
"A.. aku phobia darah," kata Violet menangis.
"Aku akan melakukannya dengan hati-hati," kata Barnes. Violet menggeleng.
"Percaya padaku. Tutup matamu," ujar pria itu lembut. Sementara itu, Isabel terlihat tidak suka saat Barnes begitu perhatian dengan Violet.
Violet menutup matanya dengan kedua tangannya melingkar di lengan pria itu.
"Makanya jalan itu hati-hati," kata Isabel langsung mendapat tatapan tajam dari Barnes. Isabel menatap pria itu dengan tatapan menantang.
"ssshh..." ringis Violet mere.mas baju Barnes.
"Tahan sebentar.." ucap Barnes lembut. Pria itu lalu merobek kain yang melilit di pinggang Violet dan mengikatkan kain tersebut di kaki Violet.
"Sudah..." ujar Barnes membuat Violet membuka matanya namun tidak melihat kakinya.
"Sebaiknya kita pulang saja, aku akan membawamu ke dokter," kata Barnes. Violet lalu mengangguk.
"Bisakah kamu membantuku. Sepertinya aku kesulitan untuk berjalan," ucap Violet. Barnes mengangguk. Pria itu lalu mengangkat tubuh Violet ala bridal style.
"Yang benar saja. Aku rasa kakimu tidak separah itu. Apa kamu sengaja ingin mencari perhatian dari kekasihku," kata Isabel menatap tajam pada Violet.
"Isabel.. apa kamu tidak punya rasa kasihan sedikit saja. Pikiranmu terlalu jauh," ujar Barnes berjalan mendahului Isabel.
"Sial... wanita itu pasti sengaja," gumam Isabel mengepalkan kedua tangannya.
Violet menatap Isabel dengan senyuman mengejeknya. Violet sengaja melingkarkan tangannya dileher Barnes membuat Isabel semakin marah.
"Sudah ku duga. Violet memang ingin mengambil Barnes dariku. Aku tidak akan membiarkannya," batin Isabel berjalan mengikuti Barnes dari belakang.
Tak lama kemudian Barnes menemukan klinik terdekat. Pria itu mengangkat tubuh Violet berjalan menuju pintu utama klinik tersebut. Seorang perawat datang menghampiri mereka.
"Mari tuan ikuti saya," ujar perawat berjalan mendahului Barnes.
"Sayang.. aku rasa dia bisa berjalan sendiri," timpal Isabel cemburu.
"Umm.. Barnes sebaiknya kamu menurunkan ku saja. Aku akan berjalan sendiri," kata Violet pelan.
"Sudahlah, sebentar lagi juga akan sampai," kata Barnes.
"Tapi aku tidak ingin Isabel ma_"
"Sayang.. tolong mengerti keadaan, dia sedang terluka," kata Barnes membujuk Isabel. Wanita itu lalu menghela nafasnya dan mengangguk.
"Aku ingin dokter wanita," bisik Barnes pada perawat mengingat Violet hanya memakai bikini saja. Ia tidak ingin tubuh wanita itu menjadi tontonan pria lain. Sadar atau tidak Barnes mulai posesif pada Violet.
Setibanya di ruang rawat, dokter memeriksa luka di kaki Violet. Wanita itu menyembunyikan wajahnya di balik lengan Barnes karena tidak berani melihat kakinya yang terluka.
"Mari ikut saya sebentar. Saya akan membuat resep untuknya," ujar Dokter setelah mengobati luka di kaki Violet.
"Sebaiknya kamu menjauh dari Barnes atau aku tidak akan segan-segan memberimu pelajaran," kata Isabel mendorong tubuh Violet.
"Bagaimana kalau aku tidak mau," balas Violet menarik sudut bibir kirinya.
"Aku mencintai kekasihmu," tukas Violet membuat Isabel terkejut.
"Sialan kamu," ujar Isabel ingin menampar Violet. Untung saja tangan Violet dengan sigap menahannya.
"Aku akan membuat Barnes mencampakkan mu," kata Violet menghempaskan tangan Isabel.
"Kamu..." Isabel geram hingga menjambak rambut Violet.
