
Malam harinya Jack mengantar Cora pulang ke unitnya. Jack melirik Cora yang duduk disampingnya, sejak tadi wanita itu terlihat diam.
"Ada apa?" tanya Jack. Cora menggelengkan kepalanya.
"Lalu kenapa wajahmu terlihat cemberut?" tanya Jack meraih tangan Cora dan menggenggamnya.
"Apa kamu menyukai Brenda?" tanya Cora. Jack mengerutkan kedua alisnya.
"Pertanyaan apa itu. Kamu tau kan kalau aku menyukai mu, kenapa kamu malah menanyakan hal itu?" tukas Jack.
"Memangnya salah bertanya? aku lihat Brenda menyukaimu," pungkas Cora memalingkan wajahnya.
"Apa kamu sedang cemburu?" tanya Jack tersenyum. Ia senang jika Cora cemburu. Itu artinya Cora memiliki rasa untuknya. Hanya saja wanita itu belum berani mengungkapkannya.
"Siapa yang cemburu coba dan kenapa aku harus cemburu," ujar Cora tidak terima dibilang cemburu.
"Benarkah. Aku pikir kamu akan cemburu. Aku terlalu percaya diri berarti," kata Jack terkekeh. Meskipun ia yakin jika Cora sebenarnya cemburu.
Setibanya di depan gedung unit Cora, Jack memarkirkan mobilnya.
"Thanks Jack," kata Cora hendak turun dari mobil Jack.
"Akh.." pekik Cora saat Jack menarik tangannya.
"Aku ingin menciummu," kata Jack meraup bibir Cora.
"Jack.." Cora mencoba melepaskan bibirnya. Jack menahan kepalanya hingga ia kesulitan untuk bergerak. Kekuatan pria itu kalah jauh darinya.
"Jack.. mmmppttthh," Cora memukul dada pria itu agar melepaskan bibirnya. Jack menarik tubuh Cora dan membawanya ke atas pangkuannya.
"Kamu terlihat lucu saat cemburu," kata Jack.
"Lalu kamu sebut apa percintaan kita kemarin?" tanya Jack. Cora membulatkan matanya. Ia lalu memalingkan wajahnya.
"Kau tau, kalau kamu tidak memiliki rasa padaku kamu pasti akan menolak setiap sentuhanku sayang," kata Jack menghirup dalam-dalam aroma tubuh Cora. Jack menyatukan keningnya dengan kening Cora. Keduanya saling bertatapan. Jack sangat memuja Cora, begitupun sebaliknya. Jack mengusap lembut wajah Cora, menyatukan kedua bibir mereka. Jack mengecup lembut bibir Cora. Wanita itu memejamkan matanya. Menikmati ciuman Jack.
Dengan mesra bibir keduanya saling melum.at dengan lembut. Jack sangat mendominasi ciuman mereka panjang mereka. Cora terbuai dengan ciuman Jack. Jack sangat pandai memanjakan bibirnya. Sangat lembut dan intens membuat Cora melenguh merdu mere.mas kemeja pria itu. Bergerak gelisah di atas pangkuan Jack. Cora bisa merasakan milik Jack mengeras dibawah bokongnya.
Jack menarik kaos hitam yang dipakai Cora saat olahraga. Cora mengangkat tangannya hingga bajunya lepas. Keduanya kembali berciuman. Jack menyusupkan tangannya ke dalam bra Cora, menggenggam kedua bukit kembar Cora dan mere.masnya dengan lembut. Cora melenguh membuat Jack semakin bergairah. Suara wanita itu terdengar sexy di telinganya.
Jack melepaskan tautan mereka, menjelajahi leher jenjang Cora hingga tiba di bukit kembarnya. Melepas penutup bukit itu, dan meraup puncak yang sudah mengeras.
"Uuhhh... Jackhhh.." lenguh Cora melengkungkan tubuhnya merasakan aliran darahnya seolah mendidih. Cora seketika tersadar jika keduanya sedang berada di dalam mobil.
"Jack.. berhentihhh.. ahhhh," ujar Cora menjauhkan kepala pria itu dari dadanya.
"Jack... kita sedang di mobil," ujar Cora khawatir orang-orang akan melihat mereka.
"Bukankah ini sangat menantang," kata Jack menjelajahi leher Cora.
"Jack berhenti..." kata Cora mendorong tubuh Jack. Jack menghela nafasnya menatap tubuh Cora penuh gairah. Cora lalu menutup kedua bukit kembarnya dengan tangannya.
"Satu ronde bagaimana?" ujar Jack mengerlingkan matanya.
"Dasar nakal, aku mau turun," ucap Cora memukul dada Jack dan turun dari atas pangkuan Jack. Jack lagi-lagi menahannya.
"Jack.. lepas," kata Cora.
"Tunggu sebentar saja," ujar Jack serak memeluk tubuh Cora. Membenamkan wajahnya di bukit kembar Cora.
"Biarkan seperti ini dulu. Setidaknya rasa sakit di kepala ku sedikit reda," ujar Jack serak.