
Cora pulang dengan wajah lesunya. Bianca memecatnya. Cora tidak tau apa kesalahannya hingga wanita itu memecatnya. Belum penuh empat bulan ia bekerja dengan wanita itu dan sudah di pecat.
Cora menjatuhkan tubuhnya di atas ranjangnya. Rasanya kepalanya pusing memikirkan pekerjaan apa yang akan dilakukannya setelah ini.
"Drrrtt...drrttt.." ponsel Cora berbunyi. Dengan malas Cora mengambil ponselnya dari dalam tasnya.
"Ada apa?" tanya Cora ketus mengangkat panggilan Jack.
"Aku di depan unit mu," kata Jack.
"Ck..." Cora berdecak. Ia lalu bangun dari tempat tidurnya berjalan mendekati pintu. Menekan password pintunya.
"Apa kamu sudah makan?" timpal Jack saat pintu terbuka. Pria itu membawa makanan di tangannya.
"Sudah. Aku sedang tidak enak badan dan ingin istirahat," kata Cora ingin sendiri. Jack menyentuh kening Cora dengan tangannya.
"Suhu tubuhmu sepertinya normal saja," kata Jack.
"Jangan membohongiku. Kamu tidak bisa berbohong," kata Jack masuk ke dalam unit Cora.
"Huh.. pria ini," batin Cora menghela nafasnya.
"Kemarilah, aku membeli makanan untuk kita," kata Jack membuka kotak makanan yang dibelinya. Pria itu membeli sekotak pizza untuk mereka. Cora berjalan menuju sofa dan mendaratkan bokongnya di samping Jack.
"Ada apa dengan wajahmu itu. Apa kamu sedang punya masalah?" tanya Jack melihat raut wajah masam Cora.
"Tidak ada," balas Cora.
"Kamu tidak pandai berbohong sayang," kata Jack menatap Cora.
"Jangan memanggilku seperti itu, aku bukan kekasihmu," kata Cora memutar bola matanya. Jack terlalu percaya diri.
"Sebentar lagi kamu juga akan menjadi kekasihku," kata Jack dengan entengnya.
"Lagi pula dua minggu yang lalu kamu tidak keberatan saat aku mengucapkan kata-kata itu saat kita sedang memadu kasih di sofa ini. Kamu bahkan merona saat aku mengucapkan kata itu," kata Jack. Cora terbelalak. Sial, pria itu membuatnya malu saja.
"Sepertinya pizzanya enak sekali," kata Cora mengalihkan pembicaraan. Ia lalu mengambil sepotong pizza dan memakannya, tidak berani menatap mata Jack.
"Diam lah Jack, aku sedang menikmati makananku," tukas Cora. Jack terkekeh melihat Cora.
"Jack.." pekik Cora kesal. Jack memakan pizza miliknya.
"Kau tau, rasa pizza di tanganmu lebih enak," balas Jack mengunyah makanan di mulutnya.
"Apa kamu tidak bekerja hari ini?" tanya Jack lagi-lagi memakan pizza di tangan Cora.
"Aku sudah dipecat," balas Cora.
"Baguslah... aku tidak suka kamu bekerja dengan Bianca," kata Jack.
"Hei.... kamu pikir cari kerja itu mudah," kata Cora ketus. Yang benar saja. Dia sedang sedih karena kehilangan pekerjaan dan Jack malah senang.
"Aku tidak bilang seperti itu. Aku hanya bilang kalau aku lebih suka kamu bekerja di tempat lain saja," balas Jack. Jack yakin, Cora pasti kesulitan bekerja dengan wanita itu. Bianca terlalu banyak permintaan. Lagi pula saat bersama Bianca, Cora tidak bebas mengekspresikan dirinya dengan kedua anaknya mengingat Bianca adalah atasan Cora.
"Aku akan membuka butik untuk mu," kata Jack sontak membuat Cora terkejut.
"Apa kamu sedang menyogok ku agar aku menerimamu?" tukas Cora. Jack menyentil kening Cora. Tidak sedikitpun niat seperti itu terlintas dipikirannya. Ia memang ingin membantu Cora.
"Pikiranmu terlalu jauh," kata Jack.
"Bisa saja bukan? bukankah pria selalu seperti itu," balas Cora mengerucutkan bibirnya.
"Jangan memajukan bibirmu seperti itu," kata Jack tidak tahan dan mengecupnya. Cora lalu memukul lengan pria itu karena bertindak sesuka hatinya.
"Ingin keluar dengan ku. Setidaknya untuk menghilangkan bad mood mu," ucap Jack.
"Aku ingin tidur saja. Pulanglah.." kata Cora.
"Baiklah kita tidur berdua," ucap Jack membuat Cora ingin sekali memukul kepala pria itu. Jack si keras kepala.
"Kita keluar saja," kata Cora berdiri menarik tangan Jack.