
Kandungan Ara sudah memasuki bulan ketiga, gadis itu tampak sangat menikmati masa-masa kehamilannya. Apalagi, mertuanya dan Jevan sangat antusias dengan kehamilannya.
Jevan sudah bekerja seperti biasa. Ara yang memaksa dengan mengatakan ini keinginan bayi mereka. Padahal, sejujurnya Ara hanya tidak mau melihat Jevan terus bermalas-malasan. Meski lelaki itu hanya bekerja sampai jam makan siang tiba, dan weekend yang menjadi waktu untuk benar-benar di rumah.
“Mau ke mana?”
Ara menoleh ke arah Jevan yang tengah berbaring di ranjang. “Mau bantu mbak masak buat makan malam.”
Jevan menggeleng. Lelaki itu bangkit duduk, dan menatap Ara tajam. “Nggak. Kamu di sini aja. Udah banyak yang bantu mbak masak. Ada Ibu juga.”
Gadis itu mengerucutkan bibirnya. “Je, aku hamil, bukan sakit keras. Bantu masak nggak akan buat anak kita kenapa-napa.”
Jevan tetap menggeleng tegas. Lelaki itu berdiri dan berjalan ke arah Ara, lalu menarik gadis itu untuk kembali ke ranjang. “Tetap aja. Dapur itu area berbahaya. Kamu bisa aja terpeleset, atau tangan kamu bisa teriris pisau, dan bisa aja kamu nggak sengaja kena air panas. Itu bayaha, Ara.”
Ara mengembuskan napasnya pelan. “Oke, aku nggak akan ke dapur. Tapi, aku bosan, Je. Dari tadi nggak ngapa-ngapain.”
“Mau belanja?”
Gadis itu menggeleng.
“Aku heran, Ra. Kenapa kamu beda sama ibu-ibu hamil pada umumnya?” ujar Jevan bingung.
“Beda di mananya?”
“Kamu nggak pengen sesuatu pun, selama ini. Padahal, dari yang aku baca di google, ibu hamil biasanya pengen sesuatu yang aneh-aneh. Kamu beneran nggak merasakan itu sama sekali?”
Ara tertawa mendengarnya. “Bukannya itu bagus buat kamu? Aku sama anak kita, nggak mau bikin kamu repot,” ujarnya.
Jevan malah cemberut mendengarnya. Tangannya terulur mengusap lembut perut Ara. “Padahal, aku juga mau direpotin sama kalian,” balasnya pelan yang membuat Ara tersenyum.
“Jadi, kamu beneran mau direpotin?”
Jevan menatap ke arah Ara dengan antusias, lelaki itu bahkan mengangguk beberapa kali. “Mau. Kamu pengen sesuatu?”
Ara mengangguk sambil tersenyum.
“Apa?”
“Masak.”
Binar antusias hilang dari pandangan Jevan. Lelaki itu mengembuskan napasnya pelan, lalu menggeleng dengan tegas. “Kalau yang itu nggak bisa.”
Ara berdecak. “Kamu, tuh. Tadi katanya mau direpotin,” ujarnya sambil memukul pelan paha Jevan.
Sekali lagi, Jevan menggeleng dengan tegas. “Yang lain aja? Atau kamu mau aku yang masak?”
Ara tertawa. “Mana bisa kamu kalau masak.”
Jevan ikut tertawa. “Bisa, masak air,” ujarnya sambil tertawa, yang membuat keduanya tertawa bersama.
“Ada apa, Mbak?” tanya Jevan kepada salah satu asisten rumah tangga orangtuanya.
“Ada telepon dari kepolisian, Tuan.”
Kening Jevan mengernyit. “Polisi? Ada apa?”
“Saya nggak tahu, Tuan. Telepon masih tersambung di bawah.”
Jevan mengangguk. “Ya sudah, makasih. Kamu bisa balik bekerja.”
“Mari, Tuan.”
Jevan menoleh ke arah Ara yang berjalan ke arahnya. “Ada telepon dari kepolisian,” ujarnya.
“Yaudah, buruan diangkat. Takutnya ada apa-apa.”
Jevan mengangguk, dan berjalan bersama Ara menuju lantai bawah, di mana telepon rumahnya berada.
Jevan menerima telepon dari kepolisian itu, dengan Ara yang duduk sambil melihatnya dari sofa. Gadis itu tampak sangat ingin tahu.
Beberapa saat kemudian, Jevan meletakkan kembali telepon ke tempatnya. Wajahnya tampak gusar saat berjalan menghampiri Ara.
“Ada apa, Je?” tanya Ara yang tiba-tiba saja merasa sesuatu yang buruk telah terjadi.
“Tiga hari yang lalu, aku nyuruh Sarah sama Nicol ke luar kota untuk urusan pekerjaan. Mereka kembali hari ini, tapi polisi bilang mereka mengalami kecelakaan, Ara.”
“Astaga.” Ara membekab mulutnya karena terkejut. “Terus sekarang keadaan mereka gimana?”
“Aku nggak tahu. Aku harus ke rumah sakit sekarang, Ara.”
“Aku ikut.”
Jevan tampak keberatan. “Jangan. Kamu di rumah aja. Besok aja ke sana.”
Ara menggeleng dengan mata yang berkaca-kaca. “Aku mohon, Je. Aku mau lihat keadaannya Mbak Sarah.”
“Tapi, kandungan kamu...”
“Kami nggak apa-apa selama ada didekat kamu.”
Jevan akhirnya mengangguk. “Aku ke atas dulu ambil jaket sama dompet.”
***
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-