
Merasa Cora sudah siap, Jack mulai menggerakkan pinggulnya dengan perlahan.
"ssshhh.." desis Cora.
"Apa aku menyakitimu?" tanya Jack khawatir. Ia berusaha melakukannya dengan lembut. Cora menggelengkan kepalanya. Mungkin karena ini pertama kalinya ia melakukannya hingga rasanya sedikit sakit. Namun rasa sakit itu perlahan hilang digantikan oleh rasa nikmat.
"Oughhh.. Cora... sayang.. aku mencintaimu," rancau Jack menutup matanya merasakan nikmat yang luar biasa dibawah sana. Jack terus memompa milik Cora. Pria itu mengeluarkan kalimat pujian dari mulutnya membuat Cora merona ditambah dengan wajah Jack yang terlihat sexy dimata Cora saat pria itu mengerang.
"Jack.. akuh.. akuhh akan sampaihh."
"Tahan sayang, kita lakukan bersama-samahhh," kata Jack semakin mempercepat hentakannya hingga keduanya mencapai puncak kenikmatannya. Jack menyemburkan semua benihnya di dalam milik Cora. Ia bahkan lupa menarik miliknya saat keduanya hendak mencapai puncak. Biarlah Cora marah padanya, ia sudah siap jika wanita itu memarahinya karena sudah mengeluarkannya di dalam.
"Jack mengecup bibir Cora sebelum ia menjatuhkan tubuhnya di atas Cora. Nafas keduanya saling memburu. Tangan nakal pria itu memainkan bukit kembar Cora dengan lembut.
"Jack.." pekik Cora saat merasakan milik pria itu kembali mengeras. Jack mengangkat kepalanya, menatap Cora dengan senyuman smirknya.
"Sekali lagi ya," ujar Jack serak menggerakkan pinggulnya kembali. Kedua kembali mengarungi rasa nikmat itu kembali.
*****
Setelah Jack dan kedua anaknya pulang. Cora selalu tersipu tiap kali ia melewati sofanya. Ia akan mengingat kegiatan panasnya bersama Jack di atas sofanya.
"Sial.. otakku mulai rusak," gumam Cora menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sepertinya aku harus melakukan kegiatan yang bisa mengalihkan pikiranku negatif ku," batin Cora.
"Ya Tuhan.. aku lupa," ucap Cora menepuk jidatnya.
Ia harus segera membeli pil pencegah kehamilan
mengingat Jack mengeluarkannya di dalam saat mereka melakukannya.
Saat kembali ke unitnya setelah membeli pil kontrasepsi, ia tidak sengaja bertemu dengan Violet.
"Kamu darimana? aku mencarimu. Kamu juga tidak mengangkat ponselmu?" tanya Violet.
"Kenapa wajahmu tiba-tiba merona," ucap Violet mengerutkan alisnya saat melihat wajah Cora yang merona.
"Ayo masuk. Aku akan menceritakannya," ujar Cora menarik tangan Violet.
"Kau tau, aku.. aku dan Jack..." Cora diam sejenak. Violet yang sepertinya mengerti tampak membulatkan matanya.
"Kalian.. kalian berdua melakukannya," ucap Violet memicingkan matanya.
"Aishhh.. ini salahku juga. Harusnya aku menolaknya sejak awal. Aku malah menikmatinya," kata Cora. Violet lalu tertawa kuat.
"Sepertinya kamu ada rasa untuk si duda itu," kata Violet.
"Aku tidak tahu Violet. Tapi sepertinya apa yang kamu katakan benar," kata Cora jujur.
"Aku mendukungnya. Kalian terlihat cocok," ujar Violet.
"Sudah ahh.. jangan membahasnya lagi," tukas Cora malu.
"Jangan bilang kamu keluar untuk membeli pil pencegah kehamilan?" tanya Violet. Cora mengangguk.
"Apa Jack yang menyuruhmu?" tanya Violet. Cora menggeleng.
"Pergilah, cepat minum obatmu itu," kata Violet. Cora mengangguk.
Violet mengusap perutnya saat Cora pergi. Violet seketika teringat dengan wajah Barnes.
"Ada masalah?" timpal Cora membuyarkan lamunan Violet.
"Tidak, aku hanya merindukan ibuku. Padahal akhir-akhir ini kami sering berbicara lewat telepon. Mungkin karena satu bulan ini aku tidak pulang ke rumah," ujar Violet.
"Kenapa kita tidak berkunjung ke rumah orang tuamu saja. Aku belum pernah bertemu dengan keluargamu," kata Cora.
"Ah ide yang bagus. Tapi aku takut kamu tidak akan betah. Adik perempuanku sangat cerewet. Aku juga punya kakak laki-laki yang cerewet," kata Violet membuat keduanya tertawa.