
"Apa kamu tidak meminta pengawalmu untuk mengikuti mereka?" tanya Brenda setelah kepergian Cora bersama Elvis dan Gizela.
"Tidak perlu," jawab Jack menatap mobil Cora yang semakin menjauh.
"Kamu tidak takut jika Cora akan melukai mereka seperti asisten Bianca yang dulu?" tanya Brenda. Elvis dan Gizela pernah dijadikan pelampiasan kemarahan oleh asisten Bianca yang sebelumnya. Wanita itu sering mendapat tekanan dari Bianca selama bekerja. Terkadang apa yang dilakukannya selalu salah di depan Bianca. Bianca tak segan-segan mempermalukannya di depan umun hingga membalas rasa sakit hatinya pada anak-anak Bianca. Dan sejak saat itu, Jack sering memerintahkan anak buahnya untuk mengikuti anak-anaknya tanpa sepengetahuan mereka. Ia hanya ingin kedua anaknya tetap merasa nyaman.
"Tidak," balas Jack.
"Kamu percaya dengan Cora?" tanya Brenda menatap Jack.
"Entahlah.. aku ingin istirahat dulu," balas Jack masuk ke dalam rumah meninggalkan Brenda.
"Kamu tidak bisa percaya begitu saja dengan orang lain Jack," tukas Brenda. Jack tidak membalasnya.
"Jack.. apa kamu tidak ingin keluar denganku?" tanya Brenda mengikuti Jack dari belakang.
"Aku ingin istirahat Brenda," balas Jack berjalan menaiki tangga. Brenda menghela nafasnya, Jack menolaknya lagi.
"Hai Brenda..." ucap seorang wanita menepuk bahu Brenda membuat wanita itu terkejut.
"Astaga... Odelia. Kamu membuatku kaget saja," ujar Brenda.
"Kapan kamu datang?"
"Baru saja. Aron sedang pergi dan aku bosan di rumah. Dimana Elvis dan Gizela?" tanya Odelia.
"Mereka baru saja pergi ke rumah Bianca," balas Brenda.
"Sayang sekali.. apa kamu sibuk? kamu tidak ingin keluar bersama Jack kan?" tanya Odelia.
"Baru saja aku mengajaknya keluar, dia bilang ingin istirahat," kata Brenda kecewa. Padahal ia sudah datang ke rumah Jack pagi-pagi sekali.
"Benarkah? aku tidak tahu itu. Kalau begitu ayo kita pergi," ajak Brenda senang. Berbicara tentang perhiasan, Brenda salah satu orang yang suka mengoleksi perhiasan mewah.
Cora yang sedang fokus mengemudi mendengar ponselnya berbunyi. Sebuah panggilan dari nomor baru.
"Halo.." ucap Cora mengangkat panggilannya.
"Apa kalian sudah sampai?" tanya seorang pria. Siara itu tak asing baginya. Seperti suara Jack. Cora membulatkan matanya.
"Kenapa kamu diam Cora," tukas Jack.
"A.. aku. Kami belum sampai," kata Cora terbata.
"Aku titip anak-anak kita padamu sayang," ucap Jack terkekeh.
"Dasar gila," pungkas Cora mematikan ponselnya.
"Aunty.. ada apa? kenapa kamu terlihat kesal?" timpal Gizela yang duduk di kursi belakang.
"Ini karena ulah daddy kalian," batin Cora.
"Ah tidak.. tidak apa-apa sayang, hanya pria aneh saja," jawab Cora.
Sementara itu Jack yang sedang di kamarnya tertawa senang. Ia yakin Cora pasti kesal sekarang. Rasanya senang sekali membuat Cora kesal. Jack berencana menagih utang Cora. Ia berencana berkunjung ke tempat tinggal wanita itu.
Jack terkejut saat mendengar adegan intim dari layar TV di depannya. Tentu saja ia tidak akan melewatkannya.
"Sial, aku membayangkan itu bersama Cora," gumam Jack merasakan aliran darah dalam tubuhnya seolah mengalir deras.
"Sabar Jack kecil," gumam Jack mengusap miliknya yang sudah bangun. Hanya dengan membayangkan tubuh Cora saja, miliknya bisa bangun. Jack yang tidak tahan lagi memilih masuk ke dalama kamar mandinya untuk menuntaskan hasratnya.