Faith 2 The Return Of The Prince

Faith 2 The Return Of The Prince
Meet again



Jangan lupa Vote dan Ratting bintang lima untuk mendukung Thor.


Walaupun Arthur sudah memiliki mobil mewah anti peluru yang diberikan oleh sang daddy, ia tetap mencari sebuah mobil second tahun 2007 bermerek Honda Civic yang bentuknya paling ia sukai karena tidak terlalu berlebihan dan cukup untuk ia gunakan kemana-mana karena mesinnya masih bandel.


Setelah selesai mengurus surat-surat yang harus ia tandatangani Arthur akhirnya membawa pulang mobil keduanya itu ke apartemen, ia tak perlu mengurus SIM lagi karena ia sudah mempunyai SIM Internasional yang bisa dipakai di negara manapun dan tidak semua orang bisa memiliki SIM itu karena biayanya sangat maha dan prosesnya pun rumit. Beruntung Arthur memiliki SIM internasionalnya saat ia berumur 18 tahun, dimana itu merupakan hadiah ulang tahun dari sang daddy.


"Tuan muda ini mobil anda juga?" tanya security yang pernah menegur Arthur kaget saat melihat Arthur turun dari mobil Honda Civic second.


"Iya ini mobilku," jawab Arthur tanpa rasa malu.


"Lalu mobil Audi A8 itu....


"Aku tak mau ke kampus naik mobil sebagus itu, biarkan mobil itu di parkiran saja. Aku akan memakainya bergantian dengan mobil Civic ini," ucap Arthur memotong perkataan Haneda Ueno sang security.


"Kalau anda tak mau ke kampus menggunakan mobil mahal itu, lalu kenapa andada harus membelinya tuan?" anya Haneda Ueno bingung.


Mendengarkan pertanyaan sang sekurity membuat Arthur tersenyum, ia lalu merangkul sang security yang sudah akrab dengannya itu menggunakan tangan kirinya.


"Mobil Audi yang ada di parkiran bawah tanah itu adalah pemberian dari ayahku, aku tak mau memakainya untuk ke kampus karena tak mau memancing kecemburuan sosial. Aku lebih baik memakai mobil ku ini yang aku bpeli dari hasil tabunganku ini pak," ucap Arthur pelan sambil berbisik.


"Jadi begitu rupanya, saya mengerti kalau begitu tuan...memang si jaman sekarang banyak sekali gadis yang akan bersinar kedua matanya saat melihat seorang pemuda tampan mengendarai mobil mewah, mereka pasti akan mengejar-ngejarnya sampai gila," sahut Haneda Ueno dengan serius.


"Ha ha ha... masa sampai gila pak, ya sudahlah jangan membicarakan orang lain pak. Saya masuk dulu ya, oh iya ini ada makanan kecil dan minuman untuk bapak dan teman-teman," ucap Arthur pelan sambil menyerahkan satu kantung kertas pada Haneda Ueno.


Haneda Ueno kegirangan diberikan makanan oleh Arthur, ia yang awalnya sungkan dan malu pada Arthur karena sudah menuduhnya yang bukan-bukan pada hari pertama Arthur datang kini menjadi respect pada Arthur karena kebaikan pemuda tampan itu. Arthur akhirnya masuk ke dalam apartemen karena hari sudah mulai malam, perutnya sudah lapar karena belum makan sejak siang sewaktu ia pergi ke sebuah dealer mobil. Arthur yang tak pernah makan disembarang tempat memilih untuk menahan rasa laparnya sampai di apartemen untuk membuat makanan sendiri, pasalnya perutnya sedikit sensitif jika makan sembarang tempat. Hal ini terjadi karena sang mommy selalu memasakkan makanan terbaik untuknya dan adik-adiknya, maka dari itu ia tak bisa makan makanan disembarang tempat.


Karena terburu-buru Arthur tak melihat jalan ketika ia keluar dari lift, sampai akhirnya ia menabrak seseorang yang sedang membawa tumpukan pakaian dalam plastik yang sudah rapi dan wangi.


"Maaf tuan maaf...saya yang salah ..." ucap seorang gadis ketakutan, sambil menundukkan kepalanya meminta maaf pada Arthur. Sementara itu dihadapannya nampak semua pakaian yang ia bawa berantakan di lantai.


"Kau tak perlu minta maaf karena aku yang...


Deg


Arthur tak dapat menyelesaikan perkataannya karena ternyata gadis yang ada dihadapannya itu adalah Zarina, gadis yang kemarin meninggalkannya di restoran barbeque seorang diri.


"Zarina...


"Hei gadis bodoh apa yang kau lakukan!!!" teriak seorang wanita dari arah lorong sebelah kiri dengan keras sambil berlari menuju ke tempat Arthur dan Zarina berada, wanita itu terlihat sangat marah.


"Kau...bukankah aku sudah bilang tadi, bawa pakaian ini hati-hati. Pakaian ini adalah pakaian mahal, setahun gajimu bekerja di tempat ini tak akan bisa membeli satu pakaian ini Zarina!!!" hardik wanita yang baru datang itu dengan keras sambil berkacak pinggang dihadapan Zarina yang sedang tertunduk, ia tak menyadari bahwa orang yang ia tabrak adalah Arthur.


"Maaf nyonya saya tidak sengaja," jawab Zarina terbata.


"Tidak sengaja apa!! dasar gadis bodoh...


