
Barnes mengantar Violet pulang ke hotel tempatnya menginap. Sejak tadi Violet hanya diam saja. Wanita itu terlihat murung duduk di kursi belakang.
"Violet.. apa kamu baik-baik saja?" tanya Barnes melirik kaca spion tengah mobil. Violet lalu mengangguk.
"Bagaimana jika kamu ikut dengan kami ke pantai. Kami berencana ke pantai hari ini," ujar Barnes membuat Isabel membulatkan matanya lalu menatap Barnes dengan kesal.
"Sayang... tapi kita sudah berjanji pergi berdua," ucap Isabel.
"Um.. tidak perlu Barnes. Kalian pergi saja. Aku tidak ingin menganggu waktu kalian," kata Violet menolak ajakan Barnes walau ia berharap pria itu menawarkannya kembali.
"Sayang.. dia sedang sedih karena kematian temannya. Apa kamu tidak kasihan dengannya. Siapa tahu dengan membawanya ke pantai bisa mengembalikan suasana hatinya," kata Barnes mengusap tangan Isabel.
"Baiklah.." balas Isabel ketus. Baru pertama kali bertemu dengan Violet rasanya Isabel sudah muak. Ia merasa wanita itu mencoba menarik perhatian kekasihnya.
Ketiganya lalu sampai di pantai. Pengunjung hari ini tidak ramai. Violet bisa menghitung jumlah pengunjung yang datang hari ini. Violet melangkahkan kakinya menuju toilet untuk mengganti pakaiannya. Wanita itu memakai bikini berwarna merah cerah dengan bra terikat menggulung di leher. Violet mengambil kain pantai dari dalam tasnya dan melilitkannya di pinggang rampingnya.
"Sempurna.." gumam Violet menatap penampilannya di kaca. Wanita itu tak lupa melepaskan rambut panjangnya, membiarkannya tergerai.
Violet keluar dari dalam toilet mencari keberadaan Barnes dan Isabel. Sepasang kekasih itu sedang bercumbu mesra di kursi pantai.
"Menyebalkan..." gumam Violet berjalan mendekati mereka.
Tatapan Barnes tertuju pada Violet yang sedang berjalan ke arah mereka. Sungguh penampilan wanita itu membuat gairahnya seketika hilang pada Isabel. Barnes lalu mengakhiri ciuman mereka.
"Isabel, thanks karena sudah meminjamkan ku pakaianmu," timpal Violet membuat Isabel menoleh ke arah Violet, menatap sejenak penampilan wanita itu.
"Ya, kamu bawa saja pulang. Aku tidak suka memakai kembali barang yang sudah ku pinjam kan pada orang lain. Atau kamu bisa membuangnya," jawab Isabel membuat Violet terpaku ditempatnya. Kata-kata wanita itu membuat Violet merasa tersindir.
"Kalau begitu aku ke sana dulu," kata Violet pergi.
"Sial, ia pikir aku juga mau meminjam pakaiannya. Kalau bukan karena terpaksa. Aku juga tidak ingin ikut dengan kalian ke sini," gumam Violet menggerutu menendang pasir karena kesal.
"Untung saja pemandangan di sini indah. Setidaknya bisa mengobati rasa kesal ku pada wanita itu," batin Violet berjalan menyusuri pantai.
"Sayang... aku ingin membeli tas baru. Apa kamu ingin membelikannya untukku," ujar Isabel duduk dipangkuan Barnes menunjukkan ponselnya.
"Terserah kamu saja," kata Barnes menatap Isabel sejenak. Pandangannya kembali tertuju pada Violet. Sejak tadi pandangannya hanya tertuju pada Violet.
"Hmmm..." gumam Barnes.
"Sial..." ucapnya pelan saat melihat seorang pria sedang mendekati Violet.
"Sayang... ada apa," kata Isabel menatap Barnes.
"Tidak.. tidak ada. Aku hanya lupa menghubungi klien ku," jawab Barnes berbohong.
"Kamu pilih tasnya saja. Aku ingin membeli minuman sebentar," kata Barnes. Violet bangkit dari pangkuan Barnes.
"Baiklah.. apa aku bisa membeli dua tas?" tanya Isabel. Barnes lalu mengangguk membuat Isabel bersorak dalam hatinya. Dia akan menunjukkan tas barunya pada rekan kerjanya nanti. Mereka pasti akan iri melihat tas barunya.
Barnes berjalan menghampiri Violet dengan tangan membawa dua botol kaleng minuman dingin.
"Kamu sedang apa," timpal Barnes melingkarkan tangannya di pinggang Violet. Refleks membuat Violet terkejut, melirik tangan Barnes yang melingkar ditangannya.
Barnes menatap tajam pria di depannya seolah mengatakan jika Violet adalah miliknya.
"Ah aku pergi dulu. Semoga kita bertemu lagi Nona cantik," ucap pria itu pergi melambaikan tangannya.
Violet melirik tangan Barnes di pinggangnya. Sadar akan lirikan Violet, Barnes dengan cepat melepaskan tangannya.
"Aku membelikan minuman dingin untukmu," kata Barnes menghilangkan rasa canggung di antara mereka.
"Thanks.." kata Violet mengambil minuman ditangan Barnes.
"Kenapa kamu ke sini, aku tidak ingin Isabel salah paham dengan kita. Aku rasa dia sedikit tidak menyukai kehadiranku," kata Violet membuka minuman kalengnya.
"Itu hanya perasaanmu saja," kata Barnes.
"Jangan pergi terlalu jauh," ujar Barnes melangkah pergi.
"Kenapa?" tanya Violet. Barnes menghentikan langkah kakinya.
"Tidak ada. Pokoknya kamu jangan pergi terlalu jauh," ujar Barnes pergi. Violet menyunggingkan senyumnya. Pria itu sedang perhatian padanya. Violet yakin jika Barnes sedang cemburu saat saat pria tadi menemuinya. Sepertinya Barnes sebentar lagi misinya akan segera berakhir dan ia aka bebas.