
Hari ini cukup melelahkan. Cora menemani Bianca satu harian untuk sesi pemotretan. Untung saja satu minggu kedepan pekerjaannya kosong. Bianca akan liburan selama satu minggu bersama teman-temanya. Cora punya banyak waktu untuk istirahat.
"Cora.. bawa kembali semua barang-barang ke mobil. Aku akan pulang bersama Mark!" perintah Bianca.
"Baik Mrs. Bianca," ujar Cora.
"Pengasuh Gizela dan Elvis beberapa kali menghubungi anda," kata Cora lalu pergi membawa barang-barang Bianca ke dalam mobil.
"Cora, temui anak-anak sekarang. Mereka sudah di rumah. Katakan pada mereka kalau aku akan pulang lama. Kamu harus bisa membujuk mereka," ucap Bianca memerintah.
"Mrs. Bianca anda sebaiknya jangan terlalu sering berjanji pada mereka kalau tidak bisa menepatinya. Kasihan Elvis dan Gizela," kata Cora memberi saran pada Bianca.
"Apa kamu ingin dipecat? Tidak perlu mengurus masalah pribadi ku. Pergilah..." kata Bianca tidak terima Cora seolah menasehatinya.
"Maaf Mrs. Bianca jika saya terlalu lancang. Saya pamit dulu," kata Cora pergi.
"Sayang..." Mark datang menghampiri Bianca lalu mengecup bibirnya.
"Sayang, sepertinya kita harus ke rumahku dulu. Ada anak-anak di sana," kata Bianca, Mark lalu mengangguk.
*****
Cora terbangun karena ponselnya berdering. Dengan malas ia meraih ponselnya dari atas nakas.
"Halo Mrs. Bianca," jawab Cora serak.
"Cora, aku akan berangkat ke paris besok pagi. Aku tidak bisa menghadiri acara di sekolah Elvis dan Gizela. Mereka melakukan perlombaan untuk merayakan ulang tahun yayasan sekolah. Aku tidak bisa menghadirinya. Jack juga besok haris menghadiri rapat penting. Bisakah kamu menggantikan ku? Elvis marah pada ku karena tidak bisa hadir. Aku tidak bisa menunda kepergianku. Aku sudah mentransfer gajimu bulan ini," kata Bianca mematikan ponselnya tanpa mendengar balasan dari Cora.
"Tidurku terganggu hanya karena dia. Tidak bisakah dia mengabari ku tadi sore saja," tukas Cora melihat notif di ponselnya. Gajinya untuk bulan ini sudah di kirim, Bianca membayarnya dua kali lipat.
"Kalau begini, masih ada untungnya bangun," gumam Cora menaruh ponselnya di atas nakas dan tidur kembali.
Esok paginya Cora terjebak macet saat hendak pergi ke sekolah Elvis dan Gizela. Cora melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan angka 10. Dia sudah terlambat. Cora dan Gizela pasti sedih karena kedua orang tua mereka tidak hadir di sana.
"Oh ayolah.. kenapa sekarang tiba-tiba macet," gumam Cora meremas setir mobilnya. Lampu merah berganti menjadi hijau, Cora melanjutkan kembali perjalanannya.
Cora tiba di sekolah Elvis dan Gizela. Ia terlambat 30 menit. Dengan terburu-buru ia keluar dari mobilnya, berjalan menuju lapangan sekolah. Semua murid dan orang tua sudah ada di sana. Mereka terlihat bersorak mendukung anak-anak yang sedang bertanding.
Cora mencari-cari keberadaan Elvis dan Gizela. Kedua anak itu terlihat berdiri saling berpegangan tangan. Hatinya terasa sakit melihat kedua anak itu terlihat menjaga jarak dari yang lainnya.
"Hai sayang..." ujar Cora berdiri dibelakang Gizela dan Elvis dengan kedua tangan mengusap rambut kedua anak itu.
"Aunty Cora.." ucap kedua anak itu bersamaan. Gizela memeluk kaki Cora karena tingginya hanya sebatas pinggang Cora.