"Aku tidak akan membiarkannya *****.."
"Isabel..." pekik Barnes membuat Isabel membulatkan kedua matanya.
"Sayang... dia menghinaku," ucap Isabel memasang wajah sedihnya pada Barnes. Violet menggelengkan kepala.
"Dia mengatakan padaku akan mengambil mu dari ku," ujar Isabel mengadu.
"Tidak.. aku tidak mengatakan apapun," ucap Violet membela dirinya.
"Jangan berbohong, jelas-jelas kamu mengatakannya," tuduh Isabel.
"Pulanglah, aku akan menemui mu nanti," kata Barnes datar.
"Sayang.. kamu membelanya?" tanya Isabel.
"Kita bahas nanti saja. Sebaiknya kamu pulang sekarang," balas Barnes.
"Tap__"
"Aku percaya padamu. Pulanglah," kata Barnes. Isabel tersenyum senang. Barnes berpihak padanya. Ia lalu mengangguk, menatap Violet seolah mengejeknya.
"A..aku tidak mengatakan apapun padanya," kata Violet menunduk.
"Aku percaya padamu," ujar Barnes duduk di samping Violet.
"Dasar pria, baru saja dia mengatakan kalimat itu pada Isabel dan sekarang dia juga mengatakannya padaku," batin Violet.
"Aku akan mengantarmu pulang," ucap Barnes. Violet lalu mengangguk.
Setibanya di hotel tempat Violet menginap, Barnes menurunkan wanita itu di atas ranjang.
"Aku rasa kita tidak perlu bertemu lagi. Aku tidak ingin merusak hubungan kalian. Pergilah dan jangan pernah temui ku lagi," kata Violet menatap Barnes.
"Apa yang kamu katakan Violet," tukas Barnes. Ia bahkan lebih percaya pada wanita itu dibandingkan dengan kekasihnya sendiri. Hatinya mulai berpaling ketika bertemu dengan Violet. Bagaimana bisa ia membiarkan Violet menjauhi dirinya.
"Aku tidak___"
Barnes membungkam mulut Violet dengan bibirnya. Pria itu mengecup lembut bibir Violet.
Violet hendak menjauhkan kepalanya namun Barnes dengan cepat menahannya. Barnes me.***** bibir bawah Violet dengan lembut.
Violet yang awalnya menolak kini terbuai dengan ciuman Barnes. Ia bahkan membalas ciuman pria itu, melingkarkan kedua tangannya di leher pria itu.
Entah siapa yang memulai, kini keduanya sudah sama-sama telanjang. Barnes menindih tubuhnya. Violet tidak bisa berpikir dengan jernih. Tubuh dan pikirannya dikuasai oleh kabut gairah.
"Mmmhhh... shhhh..." desis Violet kala mulut Barnes memainkan bukit kembar miliknya. Violet semakin menekan kepala Barnes seolah menginginkan hal yang lebih.
Barnes mengarahkan miliknya ke inti Violet, mendorongnya dengan perlahan hingga seluruh miliknya tertanam disana.
"Ouchhh.. ssshh.." erang Barnes merasakan miliknya tertanam di dalam milik Violet. Ia lalu menggerakkan pinggulnya dengan perlahan.
"Barnessss... mmmmhhhh"
Suara de.sahan Violet terdengar seksi sekali membuat gairahnya semain memuncak. Barnes semakin bersemangat memompa miliknya hingga keduanya mencapai puncak bersamaan.
"Ahhh.." pekik Barnes setelah mengalami pelepasan hebat. Menyemburkan semua benihnya di dalam milik Violet.
"Aku mencintaimu," ucap Barnes mengecup kening Violet. Sebuah kata yang tidak pernah keluar dari mulutnya tiap kali ia melakukan hubungan in.tim. Violet adalah wanita pertama yang mendapatkannya.
Kedua manusia itu melanjutkan kembali kegiatan panas mereka dan berakhir ketika Barnes melihat Violet kelelahan meskipun ia masih kuat untuk melanjutkan ronde berikutnya. Hanya saja ia tidak tega dengan Violet. Barnes mengecup kening wanita itu kemudian membawanya ke dalam pelukannya.