
Cora terlihat buru-buru keluar dari unitnya. Ia tidak ingin terlambat ke rumah Bianca. Kalau ia terlambat, Bianca pasti akan memarahinya. Waktunya hanya tinggal 15 menit lagi.
"Cora.. kamu mau kemana?" tanya Violet yang juga keluar dari unitnya melihat Cora terlihat rapi dengan stelan blazer berwarna lilac.
"Malam ini Bianca menghadiri acara amal," jawab Cora.
"Kamu mau kemana dengan penampilan memukai seperti ini?" tanya Cora menatap penampilan Violet dengan gaun satin berwarna hitam yang melekat ditubuh Violet.
"Barnes mengajakku keluar. Sebenarnya aku sedikit malas. Hanya saja waktunya di sini dua hari saja. Kalau aku menolaknya misi kita akan semakin lama selesai," kata Violet dengan malas.
"Maaf aku membuatmu ikut andil dengan misi ini," kata Cora merasa tidak enak hati dengan Violet.
"Hei.. tidak apa-apa. Aku sudah berjanji membantumu," kata Violet meyakinkan Cora agar Cora tidak merasa bersalah padanya. Cora mengangguk, keduanya lalu berjalan menuju lift.
"Cora, aku duluan. Barnes sudah menunggu di depan," kata Violet setelah mereka tiba di lobby. Cora mengangguk. Keduanya lalu berpisah.
Di depan gerbang masuk apartemen sebuah mobil sedan hitam berhenti di sana dengan seorang pria bersandar di badan mobil dengan tangan yang sedang memainkan ponselnya.
"Hai.." timpal Violet membuat pria yang sedang memainkan ponsel didepannya mengalihkan perhatiannya.
"Ha..hai.." balas Barnes terbata melihat penampilan Violet. Wanita di depannya terlihat dua kali lebih cantik dari biasanya. Dengan dress hitam bodycon yang dipakai Violet membuat lekuk tubuhnya terbentuk.
"Ada apa?" tanya Violet melambaikan tangannya di depan wajah Barnes yang sedang melamun. Violet tau jika pria itu sedang takjub melihat penampilannya. Barnes lalu tersadar dari lamunannya.
"Cantik sekali," gumam Barnes menatap Violet.
"Barnes... apa yang barusan kamu katakan?" tanya Violet meskipun ia mendengarnya.
"Thanks," kata Violet masuk ke dalam mobilnya. Barnes berjalan mengintari mobilnya kemudian duduk di kursi pengemudi.
"Apa kekasihmu tidak marah kita keluar?" tanya Violet.
"Tidak," kata Barnes menginjak pedal gasnya, mobil kemudian berjalan.
"Aku tidak ingin dia salah paham nantinya," ujar Violet menunjukkan ekspresi bersalahnya.
"Dia tidak akan marah hanya karena aku keluar dengan seorang wanita. Dia sudah terbiasa karena aku sering mendapatkan klien wanita dan kami sering bertemu. Beberapa kali dia selalu ikut menemaniku," balas Barnes.
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu dengan mu. Aku membawa kekasih seseorang makan malam di luar," kata Barnes melirik Violet.
"Aku belum punya kekasih. Kamu tenang saja. Tidak akan ada yang marah," balas Violet terkekeh.
"Sungguh? rasanya sulit dipercaya. Wanita secantik kamu tidak punya kekasih," kata Barnes tidak yakin.
"Kamu terlalu berlebihan memujiku. Aku tidak secantik yang kamu katakan," balas Violet merendah.
"Bagaimana dengan mantanmu?"
"Aku tidak punya mantan," ujar Violet berbohong. Soal mantan, jangan ditanya. Violet punya banyak mantan sejak jaman dimana dia SMA. Koleksi mantan Violet sangat banyak karena hubungannya tidak pernah berjalan lama. Paling lama hanya satu tahun saja kemudian berakhir.
"Kamu serius?" tanya Barnes. Violet mengangguk. Lagi-lagi Barnes heran melihat wanita di sampingnya. Di usianya yang sekarang Violet belum pernah pacaran sama sekali. Baginya Violet wanita yang unik.