CORA'S TRANSMIGRATION

CORA'S TRANSMIGRATION
Bab 42: Apa Pria itu Kekasihnya?



Jack yang menyadari perbuatannya yang membuat Cora takut hingga wanita itu hampir menangis merasa bersalah. Ia hanya bermain-main saja, tentu saja dia tidak akan melakukan hal yang lebih pada wanita itu. Sial, seharusnya dia membangun image yang baik di depan Cora. Kalau begini, wanita itu akan takut padanya dan menghindarinya.


Jack membawa wanita itu ke dalam pelukannya.


"Maafkan aku Cora," kata Jack mengusap kepala Cora. Merasa punya kesempatan, Cora melepaskan diri dari Jack. Cora turun dari mobil itu, membanting pintu mobil Jack dengan kuat melampiaskan rasa marahnya.


"Jack.. apa kamu tidak bisa mengendalikan diri di depannya. Dia pasti marah sekarang," ujar Jack mer.emas kuat rambutnya dengan frustasi.


Saat Cora turun dari mobil Jack, ia bertemu dengan Daren.


"Aku boleh minta tolong nggak? Tolong ambilkan hati aku yang jatuh karena kamu," ujar Daren merangkul Cora.


"Tunggu dulu, siapa pria itu.." gumam Jack menatap seorang pria yang merangkul Cora.


"Apa pria itu kekasihnya? sial. Kamu brengsek Jack. Kamu menggoda wanita yang sudah punya kekasih," gumamnya mengutuk dirinya sendiri. Jack menginjak pedal gasnya lalu pergi.


"Apaan sih.. gombal terus," ujar Cora menjauhkan tangan Daren dari lengannya.


"Kamu darimana?" tanya Cora. Keduanya berjalan masuk menuju lobby.


"Dari Dokter mata," balas Daren.


"Apa yang terjadi dengan matamu?"


"Tadi dokternya bilang ada kamu di mata aku," ujar Daren dengan kalimat gombalannya.


"Daren.. aku serius tau," ujar Cora tertawa. Daren membuat moodnya membaik setelah bertemu dengan Jack. Cora marah dan kesal karena pria itu terlalu lancang padanya. Mereka tidak punya hubungan spesial hingga pria itu seenak hatinya menciumnya.


"Aku selalu serius Cora," balas Daren mengedipkan satu matanya.


"Kamu itu perayu ulung Daren, aku tidak mudah percaya denganmu," ujar Cora berjalan mendahului Daren.


"Diseriusin malah dikira main-main. Dasar wanita," gumam Daren mengejar langkah kaki Cora.


"Bisakah aku menikmati masakanmu lagi besok pagi?" tanya Daren setelah keduanya berada di dalam lift.


"Kamu tenang saja, aku akan membayarnya. Kamu hanya tinggal bilang saja. Apakah ingin dibayar dengan uang, makanan, gombalan atau bahkan cinta. Tapi aku sarankan kamu pilih yang cinta saja," ujar Daren menyunggingkan senyumannya.


"Aku hanya bercanda," kata Cora.


"Dibayar juga tidak apa-apa. Aku tidak akan keberatan," balas Daren menyandarkan punggungnya pada dinding lift.


"Kalau begitu, besok traktir aku untuk belanja kebutuhan dapur saja. Bagaimana?"


"Of course, dengan senang hati Nona manis," kata Daren.


"Ting," pintu lift terbuka. Mereka tiba dilantai 5 apartemen.


"Daren.. aku pergi duluan. Bye.." ujar Cora keluar dari dalam lift.


********


"Maaf, aku terlambat," timpal Barnes baru saja tiba di restoran tempatnya janjian bersama Violet.


"Tidak apa-apa. Aku juga baru datang. Silahkan duduk Barnes," ujar Violet berbohong. Sebenarnya ia sudah tiba di restoran sejak 30 menit yang lalu. Ia bahkan sudah menghabiskan minumannya. Kalau saja tidak ada Cora temannya bergosip ria tetang Edith dan Brandon, dia sudah akan pulang. Violet tidak ingin menghabiskan waktunya menunggu orang tidak menepati waktu.


Setelah Violet dengan sengaja menabrak Barnes, tak menunggu waktu yang lama Barnes mengiriminya pesan dari media sosial. Sepertinya Barnes mencari akunnya. Kebetulan Violet memasang foto profil di akun media sosialnya membuat Barnes dengan mudah mengenalinya.


"Klienku mendadak ingin bertemu denganku," ujar Barnes menatap Violet.


"Ah aku hampir lupa, Barnes.." ujar Barnes mengulurkan tangannya.


"Violet," Violet membalas uluran tangan Barnes.


"Silahkan duduk Barnes," ujar Violet. Violet memanggil pelayan dan memesan makanan untuk mereka.


"Terimakasih karena sudah menyimpan saputangan ku. Benda itu sangat berharga bagiku. Saputangan itu peninggalan nenekku," ujar Violet memasang wajah sedihnya.


"My pleasure," balas Barnes tersenyum.