
Cora sedang menikmati ritual mandinya sambil bersenandung di bawah guyuran air shower. Badannya ikut bergoyang mengikuti alunan musik yang diputar dari ponselnya. Sesekali tertawa geli sendiri dengan tingkah anehnya.
"Loh..loh.. musiknya kenapa mati," ucap Cora menoleh ke arah ponselnya. Cora berjalan mengambil ponselnya yang tak jauh dari wastafel.
"Ah.. aku selalu memuja tubuh ini," gumam Cora tersenyum menatap pantulannya dari kaca wastafel. Ia lalu meraih ponselnya.
"Violet, ada apa dia memanggilku," gumam Cora. Ia lalu menghubungi Violet kembali.
"Cora... ini berita baru," ucap Violet tak sabar ingin mengatakannya.
"Berita apa?"
"Ayo cepatlah kemari. Edith dan Brandon ada di sini. Mereka sedang makan malam bersama. Aku sudah mengambil beberapa foto mesra mereka," ujar Violet.
"Wait... Wait.. aku tidak ingin ketinggalan momen ini. Lima belas menit lagi aku akan sampai di sana," tukas Cora menutup panggilannya. Dengan cepat Cora menyelesaikan ritual mandinya.
Setelah memakai baju dan memoleskan lipstik di bibirnya, Cora mengambil kunci mobilnya dan berjalan menuju pintu.
Cora tiba di alamat yang Violet kirim padanya. Saat hendak turun dari mobilnya, Cora melihat Brandon dan Edith masuk ke dalam mobil. Sepertinya mereka akan pergi.
"Halo.." jawab Cora mengangkat panggilan dari Violet.
"Target sudah keluar."
"Ya. Aku sudah melihat mereka. Aku akan mengikuti mereka agen 004," ujar Cora layaknya sedang memerankan adegan polisi yang sedang mengejar buronan.
"Baiklah, kumpulkan bukti yang banyak agen 003," balas Violet terkekeh.
"Aku matikan panggilannya dulu, mereka sudah pergi," ujar Cora mematikan ponselnya. Ia lalu mengikuti Brandon dan Edith.
Tak lama kemudian, mobil Brandon berhenti di depan sebuah hotel. Cora turun dari mobilnya, diam-diam mengikuti kedua orang itu.
"Sial.. mereka menaiki lift lagi," gumam Cora. Ia tidak mungkin satu lift dengan mereka.
"Tidak bisa, kali ini aku tidak bisa kehilangan jejak mereka," batin Cora. Ia berjalan menuju lift yang lain.
Tak lama kemudian Cora tiba di lantai 5. Kosong. tidak ada mereka di sana. Cora berjalan menaiki tangga, menuju lantai 6.
"Sayang... kamu selalu membuatku tidak tahan.." ucap Brandon mengecup leher Edith.
"I..itu pasti mereka," gumam Cora berjalan menaiki tangga dengan cepat.
"Ck..Apa mereka tidak bisa menahannya," decak Cora bersembunyi di balik tembok.
Cora tak tinggal diam, ia lalu mengambil ponselnya dan merekam aksi kedua orang itu.
"Ouuh... Brandon.." rancau Edith saat tangan pria itu mulai bergerilya ditubuhnya. Brandon lalu mencium bibir Edith. Wanita itu dengan senang hati membalasnya. Edith mengalungkan tangannya di leher brandon. Tangan Edith bergerak mengambil key card dari dalam tasnya lalu membuka pintunya.
"Brukk.." Brandon mendorong tubuh Edith ke dinding.
"Sabar sayang.." ujar Edith menatap mata hitam pekat yang berkabut gairah Brandon.
Cora melihat sekitarnya, untung saja keadaan sepi. Dengan gerakan pelan Cora menekan gagang pintu. Cora beruntung, pintunya tidak dikunci.
"Wow.. " gumam Cora melihat kedua orang itu sudah telanjang bulat. Cora merekam kegiatan panas didepannya. Sesekali Cora mengusap lehernya karena merinding melihat adegan di depannya.
"Ouuuhh Brandon lebih keras lagi."
"Milikmu selalu membuatku puas babyhhhh," rancau Brandon menghentak kuat pinggangnya.
"Ssshhh... ini nikmat sekali Brandon.." rancau Edith.
Cora meneguk lidahnya mendengar suara Edith, "apa memang senikmat itu," gumam Cora.
"Ekhemmm.." seorang pria berdiri dibelakang Cora.
Cora membulatkan kedua matanya saat mendengar seorang pria berdehem dibelakangnya. Cora menggigit bibirnya, apa sekarang dia sedang tertangkap basah. Dengan gerakan yang pelan Cora memutar kepalanya. Kedua netranya membesar, melihat pria yang sedang berdiri dibelakangnya.