Plakk


Wanita yang sedang memarahi Zarina tak menyelesaikan perkataannya karena ia melayangkan tamparannya ke wajah Zarina yang sedang tertunduk ketakutan, Zarina yang tidak menyangka akan menerima tamparan dari atasannya nampak tak bisa menyeimbangkan kedua kakinya. Ia terhuyung dan jatuh ke belakang namun, tiba-tiba ada dua tangan yang menahan tubuh Zarina sehingga membuat Zarina tidak jadi jatuh ke lantai.


"Jadi begini cara anda menyelesaikan masalah?" tanya Arthur dengan cepat sambil menahan Zarina agar tidak jatuh.


Deg


"Kau...


Arthur mengangguk pelan merespon perkataan Zarina, ia seperti sedang menahan Zarina agar tidak bicara. Setelah membantu Zarina berdiri dengan baik Arthur kemudian berjalan mendekati wanita yang sebelumnya menampar Zarina.


"Siapa anda, kenapa anda ikut campur masalah saya dengan anak buah saya yang tak becus bekerja itu?!" tanya wanita dihadapan Arthur dengan suara keras.


"Aku adalah salah satu penghuni apartemen ini, aku juga orang yang menabrak gadis ini tadi. Tapi anda tiba-tiba datang dan memarahinya seperti itu tanpa bertanya apa yang terjadi sebenarnya, apakah ini yang namanya seorang atasan yang baik?" tanya balik Arthur sambil berjalan mendekati atasan Zarina.


"Saya...


"Anda bersalah, karena anda sudah main hakim sendiri. Dan untuk pakaian itu lihatlah tidak ada yang rusak atau kotor sama sekali, karena pakaian-pakaian itu ada di dalam plastik dan pada saat pakaian itu terjatuh tidak dengan tekanan yang kuat. Jadi tidak ada yang rusak sama sekali, kalau anda tidak percaya silahkan cek terlebih dahulu," ucap Arthur memotong perkataan atasan Zarina dengan suara meninggi.


Mendengar perkataan Arthur membuat atasan Zarina terdiam, ia lalu menoleh kearah pakaian yang dibawa Zarina sebelumnya. Ia kemudian mengecek bungkusan pakaian itu satu persatu, seperti apa yang dikatakan oleh Arthur sebelumnya semua pakaian yang dibawa oleh Zarina masih dalam kondisi baik dan rapi tanpa ada sobekan sama sekali di plastik pembungkusnya.


"Lihat tidak ada yang rusak sama sekali bukan, lalu sekarang bagaimana pertanggungjawaban anda padanya?" ucap Arthur pelan sambil menjentikkan satu jarinya ke hadapan atasan Zarina yang masih melihat ke arah Zarina yang tertunduk.


"Apa maksud anda tuan?" tanya wanita setengah baya itu dengan bingung.


"Tadi anda menamparnya lalu sekarang apa yang akan anda lakukan setelah tahu bahwa tidak ada yang ia rusakkan, lagi pula barang-barang itu terjatuh karena kesalahanku. Jadi intinya disini gadis ini tidak bersalah, lalu sekarang keadilan apa yang pantas untuk dia terima atas apa yang sudah anda lakukan sebelumnya tadi?" tanya balik Arthur dingin.


Atasan saya yang tak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu langsung terdiam, ia tak bisa berkata apapun. Begitu pula dengan Zarina yang tak menyangka akan dibela oleh Arthur seperti itu, padahal Ia baru pertama kali bertemu dengan Arthur.


"Kalau anda diam berarti aku yang memutuskan disini, karena gadis ini tak mendapatkan ketidakadilan saat bekerja dengan anda. Maka saya putuskan mulai detik ini dia bukan lagi karyawan anda dan lebih baik anda membayar sisa gajinya saat ini juga," ucap Arthur dengan santai tanpa rasa bersalah.


"Hei aku ..


"Stttt...trust me, ok" bisik Arthur mencoba untuk menenangkan Zarina yang panik.


"B--baik kalau begitu, kebetulan sekali aku sudah muak dengan gadis ini. Baguslah kalau ia berhenti bekerja, ini upahmu bulan ini ambillah," sahut atasan Zarina dengan lantang, ia lalu melemparkan uang pecahan 5000 Yen kearah Zarina dengan keras.


Emosi Arthur hampir naik kembali ketika melihat Zarina dilempar uang 5000 yen, ia hampir tak bisa menahan emosinya ketika melihat kejadian itu kalau tidak ditahan Zarina yang langsung mengambil uang dihadapannya.


Setelah melempar uang kepada Zarina, wanita setengah baya itu langsung merapikan pakaian pakaian yang ada di lantai. Ia lalu membawanya dengan cepat dari hadapan Arthur dan Zarina menuju ke lift. Setelah wanita itu pergi Zarina terlihat sedih kedua matanya berkaca-kaca sambil menatap uang yang ada di tangannya.


"Hei kenapa kau menangis?" tanya Arthur panik.


"Terima kasih tuan kaya, atas bantuan anda saya kehilangan pekerjaan. Setelah ini saya harus mencari pekerjaan lagi hiks hiks..." alih-alih menjawab pertanyaan Arthur yang ada dihadapannya Zarina justru menangis sesenggukan, ia sedih karena kehilangan pekerjaan.


"Kemana lagi aku harus mencari pekerjaan hiks...hiks...


Arthur mengangkat satu alisnya mendengarkan perkataan Zarina, tak lama kemudian sebuah senyuman tersungging di wajahnya tampannya.


"Ikut aku," ucap Arthur dengan keras sambil menarik tangan Zarina.


"Hei....


🌺To be continued🌺


Jangan lupa Vote dan Ratting bintang lima untuk mendukung Thor, terima kasih kakak-kakak.


Love u kakak-kakak