
Saat sesi wawancara Bianca dan Mark berlangsung, Gustav yang juga hadir di acara tersebut menemui Cora.
Awalnya Cora ingin menghindar saat melihat Gustav berjala ke arahnya. Hanya saja pria itu sepertinya mengetahui niatnya. Gustav langsung memanggil namanya.
"Hai.." sapa Gustav.
"Sebaiknya anda jangan menemui saya Tuan Gustav di sini ada banyak kamera," ujar Cora takut. Ia tidak ingin paparazzi mengambil gambar mereka, mengingat Gustav bukanlah orang sembarangan.
"Memangnya kenapa? sejak tadi mereka memang mengambil gambar kita," balas Gustav dengan santai.
Reporter yang jeli melihat semua pergerakan Gustav langsung mendatangi pria itu. Mereka penasaran dengan wanita yang baru saja Gustav temui. Wanita itu pasti bukan orang sembarangan. Gustav bahkan langsung menemui wanita itu setibanya di lokasi.
"Pergilah Tuan Gustav," ucap Cora menghindar setelah melihat wartawan berjalan ke arah mereka.
Cora memilih pergi ke ruang ganti dan make-up yang disediakan panitia. Biasanya para staf selebritis akan ada di sana saat acara berlangsung. Di dalam ruang ganti Cora bisa melihat beberapa selebritis terkenal yang sedang di rias.
**********
Makan malam Barnes dan Violet berjalan dengan lancar. Keduanya saling berbagi cerita satu sama lain. Violet sesekali menyinggung temannya yang bernama yang sudah lama tidak bertemu lagi. Violet juga mengatakan jika temannya tinggal di kota yang sama dengan Barnes.
"Mungkin dalam waktu dekat ini, aku akan berkunjung ke sana tanpa memberitahunya. Aku ingin memberinya kejutan," kata Violet.
"Terakhir kali ia bilang padaku kalau ada pria yang sedang dekat dengannya. Pria itu seorang arsitek sama sepertimu," kata Violet.
"Siapa nama temanmu itu?" tanya Barnes meneguk wine nya penasaran.
"Cora," ujar Violet menatap Barnes.
"Uhukk..uhuk.."
"Barnes, apa kamu baik-baik saja," tanya Violet memasang wajah khawatirnya melihat pria itu tersedak.
"Ya, aku baik-baik saja," balas Barnes.
"Kamu serius?" tanya Violet. Barnes lalu mengangguk.
Barnes tampak sedang memikirkan sesuatu. Teman Violet memiliki nama yang sama dengan Cora mantannya, bahkan tinggal di kota yang sama dengannya. Satu lagi, kekasih teman nya itu seorang arsitek. Entah mengapa Barnes merasa ada sesuatu yang janggal. Apa ini hanya kebetulan saja.
"Cafe, dia seorang pelayan di sana," jawab Violet seketika membuat Barnes lega.
"Aku ke toilet sebentar," kata Barnes pergi ke toilet.
Tak lama kemudian ponsel pria itu berdering, Violet melirik layar ponsel Barnes. Ada panggilan dari Isabel. Violet menyeringai, ia lalu mengambil ponsel Barnes dan mengangkatnya.
"Halo sayang.." ucap Isabel.
"Halo," jawab Violet.
"Siapa kamu?" tanya Isabel penuh selidik saat mendengar suara seorang wanita yang mengangkat ponsel Barnes.
"Aku klien Tuan Barnes. Kami sedang membahas proyek baru. Tuan Barnes sedang ke toilet," kata Violet.
"Katakan padanya untuk menghubungiku setelah kembali," kata Isabel mematikan panggilannya.
Setengah jam kemudian, Barnes dan Violet pulang. Keduanya berjalan keluar dari restoran.
"Akh..." pekik Violet terjatuh. Tumit sepatunya patah.
"Violet.." Barnes dengan cepat membantu Violet yang terjatuh.
"Ssshh.." desis Violet saat Barnes menyentuh pergelangan kakinya.
"Maaf..." kata Barnes. Violet mengangguk, ia lalu melepas kedua sepatunya. Violet kesulitan saat berdiri karena pakaiannya. Dengan sigap Barnes membantunya.
"Kamu baik-baik saja?"
Violet mengangguk, "aku bisa berjalan sendiri," ujar Violet. Barnes lalu melepaskan tangannya dengan ragu.
Dengan hati-hati, Violet melangkahkan kakinya, sepertinya dia kesulitan untuk berjalan. Hampir saja ia terjatuh kalau tidak ada Barnes yang menahannya.
"Barnes.." kata Violet saat pria itu tiba-tiba mengangkat tubuhnya ala bridal style.