CORA'S TRANSMIGRATION

CORA'S TRANSMIGRATION
Bab 113: Beri Aku Waktu



Cora merasa terusik saat Jack menyentuh wajahnya. Cora melenguh dan tak lama kemudian ia membuka kedua matanya. Pemandangan yang sungguh indah saat melihat wajah Jack di depannya. Pria itu benar-benar tampan. Bahkan saat bangun tidur saja wajahnya tetap tampan. Demikian pula dengan Jack yang menatap Cora dengan penuh cinta.


Cora tersenyum, ia lalu memeluk tubuh kekar Jack.


"Jam berapa?" tanya Cora serak khas orang bangun tidur.


"Jam 6," kata Jack mengecup kening Cora.


"Apa kamu masih mengantuk?" tanya Jack mengusap lengan Cora dengan lembut.


"Tidak, hanya saja aku merasa malas turun dari tempat tidur," balas Cora.


"Kalau begitu kita di tempat tidur saja," kata Jack tersenyum menyeringai.


"Mau melakukan sesuatu," ujar Jack menatap Cora dengan senyum smirknya.


"Apa?" tanya Cora serius menatap Jack.


"Sesuatu yang membuat kita berkeringat," kata Jack me.remas dada Cora.


"Akh.. mesum," kata Cora memukul dada Jack lalu berbalik.


"Menyebalkan," gumam Cora menutup matanya. Tadi malam mereka sudah melakukannya beberapa kali hingga membuat badannya seperti remuk semua.


"Aku bercanda," kata Jack memeluk tubuh telanjang Cora dari belakang. Namun tangannya yang nakal tidak berhenti memainkan benda bulat milik Cora dengan lembut.


"Cora..." panggil Jack.


"Hmmm..."


"Aku benar-benar serius dengan hubungan kita. Aku ingin mengajakmu menikah. Aku ingin Membangun rumah tangga bersamamu," ujar Jack mengecup kepala Cora.


Cora sedang memikirkan kata-kata Jack. Rasanya sangat cepat sekali. Hubungan mereka masih 2 minggu dan Jack mengajaknya menikah. Cora belum mengenal Jack sepenuhnya. Tapi dari kata-kata pria itu, dia sangat serius mengajaknya ke jenjang pernikahan. Cora ragu dengan dirinya yang belum siap. Ia takut tidak bisa menjadi ibu dan istri yang baik untuk Jack dan anak-anaknya


"Aku tidak akan memaksamu kalau belum siap," ujar Jack.


"Beri aku waktu satu minggu ini untuk memutuskannya Jack," kata Cora.


"Baiklah, aku tidak sabar menunggunya. Ku harap itu berita baik sayang," ucap Jack mengecup bibir Cora. Keduanya lalu berpelukan.


"Apa kita tidak menjemput anak-anak?" tanya Cora mendongak menatap wajah Jack.


"Siang sayang. Aku sudah mengirim pesan pada Bianca," ujar Jack. Cora mengangguk.


"Jack.. apa aku bisa meminta sesuatu?" tanya Cora.


"Tentu saja. Kamu ingin apa?"


"Aku punya adik perempuan. Dia sudah meninggal karena mengalami kecelakaan beberapa bulan yang lalu. Polisi bilang adikku yang salah karena menyebrang dalam keadaan mabuk setelah pulang dari pesta ulang tahun temannya. Tapi aku tidak percaya. Aku ingin membuka kembali kasusnya," kata Cora.


"Tapi aku tidak punya uang yang banyak untuk menyewa pengacara untuk menyelesaikan kasusnya. Aku yakin pelakunya sudah bekerjasama dengan polisi untuk melindunginya," ujar Cora.


"Sayang, aku turut sedih mendengarnya. Maaf karena aku tidak tahu soal adikmu yang meninggal," ujar Jack menatap Cora bersalah. Ia hanya tahu jika wanitanya itu tidak memiliki orang tua lagi.


"Aku akan membantumu. Kita akan menyelesaikan kasusnya. Aku punya seorang teman pengacara hebat. Kamu tenang saja. Serahkan semuanya padaku," tukas Jack memeluk Cora.


"Terima kasih Jack. Kamu sudah baik padaku," kata Cora. Cora sudah berjanji pada pemilik tubuh yang sekarang ia tempati untuk menyelesaikan kasus kecelakaan yang dialami adiknya.


"Apa pun untukmu sayang," balas Jack.