CORA'S TRANSMIGRATION

CORA'S TRANSMIGRATION
Bab 66: Kelicikan Jack



"Aku yang bertanya duluan. Jangan lupakan itu," kata Jack. Cora menggeram kesal.


"Pergilah.. aku tidak mengundangmu ke sini," ujar Cora mengusir Jack.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku Cora."


"Pria ini membuat pagiku yang sial bertambah sial," batin Cora geram mengigit giginya.


"Itu bukan urusanmu. Pergilah," kata Cora.


"Gizela merengek padaku karena tak sengaja mendengar pembicaraanku dengan Brenda saat membahas rumor ini. Apa kamu tahu, dia merengek terus padaku. Dia bilang aunty Cora pembohong," ujar Jack mengarang.


"Aku tidak tahu kenapa dia mengatakan kamu pembohong," ujar Jack. Cora terdiam sesaat. Ia ingat pembicaraannya dengan Gizela kemarin. Saat Gizela bertanya tentang kekasihnya.


"Ada apa? kenapa kamu terdiam?" tanya Jack menatap Cora. Sepertinya wanita didepannya itu sedang termakan oleh kata-katanya.


"Tidak ada. Pergilah.." tukas Cora tidak henti-henti mengusir pria itu.


"Lalu apa hubunganmu dengan si Gustav itu?" tanya Jack.


"Aku tidak ingin pulang dan Gizela terus merengek padaku," lanjutnya dengan pikiran liciknya.


Cora menghela nafasnya, "rumor itu tidak benar. Aku tidak tau kenapa mereka membuat berita seperti itu," ujar Cora membuat Jack bersenang ria dalam hatinya. Sepertinya ia akan memanfaatkan putrinya itu untuk mendekati Cora.


"Maafkan daddy princess. Ini demi kita bertiga," batin Jack.


"Pergilah.." ujar Cora membuka pintunya, mempersilahkan pria itu keluar dari unitnya.


"Apa kamu hanya punya makanan seperti ini? makanan ini tidak membuatku kenyang," ujar Jack mengalihkan pembicaraan. " Aku bahkan meninggalkan sarapanku karena kamu," ujar Jack menaruh kembali jar ditangannya ke meja.


"Kamu bisa makan di luar, tidak usah mencari alasan Jack," ujar Cora. Kesabarannya habis karena pria itu.


"Kamu masih punya satu utang lagi Cora," ujar Jack bangkit dari sofa menuju dapur Cora mencari makanan dari dalam lemari pendingin.


"Astaga.. kenapa kamu bertingkah seolah pemilik unit ini," kata Cora kesal menghampiri Jack.


Pria itu bersandar di lemari pendingin, membuka penutup minumannya. Meneguknya dengan tatapan mata tertuju pada bukit kembar Cora membayangkan dirinya meneguk minuman dari sana. Dasar pikiran Jack yang selalu liar.


"Aku anggap utangmu lunas kalau kamu memasak makanan untukku," ujar Jack kembali ke sofa meninggalkan Cora yang berkacak pinggang di tempatnya. Ia masih lapar karena meninggalkan sarapannya setelah mengetahui rumor itu.


"Sabar Cora.. sabar. Hanya membuat makanan saja dan setelah itu kamu tidak akan punya utang lagi padanya," gumam Cora menghembuskan nafasnya kasar.


Jack melirik ke arah Cora yang sedang menyiapkan bahan-bahan makanan dari lemari pendingin dengan wajah cemberutnya.


"Wajahnya jangan seperti itu, aku takut makanannya jadi tidak enak," timpal Jack merebahkan tubuhnya di atas sofa menunggu masakan Cora.


"Menyebalkan sekali," gumam Cora.


Lima belas menit kemudian Cora dan Jack menikmati sup ikan buatan Cora dengan nasi hangat. Masakan sederhana tapi bagi Jack rasanya luat biasa.


Setelah menyelesaikan makannya, Jack pamit pada Cora. Rasanya unitnya kembali tenang saat pria itu keluar dari pintunya.


"Cora..." timpal Daren baru saja kembali setelah olahraga di taman kota.


"Daren.." ujar Cora.


"Kamu habis olahraga ya.."


"Yaps.. aku lapar sekali. Apa kamu memasak hari ini?" tanya Daren. Cora mengangguk.


"Ayo masuk, aku membuat sup ikan tadi," kata Cora. Daren lalu masuk ke dalam unit Cora mengabaikan Jack yang sejak tadi menatapnya.


"Sial... apa pria itu sering datang ke unit Cora dan menikmati masakan Cora," gumam Jack kesal. Tidak suka Cora memasak makanan untuk pria lain. Sejak kedatangan pria itu, Jack seperti tidak dianggap ada di sana. Jack akhirnya memilih pulang.


"Ini