Faith 2 The Return Of The Prince

Faith 2 The Return Of The Prince
"datang"



Jangan lupa vote dan ratting bintang 5 untuk mendukung Thor


Terima kasih


Dalam perjalanan pulang Maxwell tak henti-hentinya meraba-raba stop map yang berisi berkas-berkas kepemilikan apartemen barunya yang dibelikan oleh Arthur, senyumnya tak juga hilang dari wajahnya. Ia benar-benar tak menyangka akan diberikan sebuah apartment yang cukup mewah baginya oleh Arthur, sebuah hal yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya akan mempunyai apartemen yang lebih layak dari apartemen lamanya yang ia sewa pertahun.


"Kau akan dikira orang gila Max kalau terus tertawa seperti itu," ucap Arthur pelan menahan tawa sambil terus konsentrasi membawa mobilnya menuju sekolah Zarina.


"Biar saja, biar saja mereka tau kalau aku sedang bahagia," jawab Maxwell dengan cepat.


"Dasar bodoh," cibir Arthur sambil tertawa.


Maxwell hanya tersenyum mendengar perkataan Arthur tanpa berniat menyanggah perkataan sang tuan, ia masih sangat senang memiliki apartemen baru. Dan bisa pindah dari apartemen lamanya yang sangat sempit itu, sebagai warga asing yang tinggal di negara orang ia tak akan bisa membeli apartemen dengan hasil uangnya sendiri semudah Arthur yang langsung membeli cash tanpa pikir panjang lebar.


30 menit kemudian Arthur dan Maxwell akhirnya sampai di asrama Zarina, mereka menunggu ditempat biasa saat Arthur menurunkan Zarina. Sejak Hyuga ditangkap Arthur memaksa Zarina untuk membawa ponsel pemberiannya supaya mudah berkomunikasi, setelah menunggu selama hampir dua puluh menit Zarina keluar dari asrama dengan membawa tas ranselnya. Tiap pulang sekolah jam empat ia harus pergi bekerja paruh waktu dan pihak sekolah tau akan hal itu sama seperti para penjaga gerbang, mereka selalu tersenyum ketika melihat Zarina keluar dari gerbang asrama sama seperti kali ini.


"Semangat untuk hari ini Zarina," ucap Takeru Kobayashi sang penjaga gerbang sekolah Zarina.


"Iya paman terimakasih, paman juga ya," jawab Zarina sambil tersenyum.


"Tentu saja nak," sahut Takeru Kobayashi kembali sambil tersenyum, gurat halus diwajahnya yang sudah mulai menua terlihat jelas saat ia tersenyum.


Zarina kemudian membungkukkan tubuhnya memberi hormat kepada Takeru Kobayashi dan berjalan penuh semangat menuju ke tempat mobil Arthur berada. Walaupun kemarin Arthur marah karena ia memperhatikan pria lain saat sedang ada di kuil namun Zarina tetap tersenyum ketika bertemu dengan Arthur kembali.


"Sore tuan," sapa Zarina pelan pada Arthur dan Maxwell yang ada didalam mobil.


"Sore, cepatlah masuk," jawab Arthur ketus, ia masih sedikit kesal pada Zarina atas kejadian di kuil kemarin dan pemintaan Zarina untuk pulang lebih cepat dari jadwal.


Zarina hanya tersenyum tipis saat mendengar perkataan Arthur, ia tak menyangka bahwa Arthur masih marah padanya padahal ia sudah meminta maaf. Di dalam mobil Zarina menceritakan kegiatannya hari ini pada Maxwell, sementara Arthur hanya menjadi pendengar setia saja sambil konsentrasi menyetir mobilnya dan sesekali melirik ke arah Zarina melalui kaca spion.


 "Jadi kalian dimintai keterangan satu persatu oleh polisi?" tanya Maxwell tak percaya saat mendengar cerita Zarina.


"Iya, hampir semua yang dekat dengan Hyuga dimintai keterangan. Tapi aku dan beberapa murid tak populer tak dimintai keterangan, jadi kami hanya duduk saja di aula melihat teman-teman dimintai keterangan polisi," jawab Zarina dengan polos sambil terus menunyah pocky pemberian Maxwell.


"Lalu bagaimana selanjutnya?" tanya Maxwell untuk yang kedua kali.


"Ya entahlah, aku tak tau. Yang pasti setelah dimintai keterangan mereka diperbolehkan pulang, hari ini pun sebenarnya tak ada pelajaran karena kunjungan polisi itu," jawab Zarina kembali.


"Kalau kau tak ada pelajaran kenapa tak pulang ke apartemenku?" tanya Arthur tiba-tiba ikut bicara.


Maxwell dan Zarina yang sedang berbagi Pocky langsung menoleh ke arah Arthur yang sedang menyetir, Zarina bahkan sampai tak jadi mengambil Pocky yang sedang ada di tangan Maxwell.


