
Ponsel Barnes tiba-tiba berdering membuat kedua manusia yang sedang dilingkupi kabut gairah itu terkejut. Violet yang tersadar mendorong Barnes hingga sedikit menjauh darinya.
"Sial... apa yang sudah ku lakukan," batin Violet merapikan pakaiannya.
"Barnes pergilah..." kata Violet mengusir Barnes sebelum mereka melakukan hal yang lebih jauh.
"Violet.." panggil Barnes saat menyadari wanita did di depannya memalingkan wajah darinya. Barnes akui dirinya sangat bodoh. Seharusnya ia menahan gairahnya. Seharusnya dia mengingat jika ada Isabel kekasihnya. Barnes seketika melupakan Isabel saat bersama Violet.
"Maafkan aku..." kata Barnes menyesal mengabaikan ponselnya yang terus berdering.
"I.. ini kesalahan ku," ujar Barnes menatap Violet.
"Tidak, aku juga salah. Seharusnya aku tidak terbawa suasana," tukas Violet jujur. Ia akui Barnes tidak sepenuhnya bersalah.
"Pergilah Barnes, jangan buat aku semakin merasa bersalah. Aku tidak ingin menjadi perusak hubunganmu dengan kekasihmu. Anggap saja apa yang sudah kita lakukan tidak pernah terjadi," kata Violet tidak ingin menatap wajah Barnes.
"Violet.." panggil Barnes lembut. Berharap Violet melihatnya.
"Pergilah Barnes.." ujar Violet.
"Baiklah.. aku akan pergi. Tapi aku benar-benar minta maaf atas apa yang kulakukan," kata Barnes.
"Apakah setelah ini kamu akan memutus hubungan denganku?" tanya Barnes takut jika wanita itu akan menarik diri darinya setelah apa yang terjadi diantara mereka. Jujur, Barnes masih ingin berteman dengan Violet.
"Tolong tinggalkan aku sendirian Barnes. Pergilah," ucap Violet mengusir Barnes.
Barnes akhirnya pergi meninggalkan unit Violet.
"Hampir saja harusnya aku tidak terbawa gairah..." gumam Violet mengunci pintunya. Violet menjatuhkan tubuhnya dengan asal di atas sofa.
Violet meraih kotak cemilan dari meja dan memakannya. Tatapannya tertuju pada langit-langit unitnya.
"Oh Violet.. apa yang sedang kamu pikirkan," gumam Violet menepuk jidatnya saat pikirannya tiba-tiba membayangkan kegiatan panasnya saat bersama Barnes.
"Oh ayolah berhenti memikirkannya," gumam Violet menggeleng-gelengkan kepalanya. Ponsel miliknya berdering. Violet bangkit dari sofa, menaruh kotak makanannya di atas meja. Ia lalu melangkahkan kakinya ke tempat tidurnya. Ponselnya ada di sana.
"Baru saja pergi, dia sudah menghubungiku," gumam Violet melihat nama Barnes di layar ponselnya.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Barnes dengan nada cemas. Pikirannya tidak bisa tenang.
"Ya, aku baik-baik saja," balas Violet.
"Violet, apakah setelah ini kita masih bisa berteman dan bertemu?" tanya Barnes. Violet tersenyum menyeringai. Sepertinya pria itu sudah mulai tertarik dengannya. Buktinya, Barnes seperti ketakutan jika dia memutus hubungan dengannya.
"Tentu saja. Aku menganggap kejadian tadi tidak pernah terjadi," jawab Violet membuat Barnes tersenyum kecut. Dalam hatinya ia berharap Violet tidak melupakan apa yang sudah mereka lakukan. Bodoh bukan? seharusnya Barnes tidak berharap akan hal itu. Sepertinya pria itu mulai memiliki rasa dengan Violet.
"Ya kamu benar," balas Barnes.
"Kalau begitu aku tutup dulu, aku ingin mandi," kata Violet membuat kedua mata Barnes membulat. Pikirannya melayang jauh, membayangkan lekuk tubuh Violet.
"Astaga.. apa aku sudah gila," batin Barnes.
"Baiklah. Aku tutup dulu," kata Barnes menutup panggilannya. Pria itu menambah kecepatan mobilnya menuju hotelnya. Ia harus segera menuntaskan hasratnya.