
Jangan lupa vote dan ratting bintang 5 untuk mendukung Thor
Terima kasih
Setelah drama pertengkaran kecil dengan Arthur akhirnya Maxwell dengan terpaksa memutar kembali laju mobilnya menuju apartemen barunya, padahal lima menit lagi ia sampai di apartemen mewah milik Arthur.
"Ini apartemen siapa?" tanya Zarina bingung.
"Apartemenmu," jawab Maxwell ketus, ia sengaja mengatakan bahwa itu apartemen Zarina karena dari awal Arthur melarangnya untuk memberitahu Zarina bahwa ia juga tinggal di apartemen itu dan hanya berbeda satu lantai dengannya.
"Apartemenku, bagaimana bisa aku punya apartemen? aku kan hanya...
"Sudah jangan banyak bicara ayo masuk," ucap Arthur dengan cepat memotong perkataan Zarina.
Zarina yang masih bingung akhirnya hanya bisa mengikuti langkah Arthur masuk ke dalam apartemen bersama Maxwell yang masih melipat wajahnya karena kesal pada Arthur, di dalam lift pun tak terjadi percakapan berarti kecuali protes Zarina yang melarang Zarina untuk memeluknya dihadapan Maxwell. Namun protes dari Zarina itu tak digubris oleh Arthur, ia justru makin mengeratkan pelukannya pada Zarina dan membuat Zarina akhirnya pasrah.
Mereka keluar dari lift setelah lift berhenti di lantai 19, Arthur lalu mengajak Zarina menuju ke unit apartemen barunya bersama dengan Maxwell yang mengekor di belakang. Tepat dikamar nomor 1905 Arthur menghentikan langkahnya dan memasukkan kombinasi angka yang merupakan pasword pintu apartemen Zarina yang baru.
"Nanti kau bisa menggantinya sendiri sesuka hatimu Zarina," ucap Arthur pelan sambil melangkah masuk ke dalam apartemen tipe studio yang memiliki pemandangan ke arah taman yang indah itu.
"Ini untukku?" tanya Zarina tergagap.
"Yes," jawab Arthur singkat.
"Tapi aku tak memintanya,"sahut Zarina pelan.
"Kau harus punya tempat tinggal, memangnya mau sampai kapan kau tinggal di asrama?! sebentar lagi kalau lulus sekolah tak mungkinkan kau selamanya tinggal disana," ucap Arthur pelan.
Zarina terdiam mendengar perkataan Arthur, sebenarnya ia sendiri juga dilema mengenai masalah tempat tinggalnya itu. Pasalnya memang sebentar lagi ia akan lulus dari SMA Tokyo Gei Ongaku dan setiap siswa yang tinggal di asrama harus keluar dari asrama ketika ia sudah lulus sekolah. Melihat Zarina melamun membuat Arthur tersenyum, ia lalu memeluk Zarina dengan erat.
"Kau tak usah khawatir, kau memiliki aku Zarina. Jadi kau tak perlu memikirkan tempat tinggal lagi, kau bisa tinggal di apartemen ini selamanya sampai saatnya tiba nanti," bisik Arthur pelan ke telinga Zarina.
"Saatnya tiba apa?" tanya Zarina bingung.
"Sampai saatnya nanti kau menjadi istriku, menikah denganku dan hidup bersamaku selamanya," jawab Arthur dengan cepat sambil mencium kening Zarina.
Deg
Deg
Deg
"Kau ingin menikahiku? tanya Zarina pelan sambil menatap Arthur dengan tatapan sendu.
"Tentu saja, memangnya aku lelaki apa. aku sudah memintamu untuk tinggal bersamaku berhari-hari di apartemen, kau juga sudah mencucikan semua pakaianku selama ini. Setelah semua yang sudah terjadi pada kita berdua, kau sebut apa memangnya hubungan seperti ini?" tanya balik Arthur.
"Aku bertanggung jawab penuh atas semua yang sudah aku lakukan, termasuk padamu," imbuh Arthur pelan sambil membelai wajah Zarina yang memerah menahan tangis.
"Tapi aku... aku aku tak punya orangtua Arthur, aku juga tak punya tempat tinggal. Apakah keluargamu masih mau menerimaku,"ucap Zarina terbata, Zarina sadar perbedaan sosial yang cukup mencolok antara dirinya dengan Arthur. Walaupun Zarina tidak tau siapa orang tua Arthur karena memang selama ini Arthur tak menceritakan tentang keluarganya, namun ia sudah bisa menebak kalau Arthur adalah anak orang kaya melihat semua yang sudah Arthur lakukan selama ini.
