
"Apa yang kamu lakukan di depan ka__" refleks Cora menutup mulut pria itu dengan satu tangannya. Cora mendorong tubuh pria itu hingga mereka menjauh dari kamar Brandon dan Edith.
"Cup," pria itu mengecup telapak tangan Cora, membuat Cora melepaskan tangannya dari mulut pria itu. Menatap kesal pria di depannya. Kenapa dia bertemu lagi dengan pria itu. Lebih baik ia pergi daripada berurusan dengan pria itu.
"Jadi pekerjaanmu penguntit," ujar pria itu datar menaikan satu alisnya. Cora menghentikan langkah kakinya.
"Bukan urusanmu," kata Cora pergi berjalan menuju lift. Pintu lift terbuka, Cora masuk ke dalam. Cora menghela nafasnya kasar saat melihat pria itu masuk ke dalam lift. Setidaknya bukan hanya mereka berdua uang ada di dalam lift.
Pria itu memilih berdiri disamping Cora yang sedang menyandarkan punggungnya di dinding lift.
"Aish... pria ini. Kenapa dia harus ke sini coba," batinnya. Cora hendak menjauh darinya namun pinggangnya ditarik oleh pria itu.
"Mau menghindar hmm," bisik pria itu dengan tangan melingkar di pinggang Cora.
"Lepaskan tanganmu mu bodoh," bisik Cora melotot pada pria itu.
"Oppss..." pria itu melepas tangannya dari pinggang Cora dengan senyuman smirknya.
"Kamu masih punya dua utang padaku. Aku belum menagihnya," bisik pria itu.
"Cepat katakan apa yang kamu inginkan. Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi," balas Cora memasang wajah juteknya.
"Bagaimana kalau__" pria itu menghentikan perkataannya karena Cora berjalan keluar saat pintu lift terbuka. Mereka sudah tiba di lobby. Pria itu berjalan mengikuti Cora.
"Cora... Aku belum selesai bicara. Kenapa kamu langsung pergi," panggil pria itu kesal karena Cora mengabaikannya.
"Aku ingin menagih utangmu. Utang sama dengan janji bukan. Apa kamu tidak akan menepati janjimu," kata pria itu membuat langkah kaki Cora berhenti. Cora memutar tubuhnya, melihat ekspresi penuh kemenangan di wajah pria itu.
"Aku ingin kamu mentraktirku makan malam," kata pria itu mendekati Cora.
"Malam ini?"
Pria itu mengangguk.
"Baiklah.." balas Cora. Setidaknya satu utangnya terbayar dengan pria itu.
"Nanti juga kamu akan tau. Ayo.." ajak pria itu. Keduanya lalu berjalan menuju parkiran hotel.
"Tunggu dulu, aku akan membawa mobil sendiri," kata Cora.
"Tidak bisa. Kita naik mobilku saja. Bisa saja kamu kabur bukan?" ujar pria itu.
"Hei.. aku bukan orang seperti itu," ucap Cora tidak terima.
"Sudah.. ayo. Aku akan menyuruh seseorang untuk mengantar mobilmu," kata pria itu menarik tangan Cora menuju mobil mahalnya.
Pria itu lalu membuka pintu mobilnya untuk Cora.
"Thanks," balas Cora masuk kedalam mobil mahal itu.
"Ngomong-omong aku belum tahu namamu," kata Cora saat pria itu masuk ke dalam mobil.
Bukannya menjawab, pria itu mendekatkan tubuhnya pada Cora. Refleks Cora menjauhkan tubuhnya.
"Apa yang kamu lakukan?" pria itu menatap aneh pada Cora.
"Harusnya aku yang mengatakan itu," ucap pria itu menyentil kening Cora.
"Shhh.." desis Cora memegang keningnya. Pria itu lalu memasang sabuk pengaman Cora.
"Sial.. aku pikir pria ini," batin Cora dengan pikiran negatifnya.
"Nanti kita akan melakukannya saat kamu sudah siap," ujar pria itu mengedikan satu matanya. Cora membulatkan matanya.
"Dasar otak mesum," ujar Cora kesal.
"Sepertinya pikiranmu yang kotor. Memangnya kita akan melakukan apa?" kata pria itu dengan wajah polosnya menatap Cora yang terkejut.
"Ahhh.. sudahlah. Ayo cepat," kata Cora mengalihkan tatapannya dari pria itu.