan di klan pasti akan menerima hukuman potong jari, semua pria yang aku lihat waktu itu dirumah sakit hampir semuanya mempunyai banyak tato di tubuhnya dan jari mereka sudah tak utuh lagi seperti kita. Dari bukti itu aku sudah tau kalau mereka adalah Yakuza, apalagi waktu itu banyak sekali pria berpakaian hitam yang mengantar ibuku ke pemakaman padahal kami tak pernah punya tetangga atau saudara atau bahkan teman sebanyak itu. Aku dan ibu tinggal disebuah rumah sewa kecil yang ada didekat sekolah SMP ku dan dilingkungan itu kami tak pernah bersosialisasi dengan banyak orang, tiap hari ibuku bekerja sebagai tukang cuci di banyak rumah orang kaya. Aku yang masih kecil saat itu sering dibawa oleh ibu maka dari itu aku tau siapa-siapa saja yang ibuku kenal, dan yang pasti para pria bertato itu bukan lah orang yang ibuku kenal," ucap Zarina dengan nada bergetar menceritakan sedikit kenangan buruknya pada Arthur, airmata nya mengalir deras saat membahas kejadian itu.
"Aku melihatnya lagi setelah sekian lama Arthur, a--apa dia akan menjadikanku target selanjutnya? apa aku akan mengalami nasib yang sama seperti ibuku...meninggal di negara asing tanpa diketahui kelurga...apa aku akan...
Greebb
Arthur menarik tangan Zarina dan memeluknya dengan erat sehingga Zarina tak bisa menyelesaikan perkataannya, ia membiarkan Zarina menangis dipelukannya.
"Tidak Zarina, tak akan kubiarkan hal buruk menimpamu. Selama aku masih hidup aku akan menjagamu Zarina, kau tenang saja. Kau tak perlu takut Zarina, aku akan menjagamu," ucap Arthur pelan berusaha menenangkan Zarina yang sedang menangis.
"Aku takut tuan hikss...aku takut dengan para Yakuza itu, aku takut pada mereka hu hu hu," jawab Zarina lirih, airmatanya sudah membasahi kemeja yang dipakai oleh Arthur.
Maxwell yang sudah menghentikan makannya nampak tersenyum tipis, ia akhirnya tau kenapa Kaoru menjaga Zarina dari jauh. Rupanya Zarina mempunyai trauma yang sangat besar pada para mafia Jepang itu, begitupula dengan Arthur yang akhirnya paham kenapa Kaoru memintanya tetap ada disamping Zarina.
"Ya sudah sekarang kau tenang dan makan dulu, pihak sekolahmu sudah memberikan keterangan bahwa para siswi yang mengalami kejadian tadi akan diberikan libur selama empat hari untuk menenangkan diri. Jadi kau bisa tenang dan beristirahat di apartemenku Zarina," ucap Arthur lirih sambil tersenyum menatap ponsel Maxwell yang sedang menunjukkan pengumuman yang diberikan kepala sekolah SMA Tokyo Gei Ongaku atas kejadian tadi siang.
"Aku libur?" tanya Zarina kaget sambil melepaskan pelukannya dari Arthur.
"Huum...lihat ini," jawab Arthur dengan cepat sambil meraih ponsel Maxwell dan menunjukkannya pada Zarina. Sebuah senyuman tipis tersungging di wajah Zarina saat membaca artikel itu, ia lalu mulai makan atas paksaan Arthur.
Arthur mengajak Maxwell untuk berdiri mengambil ocha meninggalkan Zarina yang sedang makan daging panggang.
"Jangan sampai Hyuga tau kalau Zarina punya trauma besar pada Yakuza Max," ucap Arthur lirih.
"I know, jika Hyuga tau aku yakin dia akan memanfaatkan ini untuk meneror Zarina," sahut Maxwell pelan.
"Iya kau benar, maka dari itu kalau bisa jangan sampai Hyuga tau tentang trauma Zarina," imbuh Arthur menambahkan perkataannya yang sebelumnya.
"Tapi sepertinya kita harus bekerja sama dengan Kaoru saat ini karena...
"Karena apa?" tanya Arthur singkat memotong perkataan Arthur.
"Karena para preman tadi yang menahan para siswi tadi adalah suruhan Hyuga," jawab Maxwell pelan.
"What...
🌺 to be continued 🌺