
Dua minggu sudah hubungan Violet dan Barnes. Pria itu sepertinya terlalu mencintai Violet. Ia bahkan berbohong pada Isabel jika dirinya sedang keluar kota untuk menemui kliennya. Dua hari ini, Barnes berada di LA untuk menemui Violet. Ia tidak tahan jika tidak melihat wanita itu secara langsung. Malam ini keduanya menghabiskan waktu untuk menonton konser musik dan kembali ke hotel tengah malam. Dua malam ini, Violet tidur di hotel bersama dengan Barnes.
"Baby.. " panggil Barnes yang baru saja keluar dari kamar mandi. Pria itu hanya memakai boxer saja. Ia terbiasa tidur tanpa pakaian.
"Isabel menghubungimu," kata Violet dengan wajah kecutnya.
"Baby... apa kamu marah?" tanya Barnes naik ke atas tempat tidur.
"Tidak. Kamu angkat panggilannya dulu. Aku mengantuk," kata Violet tidur dengan posisi membelakangi Barnes.
"Tidak, aku tidak akan mengangkatnya. Kekasihku sedang marah," kata Barnes menonaktifkan ponselnya. Ia lalu tidur disamping Violet dan memeluknya dari belakang.
"Aku rasa kita akhiri saja hubungan ini Barnes. Aku selalu dibayang-bayangi rasa bersalah karena merasa mengkhianati Isabel," kata Violet menangis.
Barnes memutar tubuh Violet. Wanita itu menyembunyikan wajahnya di dada Barnes.
"Sayang.. jangan menangis. Aku akan segera mengakhiri hubunganku dengan Isabel," kata Barnes mengecup kepala Violet.
"Tapi kapan? aku tidak mau menjalani hubungan kita dengan seperti ini," kata Violet.
"Kita akhiri saja hubungan ini," kata Violet membuat Barnes terkejut.
"Baby.. tolong jangan seperti ini. Kamu membuatku takut," kata Barnes menatap wajah Violet.
"Jangan menangis lagi," kata Barnes lembut mengusap air mata Violet.
Barnes mengambil ponselnya lalu menghubungi Isabel.
"Sayang, kenapa kamu tidak mengangkat panggilanku," kata Isabel.
"Kita putus," kata Barnes. Violet yang mendengarnya membulatkan kedua matanya. Ia tidak menyangka Barnes akan mengakhiri hubungannya dengan Isabel. Rencananya berhasil.
"Sayang... apa yang kamu katakan. Kamu bercanda kan?"
"Aku sedang tidak bercanda. Kita putus," kata Barnes mengakhiri panggilannya menatap Violet yang duduk disampingnya.
Violet menggelengkan kepalanya, "Cup... aku mencintaimu," kata Violet mengecup wajah Barnes.
"Baby... hanya wajah saja," kata Barnes mengerucutkan bibirnya.
"Cup.." Violet mencium bibir Barnes. Barnes menahan kepala Violet saat wanita itu ingin menarik bibirnya. Barnes tidak akan puas jika hanya kecupan singkat saja. Barnes mendorong tubuh Violet dan menindihnya. Pria itu lalu mencium bibir Violet. Awalnya hanya ciuman di bibir saja. Kini Barnes sudah bermain di bukit kembar Violet. Pria itu menyesapnya layaknya bayi yang kehausan.
"mmmhh...." de.sah Violet mengusap kepala Barnes. Violet sangat sulit menolak sentuhan dari pria itu. Bibir pria itu kembali meraup bibir Violet dengan tangan me.remas dada Violet, mengangkat tubuh wanita itu kepangkuannya. Menuntun miliknya hingga terbungkus hangat didalam milik Violet.
"Bergerak sayang.." bisik Barnes menuntun Violet.
"Astagaa.... kamu membuatku melayang Violet... ahh.." rancau Barnes mengubah posisi mereka. Barnes kini menindih tubuh wanita itu. Barnes merancau, menghentak kuat miliknya dan semakin mempercepat gerakannya.
"Barnes... ahh .." rancau Violet.
"Kamu menyukainya?" tanya Barnes menyeringai. Violet mengangguk. Ia tidak berbohong. Barnes sangat hebat dalam memuaskannya.
"Uuugghhh... ak... aku.. ingin sampai.." rancau Violet membuat Barnes semakin menghentak miliknya hingga keduanya mencapai puncak.
"Ahhh.." Barnes menjatuhkan tubuhnya.
"Kau tau, aku ingin mengurung mu di kamar satu harian," bisik Barnes.
"Ada satu hal yang ingin aku katakan padamu. Tapi aku belum siap," gumam Barnes mengecup leher Violet.
"Apa itu?" tanya Violet mengusap punggung Barnes.
"Aku akan mengatakannya kalau aku sudah siap," kata Barnes.
"Aku menginginkanmu lagi," ujar Barnes menatap Violet. Miliknya kembali mengeras. Barnes kembali menggempur Violet hingga membuatnya kelelahan dan tertidur.
Pagi harinya, Violet bangun dan melihat Barnes yang tidur dengan wajah pria itu menempel di dadanya.
"Baby.. biarkan seperti ini. Aku masih mengantuk," gumam Barnes saat merasakan Violet bergerak. Violet ingin menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Violet mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Isabel. Violet mengambil gambar Barnes dan mengirimnya pada Isabel.