
Jangan lupa vote dan ratting bintang 5 untuk mendukung Thor
Terima kasih
Zarina berdiri di jendela kamarnya untuk melihat mobil Arthur, senyumnya yang tersungging sejak tadi langsung menghilang ketika melihat mobil Arthur akhirnya berjalan pergi meninggalkan gerbang asrama.
"Zarina kamar mandi sudah kosong sekarang giliranmu untuk man...hei tubuhmu wangi sekali kau pakai parfum apa?" tanya Yue teman satu asrama Zarina penasaran.
"Ini bukan parfumku Yue, mana mampu aku membeli parfum sebagus ini. Imi adalah wangi parfum kakak Sasa yang tadi mengantarku pulang, wangi tubuhnya tertinggal di tubuhku saat ia memelukku berkali-kali,"jawab Zarina pelan sambil tersenyum mengingat apa yang sudah dilakukan Sasa kepada dirinya tadi di depan gerbang asrama.
"Oh parfum Kakak cantik itu yang tadi mengantarmu pulang itu ya, pantas saja wanginya sangat enak sekali. Pasti harganya sangat mahal, kau kenal kakak secantik itu di mana Zarina rasanya pasti senang bisa kenal dengan dirinya?" tanya Yue kembali penuh semangat
"Kakak itu adalah kekasih dari pria yang ada di dalam mobil dan kebetulan pria yang ada di dalam mobil itu adalah mantan majikan tempatku bekerja dulu," jawab Zarina sedikit berbohong, dia sengaja tak mau mengatakan identitas Arthur sebenarnya.
"Oh jadi kakak cantik itu adalah kekasih mantan bosmu dulu, pantas saja kau bisa mengenalnya. Ternyata orang kaya itu tak selamanya sombong ya, beruntung sekali kau Zarina bisa mengenal mereka. Ya sudah sekarang lebih baik kau mandi dulu kamar mandi sudah kosong, tidak baik mandi terlalu malam. Besok lagi kita harus bangun pagi karena ada kegiatan lain," ucap Yue pelan sambil menguap minta Zarina untuk mandi.
Zarina menganggukan kepalanya perlahan mendengar perkataan Yue, ia lalu berjalan pelan meraih handuk yang ada di dalam lemari baju nya. Dengan langkah gontai Zarina berjalan menuju kamar mandi, ada rasa aneh bergolak dalam dirinya saat mengatakan bahwa Sasa sebagai kekasih Arthur sebuah perasaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya selama ini.
Matahari pagi pun akhirnya terbit dari ufuk timur memberikan kehangatannya pada bumi yang sempat diselimuti kegelapan malam, burung-burung saling bersahutan menyambut matahari pagi menemani manusia yang mulai beraktivitas di pagi hari. Sasa tadi malam melakukan video call bersama sang suami hampir tiga jam nampak sudah bangun, walaupun ia kurang tidur namun kebiasaannya bangun pagi tak bisa hilang setelah melakukan kewajiban paginya sebelum beraktivitas. Sasa yang masih menggunakan mukena berjalan pelan menuju kamar sang anak kesayangan.
"Bangun sayang, waktu subuh sudah hampir habis," bisik Sasa pelan sambil menggoyang-goyangkan tubuh Arthur.
"Aku masih mengantuk mom," jawab Arthur dengan suara parau.
"Kemarin katanya mau menikah muda kalau mau menikah muda harusnya bangun lebih pagi dan jalankan kewajibanmu sebagai imam yang baik, anggap saja latihan sebelum kau benar-benar menikah dan menjadi imam yang baik dalam kehidupan rumah tanggamu nanti. Kalau aku malas bangun pagi begini bagaimana kau bisa memimpin rumah tanggamu? bagaimana cara kau menjadi imam di keluargamu sementara menjadi imam untuk diri sendiri saja tidak mampu," ucap Sasa lembut mengingatkan soal percakapan Arthur kemarin soal menikah muda.
Kedua mata Arthur yang sebenarnya masih sangat berat untuk dibuka langsung terbelalak lebar saat mendengar perkataan sang ibu yang membahas tentang menikah muda, seketika Arthur melompat dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi untuk mensucikan diri sebelum menjalankan kewajibannya. Sasa hanya tersenyum melihat tingkah anak pertamanya, satu hal yang selalu ia ajarkan pada ketiga anak lelakinya yang sudah beranjak dewasa adalah untuk tetap menjalankan kewajibannya sebagai muslim yang paling dasar.
