
Cora terbangun karena bel rumahnya berbunyi.
"Siapa yang datang tengah malam seperti ini," batin Cora melirik jam wekernya yang sudah menunjukkan angka 12. Cora merinding, mulai berimajinasi. Membayangkan orang yang berdiri di pintunya seorang psikopat seperti film yang ditontonnya tadi malam sebelum tidur.
Layar ponselnya menyala. Ada panggilan masuk dari seseorang. Ia memang sengaja mematikan nada dering ponselnya sebelum tidur. Dengan rasa takut, Cora mengambil ponselnya dari atas nakas.
"Jack.." batin Cora. Dengan cepat ia mengangkat panggilan dari Jack.
"Halo Jack,"
"Apa kamu di dalam? kami di depan unit mu," ucap Jack.
"Astaga.. sebentar, aku akan membuka pintunya," kata Cora turun dari atas tempat tidurnya lalu memakai sendal rumahnya. Cora merasa lega, ternyata yang menekan bel pintunya adalah Jack.
"Ceklek..." pintu terbuka. Jack tampak menggendong Gizela. Sementara itu, Elvis berdiri disamping Jack dengan wajah mengantuknya menggenggam tangan Jack.
"Mum..." panggil Gizela dengan mata berkaca-kaca merentangkan tangannya karena ingin digendong Cora.
"Sayang... ada apa?" tanya Cora mengambil alih Gizela dari gendongan Jack.
"Dia demam dan ingin menemui mu," ujar Jack masuk ke dalam unit Cora.
"Ya ampun.. badannya panas sekali," ujar Cora menyentuh kening dan leher Gizela.
"Apa kamu sudah membawanya ke dokter?" tanya Cora. Mereka lalu duduk di sofa.
"Sudah. Gizela juga sudah meminum obatnya. Aku tidak tahu kenapa panasnya semakin tinggi," kata Jack.
"Elvis bilang mereka bermain hujan terlalu lama saat di rumah Bianca," kata Jack.
"Bagaimana dengan Elvis?" tanya Cora menyentuh kening Elvis.
"Aku baik-baik saja aunty," kata Elvis.
"Jack tolong bawa Elvis ke kamar, sepertinya dia sangat mengantuk," kata Cora. Jack lalu mengajak Elvis ke kamar Cora.
"Biarkan aku yang mengambilnya," kata Jack. Cora mengangguk. Ia lalu duduk di tepi ranjangnya.
Cora menempelkan plester penurun demam di kening Gizela.
"Apa Gizela akan baik-baik saja?" timpal Elvis khawatir dengan adiknya. Anak itu sudah mengantuk namun karena rasa khawatirnya ia tidak bisa tidur.
"Sayang.. jangan khawatir, Gizela akan baik-baik saja. Kamu tidur saja, aunty dan daddy mu yang akan menjaga Gizela," kata Cora mengusap rambut kepala Elvis. Elvis mengangguk dan menutup matanya.
"Jack bisakah kamu membantuku," ujar Cora.
"Tentu saja."
"Aku tidak bisa mengambil karpet dari dalam lemari karena menggendong Gizela. Bisakah kamu mengambilnya," ujar Cora. Jack mengangguk lalu berjalan menuju lemari. Setelah mengambil karpet tebal dari dalam lemari, Jack memasangnya di atas lantai dan melapisinya dengan bad cover.
"Kalian tidur di atas saja. Aku dan Gizela akan tidur di bawah," kata Cora. Ia tidak mungkin menyuruh Jack dan Elvis pulang.
"Yang benar saja. Biar aku saja yang tidur dibawah," ucap Jack menolak. Harga dirinya akan turun saat membiarkan Cora tidur lesehan.
"Aku tidak ingin demamnya menular pada Elvis. Kamu temani dia saja," ujar Cora.
"Kalau begitu biarkan kami para pria yang tidur di bawah saja," tukas Jack.
"Tidak, kalian tidur di ranjang saja," kata Cora duduk di atas karpet.
"Kalau begitu, kita bertiga tidur dibawah," kata Jack membuat Cora membulatkan matanya.
"Aku tidak mungkin membiarkanmu merawat Gizela sendirian," ujar Jack.
"Terserah kamu saja," balas Cora tidak ingin berdebat dengan Jack.
"Mum.. aku haus," kata Gizela. Dengan sigap Jack mengambil air minum untuk Gizela.