Becoming Cinderella

Becoming Cinderella
C H A P T E R 98



Setelah keadaan Ara sudah membaik, Jevan mengajak gadis itu untuk turun ke lantai bawah, di mana keluarga dan teman mereka berada di sana. Tepatnya di samping kolam renang yang sudah dihias Ara dan Sarah tadi.


“Kamu siapain ini semua?” tanya Jevan ketika dia dan Ara tengah berjalan menuju kolam renang.


“Iya, dibantu sama Mbak Sarah.”


“Maaf, ya. Aku nggak tahu,” kata Jevan sambil mengecup pelan pelipis Ara.


Ara menggeleng. “Nggak apa-apa, Je. Aku tahu kamu kangen kumpul bareng teman-teman kamu.”


“Ara, udah mendingan?”


Saat baru sampai di area kolam renang, ibu Jevan bertanya sambil berjalan mendekat ke arah Jevan dan Ara.


“Sudah, Bu. Maaf bikin kaget tadi,” ujar Ara.


Ibu Jevan menggeleng. “Nggak apa-apa. Justru karena itu, kita semua jadi tahu kalau kamu hamil. Memangnya kamu nggak merasakan apa-apa?”


Ara menggeleng pelan. “Cuman mual aja, Bu. Saya pikir itu cuman masuk angin biasa.”


“Sekarang masih mual?”


Ara kembali menggeleng.


“Ya sudah, ayo makan sama-sama.”


Ara dan Jevan duduk di meja panjang itu. Di depan mereka ada Sarah dan Nicol yang duduk berdampingan, dan tampak canggung. Saat Jevan duduk di kursinya, saat itu pula Nicol memandanganya. Jevan menggeleng pelan. Mau sampai kapan keduanya bersikap begitu?


“Kamu udah nggak apa-apa, Ra?” tanya Sarah.


Ara mengangguk dan tersenyum. “Aku baik, kok, Mbak. Makasih, dan maaf udah ngerepotin tadi.”


Sarah menggeleng. “Nggak apa-apa kali. Aku justru senang karena sebentar lagi punya ponakan.”


“Sejak kapan anak saya jadi keponakan kamu?”


Sarah dan Ara sama-sama memandang ke arah Jevan. Ara memandang Jevan dengan tidak suka, sementara Sarah hanya bisa meringis pelan.


Jevan malah dengan santai menatap ke arah Sarah. “Kamu bisa anggap anak saya keponakan kamu, kalau kamu sudah mau bekerja kembali di kantor saya.”


Sarah menyengir lebar. “Rencananya minggu depan saya mau balik kerja, Pak. Boleh?”


Jevan mengangguk dengan semangat. “Tentu saja boleh. Karena setelah mengetahui Ara hamil, saya berpikir untuk lebih banyak di rumah daripada bekerja di kantor.”


Sarah melongo mendengarnya, sementara Ara menepuk pelan paha Jevan. “Aku nggak apa-apa di rumah. Nanti ada Ibu yang temani aku.”


“Tapi aku mau temani kamu.”


Ara tampak kembali ingin protes, namun perkataan ibu mertuanya, membuat gadis itu tidak berani membantah.


“Biarin, Ara. Mungkin Jevan memang mau dekat-dekat kamu terus. Mungkin bawaan bayi.”


“Iya, Bu.”


Sementara Jevan yang mendengarnya, hanya mampu tersenyum lebar dan memakan makanannya, membiarkan Ara yang merasa kesal karena ulahnya.


***


Kenyataannya, saat Ara hamil, Jevan benar-benar berubah. Lelaki itu bahkan hanya bekerja dua kali dalam satu minggu. Itu pun, tidak sesuai jam kerja. Lelaki itu berangkat sesukanya, dan pulang sesukanya.


Ara kesal sebenarnya, tapi dia tidak berani menyuruh Jevan bekerja karena mertuanya selalu mengawasi dirinya, dan juga kini Ara dan Jevan tinggal di rumah orangtua Jevan. Jadi, Ara takut untuk menyuruh-nyuruh Jevan.


“Je,” panggil Ara ketika dirinya dan Jevan tengah bersantai di ruang tengah sambil menonton televisi. Keduanya baru saja makan siang bersama.


“Hmm,”


“Kamu beneran mau kayak gini terus?” Ara berani bertanya, karena mertuanya sedang tidak ada di rumah.


“Apanya?” tanya Jevan setengah mengantuk. Lelaki itu meletakkan kepalanya di pangkuan Ara, dengan mata yang mengarah ke layar televisi.


“Kerja. Mau kerja malas-malasan kayak gitu?”


“Aku kerja di rumah. Lebih enak, lebih bisa awasi kamu.”


“Kan ada Ibu sama Ayah. Ada mbak juga. Jadi, kamu jangan berlebihan kayak gini.”


“Nggak mau. Lebih enak kayak sekarang.”


Ara berdecak. “Kasihan Mbak Sarah tahu. Aku hamil selama sembilan bulan, masa iya selama itu, kamu tetap malas-malasan, dan nambah bebannya Mbak Sarah?”


Kali ini Jevan menatap Ara. “Nambah beban gimana, sih, Ra? Aku kerja, kok. Cuman memang sekarang tugasnya Sarah lebih banyak. Lagi pula, dia aku kasih gaji yang lebih.”


