
Jangan lupa vote dan ratting bintang 5 untuk mendukung Thor
Terima kasih
Arthur tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi sang ibu yang sangat kaget ketika ia mengatakan ingin menikah muda.
"Arthur bercanda Mom mana mungkin Arthur berani menikah di usia Arthur yang belum genap dua puluh tahun ini," ucap arthur berkali-kali sambil menyeka air yang keluar dari matanya karena tertawa.
"Dasar anak nakal, jangan pernah bergurau seperti itu di hadapan Deddy-mu atau dia akan sangat marah," sahut Sasa ketus.
"Iya Mom iya, aku hanya bercanda tadi. Lagipula mana mungkin aku berani bergurau seperti ini pada Daddy, Daddy kan menyeramkan lebih menyeramkan dari Joker," jawab Arthur sambil tertawa lebar.
"Joker itu tidak mengerikan sayang, dia hanya melampiaskan emosinya karena terlalu sering dilukai oleh orang lain. Dari Joker harusnya kau belajar bahwa kadang orang jahat itu berasal dari orang baik yang selalu tertindas, orang baik yang kelaparan bisa berbuat nekat. kadang justru mereka lebih mengerikan dari penjahat sekalipun," ucap Sasa serius.
Arthur terdiam mencerna perkataan sang ibu, selama ini ia selalu bertanya-tanya dalam dirinya kenapa semua perkataan ibunya itu selalu masuk akal dan sesuai dengan kenyataan. Kadang Arthur merasa bahwa ibunya memiliki indra ketujuh yang lebih hebat dari indra keenam.
Melihat Arthur tak berbicara lagi Sasa kemudian menarik selimut untuk menyelimuti tubuhnya dan tubuh Arthur Ia lalu memposisikan bantal dengan baik di kepalanya.
"Ayo tidur sudah hampir jam tiga pagi Mommy tak mau kau sakit, besok pagi harus kuliah kan," tanya Sasa pelan.
"Hoammm...iya Mom, ayo tidur. Nyanyikan lagu ya seperti dulu," jawab Arthur singkat.
"Lagu apa?" tanya Sasa bingung.
"Lagu yang sering mommy nyanyikan dulu ketika aku mau tidur, aku rindu saat saat itu Mom," jawab Arthur lirih dengan suara yang hampir tak terdengar.
"Lagu Nina bobo..."
"Iya Mommm cepat," ucap Arthur singkat memotong perkataan sang ibu.
Sasa tersenyum mendengar perkataan anaknya, jarak Arthur dengan kedua adiknya memang terlalu dekat sehingga perhatian yang ia berikan pada Arthur sedikit berkurang. Hal inilah yang membuat Sasa merasa bersalah, dulu ia ingin memberikan jarak tiga tahun antara Arthur dan adiknya namun Tuhan memberikannya anak lebih cepat dari rencananya. Ia memang tak mengikuti KB dari dokter, ia memilih menggunakan KB kalender yang lebih alami. Tiga bulan pertama memang berhasil namun setelah itu semuanya berantakan, setiap Archie marah padanya pasti Archie akan menyiksanya diatas tempat tidur untuk melayaninya sehingga akhirnya ia hamil anak kedua yang akhirnya keguguran dan kembali hamil saat pindah ke Quebec Kanada.
Sasa kemudian menyanyikan lagu Nina Bobo yang selalu ia nyanyikan ketika Arthur masih kecil, kedua mata Sasa berkaca-kaca saat menyanyikan lagu kebangsaan untuk Arthur kecil tidur. Ingatan tentang masa-masa dimana ia menidurkan Arthur masih kecil kembali berkelibat dalam memorinya, tubuh kecil Arthur yang terlelap dalam tempat tidurnya membuat Sasa selalu sedih. Niatnya ingin mengasihi Arthur selama dua tahun tak terlaksana karena ia mengandung Ashley dan Allard.
"Athur Bobo...Arthur Bobo kalau tidak bobo digigit nyamuk...Arthur bobo oh Arthur bobo kalau tidak bobo digigit nyamuk.."
Sasa mengulang-ulang nyanyiannya, Arthur pun langsung tertidur pulas saat ia menyanyi satu kali. Walaupun Arthur sudah tidur pulas namun Sasa tetap menyenandungkan nyanyiannya dengan air mata yang mengalir diwajah cantiknya.
"Maafkan Mommy sayang, kalau dulu tak bisa memberikan perhatian sepenuhnya padamu sampai akhirnya kau harus diasuh bik Rani," ucap Sasa terbata.
