
"Hubungan kami sudah berakhir."
"Apa? dan kamu akan membesarkan bayimu sendiri?," kata Cora marah. Ia tidak ingin nasib Violet seperti ibunya dulu. Menjadi orang tua tunggal dan membesarkan anaknya sendirian tanpa dukungan dari suaminya. Ibunya harus bekerja siang dan malam untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Tidak ada keluarga yang mendukung mereka. Ibunya berjuang sendiri. Cora bahkan belum sempat memberi kebahagiaan pada ibunya.
"Aku yakin bisa membesarkannya sendiri Cora. Ini pilihanku, aku siap bertanggungjawab atas pilihanku sendiri," kata Violet. Ia belum siap mengatakan siapa Barnes pada Cora.
"Aku akan selalu mendukungmu," ujar Cora memeluk Violet.
"Thanks Cora," balas Violet memeluk Cora.
*******
Pagi harinya setelah Jack mengantar kedua anaknya sekolah, ia berkunjung ke unit Cora. Pria itu masuk begitu saja karena Cora tidak mengunci pintunya.
"Sayang..." panggil Jack seketika terdiam saat melihat Daren ada di unit Cora. Pria itu sedang menikmati sarapannya di meja makan.
"Jack..." gumam Cora keluar dari kamarnya.
"Kamu sudah sarapan?" tanya Cora. Jack menggeleng padahal ia sudah sarapan bersama kedua anaknya tadi.
"Sweetheart.." panggil Daren membuat Jack kesal dengan panggilan pria itu pada Cora.
"Tidak bisakah kamu memanggil namanya saja," timpal Jack menatap tajam Daren.
"Dia saja tidak keberatan. Memangnya kamu siapa?" tukas Daren dengan santainya.
"Hei.. apa kamu tidak ta___"
"Jack.." ucap Cora memicingkan matanya. Jack mendengus kesal.
"Aku lapar," kata Jack ketus berjalan mendekati meja makan.
"Jack, aku tidak yakin kamu bisa memakannya. Kau tau kan aku dan Daren pecinta makanan pedas," timpal Cora.
"Dasar lemah..." gumam Daren meledek Jack.
"Apa kamu mengejekku," kata Jack mulai emosi. Kedua kedua pria itu saling menatap seolah ingin mengajak berperang.
"Aku akan memasak sarapan untukmu," kata Cora berjalan mendekati lemari pendingin untuk mengambil bahan-bahan masakannya.
Cora dibuat pusing dengan Jack dan Daren yang sedang berdebat di meja makan. Entah apa yang mereka perdebatkan di sana. Keduanya terlihat seperti anak-anak.
"Jack... Daren, apa kalian tidak bisa diam? aku tidak bisa fokus memasak karena suara bising kalian berdua," ujar Cora dengan suara meninggi membuat kedua pria itu langsung diam.
Tak lama kemudian Cora membawa sarapan untuk Jack ke meja makan.
"Thanks baby," ujar Jack mengecup wajah Cora. Ia lalu menatap Daren dengan senyuman smirk diwajahnya seolah mengejek pria itu, jika ia adalah pemilik Cora.
"Jack..." gumam Cora menggigit giginya.
"Ada apa? itu hanya ucapan terima kasihku saja," tukas Jack mengangkat bahunya dengan santai.
"Umm.. Daren, apa kamu tidak ke kampus hari ini?" tanya Cora.
"Tidak, hari ini aku free. Aku berencana mengajakmu ke luar," kata Daren.
"Tidak bisa. Cora akan pergi bersama ku siang ini," timpal Jack.
"Aku tidak meminta pendapatmu," kata Daren.
"Dia calon istriku," ujar Jack sontak membuat Cora terkejut.
"Jack apa yang__"
"Ya sayang, aku juga mencintaimu," balas Jack tersenyum.
"Ya Tuhan, pria ini sudah gila," batin Cora.
"Aku hanya akan percaya jika Cora sendiri yang mengatakannya. Jangan terlalu jauh bermimpinya," ucap Daren.
"Sayang.. katakan padanya jika aku tidak berbohong," kata Jack menggenggam tangan Cora.
"Jack, diam lah. Habiskan sarapan mu," kata Cora menarik tangannya.
Ketiganya kembali melanjutkan sarapannya.
Seperti biasa, Daren akan membantu Cora membersihkan peralatan makan mereka. Sementara itu Jack dengan santainya duduk di sofa menonton TV. Bukannya ia tidak mau membantu Cora, hanya saja ia tidak ingin seperti Daren yang sedang mencari muka.
"Jack.. kamu tidak bekerja?" ucap Cora menghampiri Jack.
"Tidak, hari ini aku sedang ingin berdua denganmu," kata Jack.
"Cora, bagaimana? apa kamu ingin keluar dengan ku," kata Daren menghampiri mereka.
"Sepertinya aku tidak bisa Daren. Mungkin lain kali saja," kata Cora. Daren mengangguk. Melirik Jack yang tersenyum mengejeknya.
"Kalau begitu aku pulang dulu, terima kasih untuk sarapannya," kata Daren pamit. Cora mengangguk.