
Cora berjalan di kamar Gizela dengan tangan mengusap punggung Gizela naik turun. Cora juga membuka sepatu Gizela dan menghapus make up di wajah anak itu dengan telaten. Jack yang melihatnya membuat hatinya menghangat. Cora tampak tulus melakukannya.
"Kamu sudah cocok menjadi ibu, apa kamu tidak berniat menjadi ibu mereka?" timpal Jack membuat Cora terkejut.
"Maksudku kenapa kamu tidak menikah saja, kamu sudah cocok menjadi ibu dan istri," kata Jack dengan santai merebahkan tubuhnya di atas sofa.
"Menikah tidak semudah yang kau pikirkan. Aku tidak ingin pernikahanku gagal," balas Cora menatap Jack. Entah mengapa Jack merasa tersindir dengan kata-kata wanita itu.
"Maaf, aku tidak bermaksud menyindir mu," ucap Cora merasa bersalah saat melihat perubahan mimik wajah pria itu. Sungguh, ia tidak ingin menyindir pria itu.
"It's okay.." ujar Jack bangkit dari sofa lalu pergi dari sana.
"Apa dia marah.." batin Cora menatap kepergian pria itu.
"Ah sudahlah, lupakan saja," gumam Cora, lagi pula ia sudah minta maaf dan tidak bermaksud menyinggung Jack.
Cora yang merasa Gizela sudah kembali tertidur, membaringkan tubuh anak itu di atas tempat tidur. Gizela menggeliat dan memegang tangan Cora seolah tidak ingin berpisah darinya. Cora naik ke atas tempat tidur. Merebahkan tubuhnya di samping anak itu.
Cora menyugarkan rambut Gizela, menatap lekat wajah Gizela. Cora berencana pergi setelah anak itu tidur dengan pulas.
"Apa yang terjadi denganku. Kenapa aku sangat menyayangi anak ini," batin Cora mengusap lembut wajah Gizela lalu mengecup wajah anak itu.
Gizela menggeliat, merapatkan tubuhnya pada Cora dan memeluknya.
Cora tersenyum gemas melihat Gizela. Cora menatap wajah anak itu hingga tak sadar ia tertidur di kamar Gizela.
"Ceklek.." pintu kamar Gizela terbuka. Jack berdiri di ambang pintu menatap Cora dan Gizela yang sudah tidur. Kakinya melangkah mendekati tempat tidur putrinya. Jack menyelimuti tubuh Cora hingga sebatas dadanya. Jack menatap wajah Cora dnegan senyuman terukir di wajahnya. Dengan lembut, Jack mengusap wajah Cora. Pria itu mendekatkan wajahnya ke wajah Cora.
"Bisa-bisanya aku menyukai wanita yang sudah punya kekasih," batin Jack menggeleng-gelengkan kepalanya. Jack hanya tertarik dengan Cora meskipun ada banyak wanita diluar sana.
Pagi harinya, Brenda berkunjung ke rumah Jack. Wanita itu ingin mengajak Jack menemaninya ke pusat perbelanjaan.
"Selamat pagi Nona Brenda," sapa Mia saat berpapasan dengan Brenda.
"Selamat pagi Mia," balas Brenda tersenyum.
"Apa Nona ingin menemui Tuan dan Nona muda?" tanya Mia. Brenda mengerutkan alisnya. Apa kedua anak itu sudah kembali? bukannya mereka ke rumah Bianca?
"Bukankah semalam mereka ke rumah Bianca?"
"Tuan Jack menjemput mereka tadi malam Nona," jawab Mia.
"Kalau begitu aku ke kamar Gizela dulu," pungkas Brenda melangkahkan kakinya menuju kamar Gizela di lantai 2.
"Gizela.." panggil Brenda membuka pintu kamar Gizela membuat ketiga manusia yang sedang tidur itu terbangun.
"Jack.. Cora.." gumam Brenda.
Cora yang masih setengah sadar sepertinya enggan melepaskan pelukannya dari Jack.
"Aunty brenda.." gumam Gizela bangkit lalu mengucek kedua matanya.
"Oh my goodness.." pekik Cora melepaskan pelukannya dari Jack. Bagaimana bisa pria itu tidur bersama mereka, dan sialnya lagi ia memeluk Jack. Cora bangkit lalu turun dari tempat tidur.
"Sepertinya aku ketiduran tadi malam. I.. ini tidak seperti yang kamu pikirkan," kata Cora. Wajahnya terasa panas karena merasa malu. Cora memakai kembali sepatunya.
"A.. aku harus segera pergi," ucap Cora mengambil tasnya lalu pergi dengan langkah yang cepat.