
Tak lama kemudian, Daren pulang karena ada kelas jam 3 sore. Baru saja Cora mendaratkan bokongnya di sofa namun pikirannya tiba-tiba tertuju pada Jack.
"Apa pria itu baik-baik saja," gumam Cora bangkit lalu berjalan menuju kamar mandi.
"Jack.. apa kamu baik-baik saja?" ucap Cora mengetuk pintu kamar mandi.
"Ceklek.." Jack membuka pintu.
"Aku baik-baik saja," ujar Jack dengan wajahnya yang terlihat pucat.
"Ueekkk.." Jack mual lagi. Jack melangkah dengan cepat menuju wastafel.
"Jack.. apa yang terjadi.." tukas Cora menghampiri Jack.
"Sepertinya asam lambungku naik," ujar Jack muntah mengeluarkan isi perutnya.
"Jangan bilang kamu tidak bisa makan makanan pedas," kata Cora, Jack mengangguk.
"Dasar bodoh.." ucap Cora kesal. Sudah tahu tidak bisa makan makanan pedas, tapi berlagak seolah bisa.
Jack duduk di atas Closet memegang perutnya yang sakit. Keringat dingin bercucuran di dahi Jack.
"Ayo kita ke klinik dulu," ujar Cora. Jack menggeleng. Pria itu memeluk pinggang Cora dan menyembunyikan wajahnya di perut Cora.
Cora diam membeku saat Jack memeluk pinggangnya.
"Bisakah kamu membeli obat saja untuk ku. Tubuhku terasa lemas sekali," ucap Jack. Cora merasa kasihan melihat Jack. Ia lalu membantu Jack keluar dari kamar mandi. Membawanya ke tempat tidurnya dan merebahkannya di sana.
"Tunggu sebentar. Aku akan membeli obat untukmu," kata Cora pergi dengan terburu-buru.
Lima belas menit kemudian, Cora kembali ke unitnya. Ia melihat Jack meringkuk di atas tempat tidur. Jack sudah melepaskan jasnya.
"Ayo minum obat dulu," kata Cora membawa segelas air putih ditangannya. Jack bangun dan meminum obatnya. Pria itu terlihat tidak bertenaga lagi.
Setelah meminum obatnya, Cora hendak pergi menyimpan kembali gelas yang dipakai Jack.
"Apa kamu akan meninggalkanku?" kata Jack membuat langkah kaki Cora terhenti.
"Kamu jahat sekali.." gumamnya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan posisi membelakangi Cora.
Cora mengerutkan kedua alisnya. Menatap bingung ke arah Jack yang sedang membelakanginya.
"Siapa suruh kamu makan pedas," ujar Cora menaruh gelas ditangannya di atas nakas.
"Itu karena aku tidak ingin kalah dari dia. Apa kamu tidak peka. Aku sedang berusaha mendekatimu," ujar Jack membuat Cora membulatkan kedua matanya.
"Akhh..." pekik Jack memegang perutnya yang sakit.
"Jack.. kamu baik-baik saja," kata Cora khawatir mendekati pria itu.
"Perutku sakit sekali," gumam Jack memutar tubuhnya. Menarik tangan Cora hingga wanita itu duduk di pinggir ranjang.
"Jangan tinggalkan aku. Bisakah kamu menemaniku di sini," ujar Jack tidur di atas paha Cora dengan wajah menghadap perut Cora. Kedua tangannya melingkar di pinggang wanita itu.
"Aishh.. kenapa kamu selalu merepotkan," gumam Cora pasrah. Kalau saja bukan karena Jack sakit, Cora tidak akan mau.
********
Cora mengerjapkan matanya berkali-kali, seolah mencari kesadaran.
"Akh.." pekik Cora melihat Jack tidur di sampingnya dengan kedua tangan pria itu memeluk erat tubuhnya.
"Kenapa aku bisa tidur di sampingnya," gumam Cora melepaskan tangan Jack dari pinggangnya.
"Jangan pergi dulu. Aku masih mengantuk," gumam Jack serak. Jack menindih tubuh Cora tidak memberi kesempatan pada Cora untuk melepaskan diri.
"Jack, lepaskan aku," ujar Cora mendorong tubuh Jack. Namun tenaganya tidak sebanding dengan pria itu.
"Besok aku ke luar kota dan kita tidak akan bertemu selama tiga hari. Tentu saja itu akan membuatku merindukanmu," kata Jack mengecup leher Cora.
"Dasar gila. Akan lebih baik kita tidak bertemu," kata Cora.
"Tidak bisa. Aku tidak bisa membiarkanmu berduaan dengan Daren. Kau tau, aku sedang berusaha mendapatkan mu. Aku tidak mau kalah dari pria-pria lainnya yang sedang mengejar mu," gumam Jack dengan mata terpejam.
"Memangnya siapa yang mau denganmu," kata Cora mencoba mendorong tubuh Jack. Pria itu semakin mengeratkan pelukannya.
"Tentu saja kamu. Aku akan mendapatkan mu dan menjadikanmu istri dan ibu anak-anakku," ujar Jack serius. Namun Cora tidak menanggapinya. Ia pikir Jack hanya membual saja.
"Terserah kamu saja," balas Cora pasrah. Sepertinya ia tidak akan bisa lepas dari pria itu.