"Kau tahu Zarina, dulu sewaktu ayahku menikahi ibuku. Ibuku juga bukan siapa-siapa, ibuku bahkan waktu itu juga tinggal seorang diri karena kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan pesawat, sampai akhirnya ibu tau kalau ia masih memiliki keluarga berdarah bangsawan di Indonesia yang melarangnya menikah dengan ayah ku karena dianggap tidak sepadan dengan ibuku yang memiliki darah bangsawan. Namun pada akhirnya ia tetap menikah dengan ayahku, jadi aku rasa untuk latar belakang seperti itu tidaklah penting. Yang penting adalah aku merasa nyaman denganmu dan bahagia ada disisimu, aku rasa itu adalah yang paling penting," sahut Arthur pelan mencoba untuk meyakinkan Zarina.
Mendengar perkataan Arthur membuat Zarina terdiam membisu, air matanya yang sudah terkumpul di kedua matanya menetes dengan perlahan membasahi pipinya. Walaupun selama ini Arthur tidak pernah mengatakan kalimat romantis atau pernyataan cinta padanya, namun Arthur selalu mengatakan bahwa ia adalah miliknya. Pada awalnya Zarina selalu merasa risih dengan perkataan Arthur, yang selalu mengklaim dirinya adalah milik Arthur. Namun seiring berjalannya waktu ia justru merasa lebih nyaman mendengar perkataan Arthur seperti itu, daripada sebuah pernyataan cinta yang sering ia dengar dari teman-teman di sekolahnya yang menceritakan kisah cinta mereka dengan kekasihnya.
"Apakah perlu bukti untuk melihat keseriusanku?" tanya Arthur pelan.
"Bukti apa?" tanya Zarina bingung.
"Kita menikah," jawab Arthur tanpa ragu.
Brakk
Stopmap yang sedang dipegang oleh Maxwell jatuh ke lantai saat mendengar perkataan Arthur, ia tak menyangka kalau Arthur akan mengajak Zarina menikah secepat itu. Zarina pada awalnya terpaku mendengar ajakan menikah dari Arthur, namun saat mendengar suara stopmap maksud milik Maxwell kesadarannya pun akhirnya kembali.
"No aku tak mau menikah secepat ini, lagi pula kita baru kenal beberapa bulan saja. Aku tak mau terburu-buru aku tak mau membuatmu menyesal di kemudian hari karena menikahi gadis sepertiku, kau harus memikirkannya berkali-kali Arthur. Aku bukan gadis yang setara dengan keluargamu, aku tak mau di saat nanti aku sudah berstatus istrimu aku mendapatkan penolakan dari keluargamu. Jadi lebih baik dari awal aku tau terlebih dahulu keluargamu bisa menerimaku atau tidak, daripada aku mendapatkan kekecewaan yang sama seperti ibuku dan akhirnya berakhir seperti ibuku," ucap Zarina dengan suara terbata
Zarina mengingat cerita sang ibu yang dulu juga diajak menikah oleh ayahnya secara diam-diam tanpa sepengetahuan keluarganya, sampai akhirnya ternyata pihak keluarga sang ayah menolak kehadiran ibunya walaupun saat itu ibunya sedang mengandung dirinya usia 4 bulan. Zarina tak mau mengalami nasib yang sama seperti sang ibu yang akhirnya terbuang dari keluarga suaminya dan terpaksa tinggal di negara asing bersama anak yang harus ia besarkan seorang diri dalam kesulitan ekonomi yang menjerat sampai akhirnya meninggal dengan tragis. Mengingat itu membuat Zarina sedih, setelah berkata seperti itu Zarina kemudian berlari meninggalkan Arthur dan Maxwell.
Arthur masih terdiam beberapa saat ketika Zarina pergi, ia masih tak percaya Zarina menolak ajakannya untuk menikah padahal yang ia katakan adalah sebuah ajakan serius bukan hanya bualan semata.
"Bro...wanitamu pergi, ayo kejar!!!" ucap Maxwell pelan membuyarkan lamunan Arthur.
"Zarinaaa wait!!!" pekik Arthur keras sambil berlari bersama Maxwell mengejar Zarina.
🌺 to be continued 🌺