
Jangan lupa untuk Vote dan Ratting bintang lima untuk medukung Thor, Terima kasih.
Zarina yang sudah selesai membuat pancake dan menyiapkan teh tawar kesukaan Arthur, ia menaburi pancake dengan potongan stroberi dan anggur untuk menyempurnakan tampilan pancake buatannya itu. Setelah menata meja makan sedemikian rupa Zarina lalu mencuci semua bekas peralatan memasaknya, ia tak mau menunggu lama.
Saat Zarina sedang mencuci piring Arthur keluar dari kamarnya, ia memakai celana pendek dan kaos yang warnanya senada dengan milik Zarina. Arthur memilih langsung duduk ke meja makan, ia tak mau melihat Zarina lagi yang sedang mencuci piring.
"Ayo makan Zarina, aku sudah lapar," pekik Arthur dari meja makan memanggil Zarina.
"I--iya tuan," sahut Zarina singkat, setelah berkata seperti itu Zarina kemudian mengeringkan tangannya di sebuah lap khusus.
Ia lalu berjalan menuju meja makan sambil menunduk untuk menghindari hal-hal yang tak ingin ia lihat lagi seperti tadi, melihat cara Zarina berjalan membuat Arthur gemas. Arthur lalu memberikan dua potong pancake untuk Zarina, ia lalu memberikan mapple syrup di atasnya sebagai toping.
"Cukup tuan, aku tak terlalu suka yang manis-manis," ucap Zarina lirih sambil menahan Arthur agar tak lagi menuangkan mapple syrup diatas pancake miliknya.
"Ok, makanlah setelah itu mandi dan temani aku pergi mencari sesuatu ke...
"Aku mau pulang ke asrama tuan," pekik Zarina dengan panik memotong perkataan Arthur.
"Kenapa? ini hari minggu Zarina, sekolahmu libur kan?" tanya Arthur bingung.
"Iya tapi aku harus pulang ke asrama aku tak bisa mandi disini lagi," jawab Zarina tergagap.
"Kenapa memangnya kau tak bisa mandi disini?" tanya Arthur kembali.
Pipi Zarina merah padam mendengar perkataan Arthur, ia menundukkan wajahnya dalam mencoba untuk menyembunyikan wajahnya dari Arthur yang ada dihadapannya. Arthur yang tak mengerti dengan sikap Zarina memiringkan kepalanya perlahan, ia lalu memasukkan potongan pancake ke dalam mulutnya.
"Kenapa tak menjawab pertanyaanku Zarina?" tanya Arthur tak sabar.
"Pokoknya aku harus kembali ke asrama tuan, aku tak bisa lebih lama lagi diapartemen anda," jawab Zarina lirih.
"Berikan alasannya aku baru akan mempertimbangkan lagi,"ucap Arthur dalam, ia masih ingin tau dengan alasan Zarina menolak perintahnya.
"A--aku tak punya pakaian ganti lagi," cicit Zarina malu-malu.
"Itu bukankah aku sudah membelikan banyak baju untukmu kemarin," sahut Arthur dengan nada meninggi, ia merasa jengkel dengan alasan Zarina yang terkesan mengada-ada itu.
"P-pakaian dalam, aku tak membawa ganti lagi. Tak mungkin aku tetap memakai pakaian dalam yang sama selama dua hari berturut-turut tuan," jawab Zarina terbata, wajahnya sudah mirip kepiting rebus saat mengatakan alasannya yang sebenarnya pada Arthur.
Deg
Arthur langsung terdiam, ia baru menyadari bahwa Zarina memang tak punya ganti pakaian dalam. Semalam waktu ia mandi ia tak mengganti pakaian dalamnya , memikirkan itu membuat Arthur merasa bersalah pada Zarina. Ia merutuki kebodohannya sendiri dengan penuh penyesalan dan rasa bersalah pada Zarina yang masih saja menundukkan wajahnya dalam.
"Baik tuan," sahut Zarina lirih dengan suara hampir tak terdengar, ia lalu meraih pisau dan garpu yang ada disamping piring lalu mulai mengiris pancake dengan perlahan dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
Arthur memilih diam sambil sesekali melihat ke arah Zarina, ia tau gadis yang ada dihadapannya itu pasti sudah tak nyaman sekali saat ini. Tak lama kemudian Arthur sudah terlihat menghabiskan semua pancake buatan Zarina yang ada diatas piringnya, ia lalu menyeka mulutnya dengan sapu tangan dan langsung berdiri tanpa berbicara apapun menuju kamarnya meninggalkan Zarina yang masih makan.
Tak lama kemudian Arthur keluar dari kamar dengan memakai jaket dan kacamata hitam yang sudah bertengger di hidung mancungnya sambil membawa dompet ditangan, ia lalu menuju tempat penyimpanan kunci mobil yang ada didekat meja makan.
"Habiskan makanmu dan tunggu aku, oh iya ini ponselmu kau bisa langsung memakainya aku sudah mendaftarkan kartunya dan melakukan registrasi," ucap Arthur pelan sambil menyerahkan ponsel iPhone 11 pro pada Zarina.
"Tapi tuan saya tak pantas memiliki ponsel semahal ini," jawab Zarina gugup.
"Itu adalah alat komunikasi kita saat sedang berjauhan, memangnya bagaimana aku bisa berkomunikasi denganmu jika kau tak punya ponsel. Sudahlah jangan membantah Zarina, aku pergi sebentar dan habiskan makanmu lalu tunggu aku pulang. Jangan berani pulang ke asramamu tanpa ijin dariku," ucap Arthur kembali dengan nada meninggi.
"Baik tuan," sahut Zarina pelan, ia merasa kalau Arthur sedang sangat serius dengan perkataannya dan ia selalu takut jika Arthur sudah berbicara seperti itu.
Arthur tersenyum melihat sikap patuh Zarina, ia lalu berjalan menuju pintu dan keluar dengan cepat meninggalkan Zarina di dalam apartemennya. Arthur pergi dengan senyuman penuh arti, ia ingin bertanggung jawab pada Zarina.
Setalah Arthur pergi Zarina menikmati pancake buatannya sendiri dengan lahap, ini adalah pertama kali ia membuatkan masakan untuk seorang pria. Memikirkan hal itu membuat wajah Zarina merah padam, ia salah tingkah sendiri memikirkan apa yang sudah ia lewati bersama Arthur dua hari ini. Tangannya bergetar menyentuh ponsel mahal yang tadi diberikan Arthur
Drrtttt
Ponsel baru Zarina bergetar dengan keras minta diangkat, Zarina memicingkan satu matanya melihat nama " King Arthur " muncul dilayar ponselnya. Karena ponselnya terus berdering Zarina akhirnya meraih tombol hijau yang muncul dilayar ponselnya dan mengarahkan ke telinganya.
"Hallo...
"Zarina its me, apa kau memakai nomor 34?" tanya Arthur dengan cepat saat Zarina sudah tersambung dengannya.
"34? maksud anda apa tuan?" tanya balik Zarina bingung.
"Kau pakai pakaian dalam ukuran berapa?...
"A--apaaaa....
🌺To be continued🌺
Jangan lupa Vote dan Ratting bintang lima untuk mendukung Thor, terima kasih kakak-kakak.
Love u kakak-kakak