"Dan terima kasih sudah tumbuh menjadi seorang anak yang sangat pintar dan cerdas, kebahagiaanmu adalah segalanya untuk Mommy nak. Pilihlah jalan hidupmu sendiri, selama itu baik dan tak melanggar norma agama Mommy akan mendukungmu,"imbuh Sasa pelan, ia tau tadi Arthur tak hanya sekedar bergurau akan ucapannya. Sasa merasa kalau putra kesayangannya itu sudah memiliki tambatan hati yang sudah mencuri hatinya.
Karena jetlag dan tak bisa tidur Sasa akhirnya memilih pergi ke dapur untuk membuat soto ayam, tadi saat ia memeriksa kulkas ada ayam satu ekor dan berbagai sayuran yang bisa dipakai untuk membuat soto. Dengan hati-hati Sasa turun dari ranjang, ia kemudian menyelimuti tubuh Arthur dengan selimut tebal dan mencium keningnya penuh cinta.
"Kasian Allard dan Ashley, seandainya mereka bisa ikut kan mereka bisa ikut makan soto ini juga," ucap Sasa pelan sambil memasukkan ayam kedalam kuah soto yang baru saja ia beri daun jeruk.
Karena melihat nasi sudah habis di dalam rice cooker Sasa kemudian menanak nasi kembali dengan porsi yang lebih banyak, setiap ia memasak soto Arthur pasti akan sangat kalap. Maka dari itu Sasa memasak dengan jumlah yang lebih banyak dari tadi sore saat ia memasak telur balado, Sasa ingin Maxwell juga merasakan masakannya juga.
Pagi akhirnya menjelang semua masakan Sasa sudah selesai dinikmati, ia juga sudah selesai membuat sambal tomat yang yang terpaksa ia haluskan menggunakan food prosesor karena di dapur anaknya tak ada cobek.
"Ok semuanya siap, tinggal menunggu pangeran ku bangun baru bisa dimakan," ucap Sasa pelan sambil tersenyum menatap meja makan yang sudah rapi dengan tiga piring bersih yang siap digunakan untuk makan.
Karena tubuhnya penuh dengan aroma masakan Sasa akhirnya memutuskan untuk mandi terlebih dahulu sambil menunggu Arthur bangun.
"Mommm....Mooommmm .."
Suara teriakan khas dari Arthur terdengar memekakkan telinga, Sasa yang sedang memakai pakaian ganti dikamar mandi terpaksa mempercepat gerakannya. Ia lalu keluar dari kamar mandi dengan tergesa-gesa dan mendekati Arthur yang masih berbaring di balik selimut tebalnya dengan rambut yang acak-acakan.
"Kenapa teriak-teriak?" tanya Sasa lembut.
"Arthur kira Arthur sedang mimpi, ternyata Mommy memang ada di Jepang rupanya," jawab Arthur dengan suara parau.
Sasa tersenyum mendengar perkataan sang anak kesayangan, ia lalu duduk disamping ranjang dan meraba wajah Arthur yang masih sembab .
"Bangun lalu sarapan, Mommy sudah membuat soto ayam lho," ucap Sasa pelan.
"Serius??" pekik Arthur tak percaya.
"Apa kau tak mencium wanginya?" tanya Sasa pelan sambil mencubit hidung mancung Arthur.
Arthur kemudian mempertajam indra penciumannya, tak begitu lama kemudian sebuah senyuman tersungging diwajahnya saat berhasil mencium wangi khas soto ayam buatan sang ibu.
"Mom aku mandi, tolong jangan makan dulu sebelum aku selesai mandi," ucap Arthur dengan suara meninggi sambil lompat dari tempat tidur.
"Maxwell, bangunkan dia nak. Tak mungkin Mommy kan yang membangunkan dia?" tanya Sasa setengah berteriak.
"Aduh iya Maxwell," gerutu Arthur sambil berjalan cepat menuju kekamar Maxwell, perutnya semakin berbunyi saat melewati meja makan.
Dari dalam kamar Sasa hanya tersenyum melihat anaknya membangunkan Maxwell, ia sudah kelihatan sekali tak sabar ingin makan.
"Waktu yang cepat berlalu atau Mommy yang belum siap melepas mu nak?" ucap Sasa dalam hati menatap Arthur yang sedang menarik-narik Maxwell untuk diajak kekamar mandi.
🌺 Bersambung 🌺