“Tetep aja. Nggak semua bisa selesai sama uang, Je. Kamu juga tahu hal itu.”


“Kamu kerja.”


Jevan masih diam, matanya memandang Ara dengan menyipit. “Aku jadi heran. Kenapa kamu sangat ingin aku kerja. Ada sesuatu yang kamu sembunyikan, Arana?”


Ara menggeleng. “Bukan gitu,” ujarnya dengan kesal. “Aku cuman kasihan sama Mbak Sarah. Kasihan dia, Je. Kerjanya dia banyak. Meski punya gaji yang lebih, tetap aja pasti kesusahan. Seenggaknya kasih teman supaya bisa bantu dia.”


Jevan mengendikkan bahunya, dan kembali berbaring berbantal dengan paha Ara. “Kalau itu, aku udah kasih dia.”


“Oh, ya? Siapa? Sekretaris baru? Cowok apa cewek?”


“Cowok,” jawab Jevan dengan mata terpejam.


“Siapa?”


“Nicol.”


“Ya?” Ara bertanya dengan terkejut. “Mas Nicol yang aku kenal maksud kamu?”


“Hmm,”


“Kok, bisa? Mas Nicol sama Mbak Sarah udah baikan?”


“Belum.”


“Terus, kenapa Mas Nicol mau? Tunggu dulu, emang Mas Nicol bisa kerja gantiin kamu?”


“Dia lulusan yang sama kayak aku, Ara. Dan alasan kenapa dia mau adalah karena aku bilang Sarah butuh teman. Kalau dia nggak mau, aku akan cari sekretaris cowok, dan tiba-tiba aja dia bilang kalau dia akan gantikan posisiku selama apa pun aku mau.”


Ara manggut-manggut mengerti. “Kamu sebenarnya tahu kan, alasan kenapa mereka jadi kayak sekarang. Tapi, nggak mau bilang sama aku,” ujar Ara sambil memencet-mencet pipi Jevan.


“Nggak tahu,” jawab Jevan masih dengan mata yang tertutup.


“Bohong. Mas Nicol pasti bilang sama kamu. Karena dari yang aku lihat, Mas Nicol nggak punya teman dekat selain kamu, begitu pun sebaliknya.”


Lelaki itu tertawa mendengarnya. Matanya terbuka dan menatap wajah Ara yang ada di atasnya.


“Oke, kamu menang. Nicol memang bilang semuanya ke aku, tapi aku udah janji nggak bilang sama kamu. Ini rahasia antar sesama lelaki, Ara.”


Ara memberengut mendengarnya. “Awas aja kalau Mas Nicol buat sakit hati Mbak Sarah. Aku nggak mau temenan sama dia lagi.”


“Iya, terserah kamu.” Jevan menghadapkan wajahnya ke arah perut Ara, dan mengecupnya pelan. “Kamu mau anak cowok atau anak cewek?”


“Emm... kamu maunya apa?” Ara balik bertanya sambil mengusap rambut tebal milik Jevan.


“Cowok dulu, supaya bisa bantu aku jagain kamu dari lelaki di luaran sana.”


Ara tertawa mendengar jawaban jujur yang diberikan Jevan. Lelaki itu ikut tersenyum melihat Ara tertawa.


“Kamu maunya apa?”


“Cewek dulu, supaya aku ada teman buat ngerecokin kamu,” kata Ara sambil tertawa pelan, yang membuat Jevan ikut tertawa.


“Aku bahagia, Ara. Aku nggak nyangka kita berdua bisa sampai di hari ini. Aku pikir, dulu mungkin aja aku bakal kehilangan kamu. Atau mungkin aja kamu yang bakal melepaskan diri dari aku. Tapi, kita akhirnya tetap bersama sampai di hari ini. Aku bahagia. Terima kasih.” Jevan mengecup pelan perut Ara setelah akhir kalimatnya.


Sementara Ara terus tersenyum dengan tangan yang mengusap lembut rambut Jevan. “Aku juga bahagia, Je. Terima kasih karena kamu nggak pernah melepaskan aku. Karena kamu selalu ada di saat aku kehilangan Ibu. Karena kamu nggak pernah meninggalkan aku. Aku sangat bahagia. Apalagi, sekarang di dalam perutku, ada calon anak kita. Ada penerus kamu.”


Jevan bangkit dan membawa Ara ke dalam pelukannya. Bibirnya mencium pelan kepala Ara, setelahnya Jevan menyandarkan kepala Ara dengan nyaman di dadanya.


“Jangan pernah tinggalkan aku, Ara.”


“Seharusnya aku yang bilang gitu ke kamu.”


Jevan hanya tersenyum dengan tangan yang terus mengusap punggung Ara. “Aku udah pernah bilang ini belum?”


“Apa?”


“Aku mencintai kamu, Arana.”


Ara menahan senyumnya. Dia terus bersandar dengan nyaman di pelukan Jevan. “Kamu barusan aja bilang.”


“Kalau gitu, seterusnya nanti aku akan terus bilang itu. Kalau perlu setiap hari aku akan bilang itu. Aku mencintai kamu, Arana.”


Ara tertawa. “Aku tahu. Tapi, nggak usah setiap hari juga. Itu berlebihan, Je.”


 


 


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-