
Jack dan keluarga kecilnya sedang menikmati waktu bersama mereka di sore hari yang dingin. Mereka berada di ruang keluarga di depan perapian. Jack lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah sejak kehamilan istrinya. Cora bersandar di dada Jack dengan tangan memegang gelas berisi coklat hangat.
Elvis dan Gizela duduk santai di atas sofa bean bag, menikmati tayangan televisi di depan mereka. Tak lupa juga dengan cemilan di tangan mereka.
"Jack, apa kamu sudah tau berita tentang Mark hari ini?" tanya Cora mendongak menatap wajah suaminya. Jack menggeleng.
"Dia ditangkap polisi karena kasus pedofil," ujar Cora. Apa yang dicurigainya selama ini ternyata benar.
"Untung saja korbannya ada yang berani speak up. Katanya, korban yang melaporkannya itu adalah artis berusia 14 tahun. Mark beberapa kali melecehkannya dengan menyentuh bagian intimnya. Setelah itu, beberapa korba akhirnya berani berbicara. Kasihan sekali mereka. Anak-anak itu pasti trauma Jack," ucap Cora sedih.
"Kamu benar sayang. Pria itu harus diberi hukuman berat atas apa yang sudah dilakukannya," ujar Jack. Itu sebabnya sejak dulu, ia selalu mengajari Elvis dan Gizela tidak ada yang boleh melihat, bahkan menyentuh bagian tubuh intim mereka selain orang-orang yang dipercaya. Selain itu, Jack juga mengajarkan kedua anaknya untuk tidak takut menyampaikan sesuatu atau berteriak ketika ada orang yang berniat jahat atau menggodanya sebagai perlindungan diri. Baginya pendidikan **** usia dini sangat penting untuk menjauhkan anak-anaknya dari para predator.
"Apa selama ini Bianca tidak menyadarinya," tukas Cora.
"Entahlah, aku rasa dia tidak sadar. Kalau tidak ia tidak akan berhubungan lagi dengan pria seperti Mark," balas Jack.
"Mungkin sekarang Bianca menjadi incaran banyak media setelah Mark ditangkap," lanjut Jack. Cora mengangguk.
"Mum.. coklat hangat ku sudah habis," timpal Gizela mengangkat gelasnya.
"Kemari sayang, mum akan mengisinya lagi," ujar Cora. Gizela turun dari sofa bean bag membawa gelasnya.
Cora menuang coklat hangat ke dalam gelas milik Gizela.
"Mum.. kapan kita memasang pohon natal dan menghiasnya? kenapa lama sekali?" tanya Gizela tak sabar. sejak minggu lalu ia selalu melontarkan pertanyaan itu.
Cora tersenyum menatap putrinya, "Besok kita akan memasangnya sayang," balas Cora memberikan gelas ditangannya pada Gizela.
"Benarkah... yeayy.. aku tidak sabar lagi menunggu besok," kata Gizela senang.
"Dad.. " panggil Elvis melempar Jack dengan bola salju buatannya setelah membuat tembok pertahanannya.
Jack menyeringai " dasar nakal," gumam Jack lalu berlari mengejar putranya itu. Mereka sedang bermain salju di halaman rumah. Keduanya lalu berperang salju. Sementara itu Cora bersama putrinya sedang membuat boneka salju.
"Bugghhh" Elvis terjatuh.
"Mau lari kemana kamu bocah kecil," kata Jack membuat Elvis was-was. Sebelum ayahnya menyerangnya, ia harus menyerangnya lebih dulu. Dengan cepat Elvis mengambil salju dan melemparnya ke arah Jack.
"Aku tidak mau kalah dad," ucap Elvis dengan nafas ngos-ngosan bangkit kembali untuk menyelamatkan dirinya dari serangan ayahnya. Ia bersembunyi di balik tembok salju buatannya.
Mia datang membawa syal, topi dan sebuah wortel bersama semua pekerja di rumah Jack. Hari ini mereka akan melakukan foto bersama.
Cora meminta mereka untuk berkumpul dihalaman rumah.
"Nyonya ini topi dan syalnya," kata Mia.
"Terima kasih Mia," ucap Cora.
"Sayang, ayo kita pasang topi dan syalnya," ajak Cora.
Setelah boneka salju mereka siap, Cora meminta Mia untuk mengambil fotonya bersama Gizela di samping boneka salju buatan mereka.
"Jack... Elvis.." panggil Cora. Kedua pria itu menghentikan permainannya lalu menghampiri Cora.
"Ayo kemari, kita akan mengambil foto untuk kartu natal," kata Cora. Tiap tahun, Jack akan membagikan bingkisan natal pada karyawannya.
Jack berdiri disamping Cora dengan satu tangannya berada di perut Cora dan tangannya yang lain melingkar di pinggang Cora. Elvis dan Gizela berdiri di depan kedua orng tuanya. Mia lalu mengambil kamera dan memotretnya. Keluarga kecil itu terlihat bahagia. Kehadiran Cora dan bayi yang ada di dalam perutnya di dalam keluarga Jack membawa kebahagiaan yang selama ini ia impikan.