
Cora sedang menghapus riasannya di kaca wastafel kamar mandinya setelah dari unit Violet.
"Astaga.. kenapa aku tidak menanyakan foto di atas meja tadi pada Violet," gumam Cora penasaran. Cora melihat pantulan tubuh Jack yang berjalan menghampirinya. Pria itu memeluk tubuh Cora dari belakang dan mengecup leher Cora.
"Jack lepaskan, aku sedang membersihkan wajahku," ujar Cora membuang kapas ditangannya ke tempat sampah.
"Aroma tubuhmu sangat memabukkan," bisik Jack, kedua tangannya mere.mas lembut gunung kembar Cora.
"Apa kamu tidak pulang? Elvis dan Gizela pasti mencarimu," tanya Cora menuang micellar water ke atas kapas.
"Mereka sedang di rumah Bianca," ujar Jack membuat Cora menghentikan gerakan tangannya yang sedang menghapus makeup di wajahnya.
"Kenapa kamu tidak bilang mereka sedang ke sana? apa Mark juga ada di sana?" tanya Cora terlihat khawatir.
"Ada apa? memangnya kenapa jika ada Mark di sana?" tanya Jack menyadari perubahan mimik wajah Cora.
"Aku tidak suka dengan pria itu. Dia terlihat aneh jika sedang bersama Gizela. Dia terlihat seperti pedofil," kata Cora.
"Apa kamu tau saat aku masih menjadi asisten Bianca. Aku risih tiap kali ia mencium wajah Gizela. Aku juga jijik dengan tatapan matanya. Untung saja Bianca membawaku jika mereka ingin pergi bersama anak-anak. Aku bisa memantaunya," kata Cora.
"Sial, jika itu benar maka aku tidak akan membiarkannya," kata Mark mengepalkan tangannya.
"Terima kasih karena sudah peka dengan anak kita," kata Jack mengecup puncak kepala Cora dengan lembut. Ia semakin yakin jika ia tidak salah pilih dengan Cora.
"Aku akan menghubungi Bianca dulu," kata Jack meninggalkan Cora.
Cora keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah berganti. Wanita itu memakai gaun tidir bermotif floral dengan warna kuning.
"Kemana perginya pria itu," gumam Cora tidak melihat Jack di kamarnya. Cora keluar dan melihat ruang tamunya kosong.
"Jack kamu dari mana?" tanya Cora.
"Aku baru saja dari bawah bertemu seseorang," kata Jack mengunci pintu Cora.
"Sayang, butikmu sudah siap. Kamu bisa bekerja mulai besok kalau kamu mau," kata Jack memberikan kunci yang baru saja ia terima dari bawahannya.
"Jack ...." Cora membulatkan matanya. Ia tidak menyangka kalau pria itu serius dengan perkataannya.
"Jack.. a... aku tidak bisa menerimanya. Aku akan mencari pekerjaan lain saja. Ini terlalu besar untukku. Kita masih pacaran," kata Cora.
"Kalau begitu kita menikah saja," kata Jack meraih tangan Cora dan memberikan kunci ditangannya pada Cora.
"Jack.. i..ini.. ter___"
"Sayang.. ayolah. Kalau begitu aku beri dua pilihan. Aku membiayai semua kebutuhanmu atau kamu terima kunci ini," tukas Jack. Cora terbelalak. Yang benar saja, Jack membiayai semua kebutuhannya. Cora tidak bisa. Ia tidak terbiasa dibiayai oleh siapapun. Mungkin karena ia sudah terbiasa mandiri.
"Kalau tidak keduanya bagaimana? apa aku bisa meminta permintaan lain?" tanya Cora.
"Aku hanya memberi dua pilihan. Kamu pilih dari kedua pilihan itu. Bukan pilihan yang lain," kata Jack tegas.
"Yang kedua saja," kata Cora tidak bisa mengelak. Ia lebih memilih butik pemberian Jack. Setidaknya ia bisa bekerja. Pendapatannya akan ia berikan sebagian pada Jack. Dengan begitu ia tidak terlalu terbebani dengan pemberian Jack.
"Kalau begitu ayo kita tidur, aku sudah mengantuk," kata Jack mengangkat tubuh Cora dan membawanya ke kamar.
"Akh.. Jack, apa ini. Kamu bilang sudah mengantuk," pekik Cora saat Jack mulai menjalankan aksinya.
"Sebentar saja sayang. Nanti kamu juga akan suka," ucap Jack melepaskan kemejanya.