Becoming Cinderella

Becoming Cinderella
C H A P T E R 1



Entah Ara harus merasa bersyukur atau tidak. Keputusannya satu bulan yang lalu, benar-benar mengubah hidupnya. Menjadi wanita seorang Jevan Smith, sama sekali tidak ada dalam bayangannya.


Di negara ini, siapa yang tidak tahu Jevan Smith? Pewaris tunggal JS Group. Anak satu-satunya dari pasangan Jonathan Smith dan Helena Smith. Perusahaan besar yang sudah mempunyai cabang di berbagai negara di Asia.


JS Group juga merupakan salah satu perusahaan terbesar nomor dua di Asia. Semua pandangan selalu tertuju kepada Jevan jika menyangkut JS Group. Semua gadis di negara ini, pasti akan tergila-gila dengan Jevan.


Selain dianugerahi wajah tampan dan kekayaan yang berlimpah, Jevan juga memiliki otak cerdas, menurun dari sifat sang ayah. Tidak heran, berkat kepemimpinan Jevan selama dua tahun terakhir, JS Group bahkan kini mulai melebarkan usahanya sampai ke benua lain.


Jika kalian pikir, Ara akan diperlakukan layaknya seorang putri raja, kalian salah besar. Menjadi wanita Jevan hanya berlaku saat mereka berdua saja di rumah dan di ranjang. Bukan di hadapan orang banyak. Jevan harus tetap menyembunyikan hubungan mereka karena perbedaan status sosial.


Dia akan memandang Ara dengan lembut begitu mereka selesai melakukan kegiatan di ranjang. Ya. Pada akhirnya Ara bersedia menyerahkan dirinya untuk pertama kalinya kepada Jevan. Padahal, hubungan mereka masih belum jelas.


“Kopiku mana, Ra?”


Ara menoleh ke belakang. Di sana, Jevan tengah duduk di kursi meja makan sambil mengenakan dasinya. Selama satu bulan ini, Ara memang diperintahkan Jevan untuk tinggal di rumah lelaki itu.


“Ini,” ujar Ara sambil meletakkan secangkir kopi hitam panas di meja.


Gadis itu memandang bimbang kepada Jevan yang tampak kesulitan mengenakan dasinya.


“Mau aku bantu?” tanya Ara sambil menggigit bibirnya ragu.


Jevan menghentikan aktivitasnya. Lelaki itu menatap Ara dengan pandangan lapar. Sial. Padahal mereka baru saja melakukan kegiatan itu tadi pagi. Kini, saat Jevan melihat Ara yang tengah menggigit bibirnya, dia jadi menginginkan gadis itu kembali.


Segera saja Jevan menarik Ara untuk duduk di pangkuannya. Walau terkejut, Ara akhirnya mengarahkan tangannya untuk merapikan dasi yang Jevan kenakan. Saat gadis itu begitu fokus pada dasinya, Jevan tidak berhenti menatap Ara dengan pandangan matanya yang tajam.


“Kamu sengaja menggodaku?”


Ara menatap tepat ke arah mata tajam Jevan. Gadis itu menampilkan ekpresi bingung.


“Menggoda kamu gimana?”


Jevan menggeram marah. Segera saja Jevan menyambar bibir mungil Ara dengan bibirnya. Jevan menghela napas lega, setelah bibirnya menemukan pasangannya. Mereka berciuman cukup lama, sebelum Ara melepaskan pagutan antara mereka lebih dulu. Jevan menatap Ara dengan protes.


“Nanti kamu terlambat,” ujar Ara begitu mengetahui Jevan akan memarahinya.


Jevan mengembuskan napasnya kasar. Apa yang dikatakan Ara memang benar. Seandainya saja hari ini dia libur, dia tidak akan merasa cukup hanya dengan sebuah ciuman. Dia menginginkan Ara.


Jevan akhirnya memilih menyembunyikan wajahnya di lekuk leher Ara. Mencium aroma khas gadis itu.


“Je,” panggil Ara dengan pelan dan berusaha menjauhkan kepala Jevan dari lehernya.


Jevan menatap wajah Ara lalu mengembuskan napasnya pelan. Lelaki itu mendudukkan Ara di kursi di sampingnya. Tangannya terulur meraih secangkir kopi dan menyeruputnya.


