
Cora dan Daren sedang menikmati makan siang bersama di unitnya. Suara bel dari pintunya membuat keduanya yang sedang serius berbicara terganggu. Daren hampir saja mengatakan perasaannya pada Cora. Meskipun ia sering mengutarakan perasaannya dengan gombalannya. Tapi kali ini ia ingin serius.
"Aku buka pintu dulu," kata Cora menggeser kursinya. Ia lalu berjalan menuju pintunya.
"Kamu.. ada apa?" tukas Cora terkejut dengan kedatangan Jack. Pria itu sepertinya baru pulang dari kantornya.
"Tidak ada. Aku hanya ingin melihatmu," jawab Jack. Pandangannya terganggu saat melihat Daren ada di unit Cora.
"Kenapa dia ada di sini?" tanya Jack.
"Siapa?"
"Dia. Pria yang sedang makan di dapurmu," jawab Jack ketus.
"Memangnya kenapa? aku dan Daren sering makan bersama," kata Cora.
"APA? jangan bilang kamu yang memasaknya," kata Jack tidak terima.
"Pergilah, aku ingin melanjutkan makan siangku," ujar Cora mengusir Jack.
"Aku juga lapar," ujar pria itu masuk begitu saja ke dalam unit Cora.
"Hei.. tunggu.." ucap Cora mengejar Jack. Cora menghembuskan nafas dengan kasar melihat Jack mendaratkan bokongnya di kursi.
"Umm.. Daren, ini Jack. Dia mantan suami Bianca atasanku," kata Cora menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Daren lalu mengangguk.
"Daren.." ucap Daren mengulurkan tangannya.
"Jack," ujar Jack menjabat tangan Daren. Dengan rasa percaya diri yang tinggi Jack mengambil makanan ke piringnya dan memakannya. Daren dan Cora saling bertatapan, seolah mengerti jalan pikiran masing-masing.
"Ya Tuhan.. pria ini tidak tau diri," batin Cora merasa tidak enak hati pada Daren. Pasalnya Daren lah yang membeli semua bahan-bahan makanannya. Cora menatap canggung Daren.
"Sial... beraninya dia memanggil Cora dengan panggilan itu," batin Jack kesal.
"Ada apa?" tanya Cora.
"Kenapa kamu berdiri di situ," ujar Daren.
"Ah iya ... iya.." kata Cora duduk disamping Daren.
"Kita memang sangat cocok. Dari segi makanan saja kita punya selera yang sama," ujar Daren saat Cora menambah sambal di curry ricenya. Cora membuat curry dan ayam bakar untuk makan siangnya bersama Daren.
"Ah.. sepertinya bukan hanya kalian saja. Aku juga pecinta makanan pedas," timpal Jack tidak mau kalah. Pria itu menambah sambal di ayam bakarnya.
"Bukankah kita juga cocok," kata Jack menatap Cora. Cora lalu mengalihkan tatapannya.
Daren yang juga tidak ingin kalah saing dari Jack menambah sambalnya.
"Sial...ini pedas sekali," batin Jack menelan makanannya. Sebenarnya ia tidak bisa makan makanan pedas. Hanya saja ia tidak ingin harga dirinya rendah dihadapan Daren.
"Jack.. kamu baik-baik saja? wajahmu memerah," tanya Daren melihat keringat di dahi Jack.
"Tentu saja. Aku baik-baik saja. Ini karena aku kepanasan saja. Hari ini cuaca sangat panas."
"Kamu benar. Keluar sebentar saja keringat sudah bercucuran," balas Daren. Ketiganya melanjutkan makan siang dalam keadaan hening. Cora melirik Jack yang sedang menahan rasa pedas di mulutnya. Cora merasa heran melihat pria itu yang sejak tadi menambah sambalnya. Dia yang pecinta makanan pedas saja tidak sampai seperti itu.
Setelah makan siang selesai. Jack memilih duduk di sofa dengan segelas susu ditangannya. Sungguh, mulut dan tenggorokannya terasa pedas. Jack yakin 30 menit kedepan perutnya akan mules dan melilit. Sementara itu, Daren membantu Cora membersihkan peralatan makan yang mereka pakai.
Jack berlari ke kamar mandi, perutnya terasa mual. Daren dan Cora terkejut melihat Jack.
"Apa yang terjadi dengannya? sejak tadi dia terlihat aneh," kata Daren. Cora mengangkat bahunya tidak tahu.