
Hari ini Cora menemani Bianca untuk melakukan pemotretan. Cora berjalan memasuki gedung agensi model milik Gustav membawa semua barang-barang Bianca.
Cora menyadari jika dirinya menjadi bahan perhatian orang-orang di sana. Cora yakin mereka sudah tau rumor itu dan Cora tidak akan peduli. Dia yakin mereka sedang menghujatnya sekarang.
"Cora.." panggil Gustav menghampiri Cora.
"Maaf Tuan Gustav, saya sedang sibuk," ujar Cora beranjak pergi.
"Tunggu dulu," kata Gustav menahan tangan Cora.
"Mengenai rumor itu a___"
"Maaf Tuan, saya tidak tertarik membahasnya," kata Cora memotong pembicaraan Gustav.
"Maaf Tuan Gustav, tolong lepaskan tangan saya. Saya tidak ingin mereka mencibir saya dibelakang," kata Cora melirik beberapa model yang menatap tidak suka padanya. Gustav melepaskan tangan Cora.
"Saya permisi dulu," pungkas Cora pergi meninggalkan Gustav.
"Kenapa kamu lama sekali," timpal Bianca dengan suara sedikit meninggi saat Cora masuk ke dalam ruang pemotretan.
"Mrs. Bianca," ujar Cora. Ia melirik jam ditangannya. Ia bahkan tidak terlambat. Masih ada waktu setengah jam lagi untuk pemotretan. Sepertinya atasannya itu masih kesal dengannya karena meninggalkannya saat di acara amal itu.
"Apa kamu wanita yang dirumorkan sedang dekat dengan Mr. Gustav?" tanya seorang fotografer.
"Ya, itu dia. Wajahnya mirip sekali," timpal seorang pria yang sedang menata rambut Bianca.
"Maaf, tapi itu tidak benar. Saya tidak punya hubungan apapun dengan Mr. Gustav. Itu hanya ulah paparazi saja," ucap Cora menyanggah mereka.
"Sepertinya mereka ingin merusak reputasi Mr. Gustav. Bagaimana mungkin seorang Gustav menyukai wanita sepertimu," kata Bianca membuat Cora tersinggung. Kalau saja dia tidak butuh uang ia sudah mundur menjadi asisten wanita itu.
"Tidak usah merasa berbangga diri. Kamu bukan selera Mr. Gustav," ujar Bianca.
"Bianca benar," ujar fotografer itu.
Elizya menatap Cora sejenak seolah memberi tahu agar tidak memasukkannya kata-kata mereka ke dalam hati wanita itu.
Setelah pemotretan selesai, Cora harus menemani Bianca ke mall untuk membeli beberapa barang. Cora berjalan di belakang Bianca membawa tas dan barang-barang lainnya milik Bianca. Bianca juga membawa dua orang bodyguardnya.
"Berikan bedakku!"
Cora mengambil bedak mahal milik Bianca dari dalam tas dan memberikannya. Bianca lalu memoleskan bedak di wajahnya dan merapikan penampilannya. Ia harus tetap tampil sempurna meskipun hanya pergi ke mall.
Setibanya di pusat perbelanjaan, Bianca turun dari dalam mobil dengan kacamata hitam dimatanya. Beberapa orang datang menghampirinya untuk meminta foto atau tanda tangan padanya. Bianca tidak bisa meladeni semuanya.
"Tutup wajahmu dengan masker Cora!" perintah Bianca. Cora lalu mengangguk.
"Astaga.. mereka sangat merepotkan," gumam Bianca berjalan masuk ke dalam mall.
"Hand sanitizer," ujar Bianca. Cora dengan sigap memberikan benda yang wanita itu minta.
Bianca berjalan masuk ke dalam salah satu toko brand mahal. Memilih beberapa barang untuk dibelinya. Cora tetap setia mengikuti wanita itu dari belakang. Sesekali melirik barang-barang mewah itu, berharap memilikinya.
"Astaga ... wanita ini boros sekali," gumam Cora membawa barang belanjaan Bianca. Mereka baru saja memasuki satu toko dan Bianca sudah membeli 4 barang dari sana dengan harga yang fantastis. Mereka singgah di toko perhiasan. Lagi-lagi Cora hanya bisa melihatnya saja. Dulu ia punya beberapa perhiasan mahal meskipun tidak semahal perhiasan di depannya. Hanya saja, barang-barang mahalnya diambil oleh Isabel setelah dinyatakan meninggal.
"Cepat sedikit, kenapa kamu lamban sekali. Dasar tidak becus," tukas Bianca marah. Cora hanya diam saja.
"Dia kira ini ringan apa.." ujar Cora kesal menenteng barang belanjaan milik Bianca menuju toko lainnya.