
Brenda berjalan menuju taman belakang rumah Jack. Ia hendak menemui Jack di sana. Kedua matanya terkejut saat melihat Jack sedang tidur di atas paha Cora.
"Jack.." panggil Brenda, sontak membuat Cora terkejut. Cora mendorong kepala Jack dari pangkuannya dan merapikan kembali pakaiannya.
"Ck.." decak Jack kesal merasa aktivitasnya terganggu.
"Brenda.." ujar Cora memutar tubuhnya.
"Jack, kenapa tidak mengangkat panggilanku?" tanya Brenda mendekati mereka.
"Aku sedang sibuk tiga hari ini. Ada pekerjaan di luar kota," ujar Jack.
"Aku hanya ingin mengabari mu. Hari ini ulang tahun ibuku. Dia mengundangmu untuk makan malam bersama kami. Aku juga sudah menghubungi Bibi Chloe dan Odelia," kata Brenda.
"Ku harap kamu datang bersama Elvis dan Gizela. Mommy merindukan mereka," lanjutnya lagi.
"Sampaikan ucapan selamatku pada ibumu. Mengenai kehadiranku, aku akan mengusahakannya," ujar Jack.
"Oh ayolah Jack.. tidak biasanya kamu mengatakan itu. Berjanjilah untuk datang nanti malam. Kami menunggumu," tukas Brenda. Ia melirik Cora sejenak lalu pamit pergi.
Brenda sepertinya mengabaikannya. Cora yakin itu karena ia dan Jack pacaran, mengingat wanita itu memiliki rasa pada Jack. Apa boleh buat, Jack sudah memilihnya. Lagi pula tidak baik jika memaksakan hati.
"Cup.." Cora tersentak.
"Kenapa kamu melamun?" tanya Jack. Cora menggelengkan kepalanya.
"Kalian akan pergi?" tanya Cora.
"Apa kamu ingin ikut?"
"Tidak, lagi pula Brenda hanya mengundang kalian," balas Cora.
"Kalau begitu aku dan anak-anak tidak akan pergi," kata Jack kembali merebahkan tubuhnya dengan kepala di atas paha Cora.
"Jack.. apa yang kamu katakan. Brenda sudah mengundangmu. Mereka pasti kecewa kalau kalian tidak datang nanti malam," tukas Cora.
"Terserah kamu saja," ucap Cora menyugarkan rambut kepala Jack.
"Lakukan seperti itu lagi," kata Jack saat Cora mengehentikan tangannya mengusap kepala Jack.
Cora tersenyum lalu mengusap kembali kepala Jack.
Dulu Jack ingin sekali seperti ini setiap kali ia pulang kerja. Melihat istrinya dan anak-anaknya. Lalu bermanja-manja dengan istrinya. Hal yang tidak bisa di dapatkannya saat bersama Bianca dulu. Setelah menikah dan kembali bekerja, Bianca mulai sibuk dengan dunianya dan melupakan mereka. Jack tidak melarang Bianca bekerja kembali. Hanya saja ia tidak ingin Bianca terlalu fokus dengan karirnya dan melupakan mereka. Toh dia juga bekerja untuk istri dan anak-anaknya.
"Dad... mum... ayo bermain sepeda," kata Elvis dan Gizela menaiki sepeda mereka.
"Wow.. kalian sepeda baru ya..." ujar Cora tersenyum.
"Daddy yang membelinya mum. Thanks dad," ucap Gizela turun dari sepedanya. Ia lalu naik ke atas sofa.
"Ayo mum, dad.." ajak Gizela.
"Mum saja ya, daddy kalian masih capek," kata Cora.
"Benarkah?" ujar Gizela menatap wajah Jack.
"Dad, jangan terlalu sering bekerja. Bukankah uang daddy sudah banyak? kalau daddy sakit bagaimana," kata Gizela mengusap wajah Jack.
"Iya princess daddy.." kata Jack mencubit gemas wajah putrinya.
"Aku akan memijat tangan daddy," ujar Gizela memijat tangan Jack.
"Putriku baik sekali. Kalau seperti ini rasa lelah daddy akan hilang dengan cepat," tukas Jack tersenyum bahagia.
"Kak, aku tidak ikut bermain sepeda. Aku ingin memijat daddy saja," kata Gizela pada Elvis.
"Baiklah.." kata Elvis mengayuh sepedanya mengelilingi halaman rumah mereka.