“Kamu berangkat naik apa?” tanya Jevan sambil memakan roti isi yang disiapkan Ara.


“Seperti biasa. Aku naik ojek.”


Sudah satu bulan lamanya, Ara bekerja di perusahaan yang Jevan pimpin. Jangan berharap Ara akan menjadi sekertaris Jevan. Dia hanya seorang office girl.


Walau Jevan sudah mengklaim dirinya sebagai wanitanya, Jevan tidak bisa bertindak sesukanya. Ijazah yang dimiliki oleh Ara hanya ijazah SMA. Bisa masuk ke perusahaan besar walau hanya dengan ijazah seadanya, sudah merupakan keajaiban untuk Ara. Walau masih ada campur tangan Jevan di dalamnya.


Dahi Jevan tampak mengerut tidak suka. Membayangkan Ara berada satu motor dengan orang lain, membuat sesuatu dalam dirinya tidak terima.


“Hari ini kamu berangkat sama aku.”


Ara tersedak roti yang tengah dia kunyah. Jevan yang melihat itu berdecak.


Ara meminum teh pemberian Jevan. Gadis itu menatap Jevan dengan heran. “Kamu tadi bilang, aku harus berangkat sama kamu?”


Jevan hanya mengangguk.


“Nanti kalau kelihatan yang lain, gimana? Lagi pula, aku udah biasa naik ojek, kok.”


Jevan memberikan tatapan tajamnya kepada Ara. “Kamu membantah perkataanku?”


Ara buru-buru menggeleng. “Bukan gitu maksud aku,” ujarnya pelan.


“Pokoknya, mulai hari ini kamu berangkat sama aku dan aku nggak mau dengar penolakan.”


“Kalau kelihatan yang lain, gimana?”


“Jangan sampai kelihatan. Simple, kan?”


Ara hanya bisa diam dan mengembuskan napasnya pelan. Mau bagaimana lagi, dia harus mencari ide supaya tidak ketahuan pegawai lain. Jevan memang seperti itu. Egois dan tidak punya perasaan.


Kini Ara tengah berada di dalam mobil bersama Jevan. Bukan hanya mereka berdua di dalam mobil itu. Ada satu sopir Jevan di sana. Jevan si anak sultan, memang tidak biasa membawa mobil sendiri.


“Em... Je,” panggil Ara dengan ragu.


Jevan, yang tengah memeriksa E-mail dengan tablet di tangannya, menoleh kepada Ara.


“Ada apa?”


Ara menatap takut-takut kepada Jevan. “Aku turun di pertigaan aja, boleh?” tanyanya memelas.


Jevan ingin tertawa melihat ekpresi Ara. Gadis ini memang benar-benar menggemaskan. Dia begitu takut ketahuan oleh pegawai yang lain.


“Kenapa?” tanya Jevan, berusaha mempertahankan ekpresi datar di wajahnya.


“Je, aku nggak mau ketahuan sama yang lain. Boleh, ya?” tanya Ara penuh harap. Sopir Jevan biasanya akan menurunkan Jevan di depan lobi utama. Tempat para pegawai berkeliaran. Jika Ara ikut turun di sana, bisa dibayangkan bagaimana reaksi yang akan ditunjukkan semua orang kepada Ara. Mereka jelas tidak akan berani menggosipkan Jevan. Paling hanya Ara yang akan menjadi sasaran empuk.


“Tapi aku punya syarat.”


Ara mencebikkan bibirnya.


“Kenapa?” tanya Jevan saat melihat bibir Ara dimajukan. Apakah gadis itu tengah menggodanya?


“Syarat dari kamu selalu macam-macam,” ujar Ara sambil memandang protes ke arah Jevan.


“Nggak mau, nggak apa-apa. Kita turun di lobi.” Jevan berpura-pura kembali menekuni tablet di tangannya.


“Eh.” Ara spontan memegang lengan Jevan, yang membuat laki-laki itu kembali menatap Ara.


“Apa syaratnya?” tanya Ara pelan.


Senyum kemenangan terbit di wajah Jevan. Sudahkah Jevan katakan bahwa melihat kepasrahan Ara, merupakan kesenangan tersendiri untuknya?


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-