Setelah mensucikan diri Arthur kemudian berjalan menuju kamarnya dan langsung berdiri diatas sajadah yang sama yang tadi dipakai oleh sang ibu, senyum kebanggaan tersunging di wajah Sasa ketika melihat apa yang dilakukan oleh putra pertamanya itu, ia lalu berjalan menuju pantry untuk membuat sarapan.
Walaupun Arthur sering berpacaran dan menginap bersama kepada kekasihnya namun ia belum pernah sampai berhubungan badan dengan para kekasihnya, yang ia lakukan paling hanya mencium dan sedikit melakukan sentuhan tubuh saja tanpa melakukan hal yang paling dilarang oleh ibunya itu. Karena sang ibu selalu berpesan padanya untuk tidak melakukan hubungan seperti itu sebelum menikah dan Arthur berusaha untuk mengikuti apa yang di ajarkan oleh sang ibu, sehingga hampir semua kekasih Arthur hanya merasakan ciuman dan peluakannya saja tanpa pernah benar-benar merasakan kehangatan tubuh Arthur seutuhnya.
Maka dari itu sewaktu Zarina kemarin sering menginap di apartemennya tak terjadi apa-apa diantara mereka, paling Arthur hanya memeluk Zarina saja dan menciumnya tak lebih dari itu.
Arthur akhirnya selesai menjalankan kewajibannya, ia lalu merapikan sajadahnya dengan baik ke dalam lemari penyimpanan dan berjalan menuju pantry untuk mencium tangan sang ibu. Kebiasaan yang sering ia lakukan ketika sudah menjalankan kewajiban paling dasar sebagai muslim yang ia tanamkan sejak kecil pada ketiga anaknya.
"Terima kasih doa-doanya anak pintar, ya sudah sana duduk mommy sudah menyiapkan teh hangat untukmu di meja makan," jawab Sasa pelan.
Arthur menganggukan kepalanya merespon perkataan sang ibu, ia lalu berjalan pelan menuju ke meja makan dan meraih teh hangat yang ada diatas mejanya dan meminumnya perlahan.
"Hari ini apa rencanamu?" tanya Sasa pelan kepada Arthur ketika ia sudah bergabung di meja makan.
"Arthur masih harus kuliah malam hari ini adalah hari terakhirku ujian akhir semester mom," jawab Arthur singkat.
"Baiklah, setelah ujian selesai kita jemput Zarina ya. Mommy ingin lebih dekat lagi dengan calon menantu Mommy itu," ucap Sasa pelan sambil mengedipkan satu matanya ke arah Arthur.
"Uhuukkk uhukk uhukkk,"
Arhur tiba-tiba terbatuk karena tersedak, ia tak menyangka kalau ibunya akan berkata seperti itu dengan menyebut Zarina sebagai calon menantu. Padahal ia belum mengatakan apa-apa pada ibunya mengenai Zarina, melihat Arthur terbatuk-batuk membuat Sasa tersenyum. Ia lalu bangun mendekati Arthur dan menepuk-nepuk punggung Arthur untuk meredakan batuk putra kesayangannya itu.
"Minum teh saja bisa batuk, kau ini kenapa si sayang," ucap Sasa pelan dengan suara meninggi tanpa rasa bersalah.
"Ini salah Mommy, Mommy menggodaku," jawab Arthur ketus.
"Lho kenapa jadi salah Mommy, memangnya tadi Mommy kenapa?" tanya Sasa pura-pura bodoh.
Wajah Arthur langsung memerah seketika mendengar perkataan ibunya, ia tau kalau ibunya sedang memancing dirinya untuk mengakui perihal hubungannya dengan Zarina.
"Aduhh.. tiba-tiba perutku sakit, aku kekamar mandi dulu mom," ucap Arthur dengan suara meninggi sambil memegangi perutnya mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Kau kenapa sayang? bukankah tadi kau..."
Arthur langsung berlari menuju kamar mandi meninggalkan sang ibu yang masih duduk di meja makan tanpa berbicara lagi, sementara itu Sasa hanya menggelengkan kepalanya perlahan melihat tingkah sang anak kesayangan dia tahu kalau anaknya itu sedang pura-pura saja.
"Mommy yang mengandung mu selama sembilan bulan, Mommy juga yang melahirkanmu. Kau tak perlu malu sayang, Mommy tau apa yang ada dalam hatimu," ucap Sasa pelan, ia tau bahwa putranya itu punya perasaan lain pada Zarina. Dari cara memandang Arthur ke Zarina saja Sasa sudah dapat langsung membacanya.
🌺to be continued🌺