"Walau tak ada kegiatan belajar mengajar tapi tetap saja ia tak bisa pergi tuan, itukan masih jam sekolah," jawab Maxwell dengan cepat mencoba menolong Zarina, ia merasa kasihan pada Zarina yang seperti ditahan oleh Arthur. Ia tau kalau Arthur sangat menyukai Zarina namun sikap posesifnya itu membuat Zarina terlihat tak nyaman dan Maxwell tau sekali akan itu, namun ia tak berani bicara karena takut menyinggung hati Arthur.


"Aku tak bertanya padamu Max, aku bertanya pada Zarina," ucap Arthur ketus.


"Maaf tuan sebenarnya yang dikatakan oleh tuan Maxwell benar, walaupun di sekolah tidak ada pelajaran tapi tetap saja kami tak bisa keluar dari sekolah sebelum jam pelajaran usai," sahut Zarina lirih mencoba membela Maxwell.


Cekiittt


Arthur menginjak rem mobil dengan tiba-tiba sehingga membuat roda mobil bututnya bersuara dengan sangat keras saat beradu dengan aspal, sehingga membuat Zarina dan juga Maxwell hampir menubruk ke depan karena keduanya tak memakai sabuk pengaman. Tak lama kemudian Arthur keluar dari mobilnya dan berjalan memutar ke bangku belakang dimana Zarina duduk.


"Ok bos," jawab Maxwell dengan cepat, ia lalu pindah ke kursi driver tanpa keluar dari mobil.


"Kita mau kemana?...


Glek


Maxwell tak dapat menyelesaikan perkataannya saat menoleh ke belakang karena ia melihat Arthur tengah mencium bibir Zarina dengan rakus dan tanpa malu walaupun ada Maxwell di kursi depan.


"Aku sudah bilang padamu Zarina panggil aku Arthur tanpa embel-embel tuan, kau wanitaku Zarina dan aku buka tuanmu," ucap Arthur pelan sesaat setelah melepaskan ciumannya dari bibir Zarina.


"Dan jangan panggil Max dengan sebutan tuan, dia bukan tuanmu. Dia adalah tangan kananku kau bisa memanggilnya dengan namanya saja," imbuh Arthur dingin sambil menatap tajam Zarina.


"Iya tu..eh Arthur aku mengerti," jawab Zarina tertunduk malu, ia takut di cap sebagai wanita murahan oleh Maxwell karena diam saja ketika di cium oleh Arthur.


"Baguslah kalau kau mengerti," ucap Arthur pelan sambil melingkarkan tangannya ke pinggang Zarina dengan erat supaya Zarina tak jauh-jauh darinya.


Maxwell yang duduk di bangku depan hanya menggelengkan kepalanya melihat apa yang dilakukan Arthur pada Zarina, ia kemudian menginjak gas dan melanjutkan perjalanan menuju apartemen Arthur tanpa banyak bicara.


Bandar udara Tokyo


Seorang gadis cantik nampak turun dari pesawat yang baru membawanya dari Montreal Kanada, sebuah senyum tersungging diwajah cantiknya saat ia menarik koper besarnya menuju ke lobby bandara dimana seorang pria berambut pirang sudah menunggunya sambil membawa sebuah kertas ucapan selamat datang.


"Aku datang Arthur," ucap gadis cantik berwajah timur tengah itu dalam hati.


Ia kemudian menurunkan kacamata hitamnya dan mendekati sang pria yang sedang menunggunya.


"Terima kasih sudah menjemputku Travish," ucap gadis cantik itu sambil mengulurkan tangannya ke arah pria yang ada dihadapannya.


"Kau tak usah berterima kasih padaku, inilah gunanya teman Cindy," jawab sang pria berambut pirang yang bernama Travish sambil menerima uluran tangan Cindy yang tak lain adalah mantan kekasih Arthur.


Cindy datang ke Jepang setelah ia mendapatkan info dari Travish yang merupakan teman baiknya dan teman baik Arthur dulu sebelum ia berselisih dengan Arthur, Travish memberitahu Cindy perihal keberadaan Arthur di Jepang walau ia tak tau ada dimana tepatnya. Namun yang pasti ia pernah melihat Arthur ada di sebuah pusat perbelanjaan di Tokyo bersama seorang gadis cantik, dan karena itu ia memberitau Cindy yang kebetulan memang mencari Arthur.


"Aku sudah membayar detektif swasta, dia yang akan membantu kita mencari Arthur," ucap Travish pelan membuka percakapan di dalam mobil yang ia sewa.


"Benarkah?? wah kau baik sekali Travish..terima kasih, aku yakin kita bisa menemukan Arthur secepatnya," sahut Cindy dengan riang.


"Aku juga berharap seperti itu Cindy, dan senang bisa membantumu," jawab Travish pelan.


Cindy memeluk lengan Travish yang sedang mengendarai mobil, ia sudah tak sabar ingin bertemu dengan Arthur belahan jiwanya.


"Kau adalah milikku Arthur, tak akan kubiarkan gadis manapun mendapatkanmu," ucap Cindy dalam hati.


 


🌺 to be continued 🌺


Jangan lupa vote dan ratting bintang 5 untuk mendukung Thor.


Terima kasih.